
Di dalam ruangannya Hendrik hanya bisa diam menatap Rindi yang memainkan tisu membersihkan hidungnya yang berdarah setelah ditendang oleh Shin.
"Ayang memikirkan apa?" Rindi berjalan mendekati Hendrik yang menunjukkan ekspresi datar.
"Kenapa Irish diam saja? apa tujuan dia?"
"Menunggu perintah, jika Melly mengatakan serang maka bisa terjadi peperangan." Kepala Rindi celingak-celinguk melihat ke arah luar, melihat banyak orang di lapangan yang ditahan.
Rindi meralat ucapannya, Genta berada di atas Melly saat ini sehingga tidak akan ada peperangan.
Kedua tangan Hendrik mengacak-acak rambutnya, dirinya tidak perduli soal Melly karena Genta tidak mungkin memberikan kesempatan lolos, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal perasaan Hendrik.
"Ayang kenapa gelisah sekali?" tangan Rindi menyentuh dada Hendrik yang berdegup kencang.
Senyuman Rindi terlihat, masuk ke dalam pelukan yang membuat Hendrik semakin pusing.
"Ayang mengkhawatirkan Irish dan Shin, Ayang benar mereka terikat satu sama lain. Jika Irish ingin hidup dia harus membunuh Shin, begitupun sebaliknya. Ini sudah tertanam sejak Shin kecil." Senyuman Rindi terlihat menatap Dokter dingin dihadapannya.
"Kenapa baru mengatakan sekarang? aku dari tadi memancing kamu untuk bicara."
"Ayang mancing? ikannya di mana? Rindi baru ingat jika Irish harus membunuh Shin dengan cara suntikan mematikan." Tawa Rindi terdengar meminta Dokter dingin dihadapannya tenang.
Hendrik menepis tangan Rindi, memintanya tetap diam dan tidak melakukan apapun di ruangannya. Rindi langsung meletakkan segala yang dirinya pegang, berdiri diam menunggu.
Di dalam ruangan penjagaan ketat, Irish sudah ditahan. Shin juga ada di sana duduk diam menatap Irish yang masih tersenyum manis menatap Shin yang menyedihkan.
"Di mana Papa Ma?"
"Kenapa kamu bertanya? sekarang kamu sudah tahu jika hanya anak yang disandera." Tawa Irish terdengar mengejek Shin.
"Papa di mana Ma? kenapa Papa pergi meninggalkan kita?" Shin mengulangi ucapannya, bahkan lebih dari lima kali.
Irish langsung berdiri, mendekati Shin yang matanya sudah merah. Seandainya Shin tahu jika Papanya yang sudah menyebabkan hidupnya menderita, dia lepas tangan soal Shin sehingga Ayah Rindi mengambil alih bersama Melly.
Jika Irish ingin sudah lama dia membunuh Shin yang hanya menjadi beban, sejak bayi selalu menangis membuat hidup Irish menderita.
Shin gadis yang menyusahkan sampai dirinya besar juga tetap menjadi petaka bagi banyak orang.
__ADS_1
"Kamu sadar tidak kematian orang tua kamu karena siapa? itu karena kamu!" Irish mengingatkan kembali Shin kepada kecelakaan orangtuanya.
"Bukan salah Shin Ma,"
"Sekarang siapa yang kamu buat menderita? Genta akan hidup dalam kesulitan hanya untuk mengurus kamu. Pertemuan kalian tidak membawa bahagia, namun petaka." Irish membuat air mata Shin menetes.
Kepala Shin menggeleng, seharusnya Irish meminta maaf kepadanya bukan semakin menjatuhkan mentalnya. Shin tidak berniat menyakiti Irish, dia hanya ingin permintaan maaf.
"Aku tidak akan meminta maaf kepada kamu karena pada kenyataannya petaka ini terjadi karena kamu memaksa untuk lahir." Irish meminta Shin menjauhi semua orang agar tidak ada yang menderita.
"Dia bukan kesalahan, hadirnya Shin kebahagiaan kami. Mama dan Papa sangat bahagia menyambut Shin, begitupun dengan aku." Genta merangkul Shin untuk berdiri.
Tangisan Shin terdengar, memeluk erat Kakaknya yang meyakinkan Shin jika semua ucapan orang salah. Hadirnya Shin bukan petaka bagi siapapun, tapi dia kebahagiaan dan sumber bahagianya Genta.
Tidak ada alasan bagi Genta untuk lebih kuat lagi tanpa Shin, jika saat ini dirinya ingin bahagia, maka Shin salah satu orang yang harus mendampinginya untuk bahagia.
"Jangan pernah berpikir ini salah kamu, tidak ada yang salah saat Allah menguji kita." Kedua tangan Genta mengusap wajah adik perempuannya.
"Kak Genta baik-baik saja,"
"Beginilah hidup Shin, kamu tidak bisa selamanya bahagia atau selalu berduka. Saat ini Kak Genta binggung, tapi Kak Gen percaya ada pelangi setelah hujan, dan kamu alasan pelangi indah itu muncul dalam hidup Kak Gen." Senyuman Genta terlihat, memeluk lembut adik kesayangannya.
Senyuman Tika terlihat, merasa bahagia melihat Shin yang berada di dalam lindungi lelaki baik. Tika juga kagum dengan kejujuran Genta yang tidak mengatakan jika dirinya baik ataupun buruk.
"Bahagia kamu hanya sesaat Genta,"
"Aku tidak peduli Irish, kamu tidak harus tahu rencana masa depan kami. Kepercayaan kamu yang hanya menyakini kami gagal, akan berbalik kepada diri kamu sendiri." Genta meminta Irish menjaga dirinya sendiri karena Genta akak memastikan penjara seumur hidup untuknya dan Melly.
Tatapan mata Irish tajam, Genta tidak bisa memenjarakan dirinya karena segala kesalahan dan dalang dari masalah Melly.
"Siapa yang mengatakan kamu tidak terlibat?"
Kasus penculikan Shin juga Genta buka kembali, orang-orang yang terlibat kejahatan di masa kecil Genta akan diseret kembali. Meskipun Lian orang yang menyebabkan kecelakaan, dan juga dalang penculikan.
Irish tetap terlihat, karena dia orang yang menutupi kejahatan Lian, dan soal melakukan operasi secara ilegal untuk kesembuhan Rindi akan di buka juga karena ada banyak operasi ilegal yang dilakukan oleh Lian dan dibantu oleh Liana.
Orang yang memberikan perintah memang Melly, namun semua bawahan Melly terlibat juga berkewajiban bertanggungjawab.
__ADS_1
"Ayo kita keluar dari sini Shin,"
"Di mana Papa Kak?" Shin melepaskan genggaman tangan Genta, masih menatap Irish yang sudah menangis memohon kepada Genta.
Tatapan Genta melihat tangannya dilepaskan oleh Shin, pertanyaan Shin soal Papa tidak bisa Genta mengerti.
"Shin, kita keluar dulu dari sini." Tika menarik tangan Shin untuk pergi menjauh.
"Aku harus menemukan Papa Tik, hanya Irish yang tahu keberadaan Papa." Shin menepis tangan Tika sangat kuat.
"Papa siapa? Mama dan Papa kamu sudah tiada. Irish dan mantan suaminya hanya orang yang memanfaatkan kamu!" suara teriakan Tika terdengar, meminta Shin sadar jika Keluarganya yang tersisa hanya Genta.
Dari tangga, Hendrik memperhatikan Shin dan Tika yang sedang berdebat. Pembicaraan keduanya tidak menemukan titik sama sekali, sampai terbawa emosi.
"Aku harus menemukan Papa Tik, harus." Shin menarik kerah baju Tika.
"Jangan bodoh, kamu ingin membuat masalah apa? sebenarnya apa yang dicari dari manusia sialan itu?" Tika mencekik kuat.
Pintu ruangan Hendrik terbuka, Rindi mondar-mandir menunggu dirinya diminta keluar. Juna masih binggung memperhatikan Rindi yang bicara sembarangan, namun memiliki arti yang cukup besar.
"Apa yang kamu bicarakan?" Juna mencoba mendekati Rindi.
Kedua tangan Rindi melambai, meminta Juna mendekati dirinya karena Hendrik tidak mengizinkan Rindi pergi meskipun hanya selangkah sehingga Juna yang mendekat.
"Rindi punya rahasia, suami Juna harus tahu jika ingin menolong Shin." Rindi bicara sangat pelan.
"Apa?"
"Papa dia membawa sesuatu yang ditinggalkan oleh Irish untuk Shin, dan benda itu milik Mama kandung Shin."
"Apa? aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?"
"Juna bodoh," bibir Rindi monyong menatap sinis Juna.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1