
Pukulan kuat menghantam dinding, Genta mencekik seorang wanita terakhir yang Juna temukan di kamar hotel. Dia berusaha menghentikan Juna yang ingin menolong Shin.
Kunci jawaban terakhir ada padanya, mantan perawat yang mengalami kecelakaan dan menjadi bisu permanen. Genta yang biasanya tenang memilih bermain kekerasan demi mendapatkan kejelasan informasi.
"Kamu tidak bisa bicara, dan aku akan membuat kamu sekalian buta." Genta benda tajam diarahkan ke mata membuat beberapa orang yang melihat terpejam.
"Aku akan mengatakannya,"
Jarum panah menancap di dinding, Genta tahu siapa yang memberikan suntikan kepada hacker. Setelah mengusut dalam Dina, hacker dan perawat komplotan untuk menyerang Shin dan Tika.
Setelah mendapatkan kebenaran barulah Genta melangkah pergi, meninggalkan tahanan yang sudah tergeletak pingsan karena mendapatkan tamparan.
"Genta kamu memukul perempuan?" Gemal mengikuti Adiknya yang terlihat meluapkan amarah.
"Kak Gemal tidak tahu saja jika aku dan Tika bahkan pisah kamar, kita tidak tegur sapa, melihat kondisi Shin trauma semakin membuat aku hampir gila. Itu belum sepadan dengan tamparan." Genta sudah tidak tahan lagi bermain lembut, melihat Tika yang nekat menjadikan Reza pukulan banyak orang menyadarkan Genta betapa istrinya terluka mencoba bertahan dengan melawan perasaan.
"Memukul sampai pingsan, bagaimana jika dia gegar otak?"
"Aku berniat membunuhnya,"
Senyuman Gemal terlihat, mengacak-acak rambut Adiknya yang ternyata kasar juga jika menyangkut keluarganya.
Mobil Gemal menuju rumah sakit kembali, di sana masih berkumpul karena masih belum puas karena Reza sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepada Shin.
Keributan terdengar di kamar Reza, suara Isel mengoceh seperti dengungan nyamuk yang tidak ada rem.
"Dia anak siapa? kenapa berisik sekali?" Reza memijit kepalanya menatap Isel yang berdiri di atas kursi.
"Dia kawan Kak Indi, namanya Isel aslinya ...."
"Ghiselin Alina Leondra, itu namanya Isel tahu." Senyuman centil terlihat membuat Diana gemes ingin menelannya hidup-hidup.
"Kawan, kenapa berteman dengan anak kecil Kak? Adiknya Reza tidak nakal seperti dia." Kepala Reza geleng-geleng memikirkan kondisi Adiknya yang sudah melakukan operasi.
Semua orang kaget karena Reza memiliki Adik, Rindi jauh lebih kaget lagi. Tidak tahu Papinya meninggalkan anak di mana saja sehingga ada anak lain lagi.
__ADS_1
"Dia Putri keluarga yang menolong Eza dari kebakaran. Keluarga kecilnya kecelakaan beberapa tahun yang lalu, Rara mengalami koma. Eza punya hutang kebaikan kepada keluarga Rara." Reza langsung menepis pikiran buruk kakaknya.
Reza juga baru tahu jika Kakaknya sakit, Hendrik sudah menjelaskan kepada Reza kondisi Rindi, jadi tidak heran jika caranya berbicara di luar nalar orang dewasa.
"Oh, Rindi pikir Papi punya anak lain lagi. Tidak masalah, berarti sekarang kita tiga bersaudara." Senyuman Rindi terlihat, mengusap kepala Adiknya untuk bangkit bersamanya.
Papa Calvin menemukan pasien yang di operasi oleh Juna, kondisinya membaik dan banyak perkembangan. Juna sudah meneliti kondisi pasien sekitar tiga tahun dan baru menemukan titik terang penyembuhnya.
"Rara pasti kesepian selama ini, dia tidak memiliki teman dan pastinya binggung sudah melewati delapan tahun dengan cepat." Reza menatap Papa Calvin yang langsung diam menatap kesedihan Reza.
"Dia sudah belajar bicara, belajar makan, dan kemarin sudah berjalan keluar menggunakan kursi roda." Papa Calvin menatap Diana, menyerahkan laporan untuk mencari tahu siapa orang yang menjaga Rara.
"Dia Hana, aku meminta bantuan Hana untuk menjaganya selama Reza di penjara. Dia membutuhkan seseorang yang lembut, dan memiliki kesabaran." Arjuna yang baru tiba meminta semua orang pulang dan tidak berlama-lama di rumah sakit.
Tatapan sinis semua orang terarah kepada Juna, dia baru saja memuji Hana wanita yang lemah lembut, berarti semua wanita di keluarga tidak ada kelembutan sama sekali.
Hana saja yang seperti kucing mengemaskan penuh kelucuan, sedangkan yang lainnya seperti harimau yang mematikan.
"Ayo kita pulang." Diana berjalan lebih dulu, diikuti oleh Aliya, dan Isel yang berjalan seperti vampir.
"Shin, jangan salah paham. Aku tidak memuji hanya saja itu ...."
"Itu fakta, Kak Ana memang wanita yang sempurna. Sudahlah Shin pulang dulu, kenapa juga aku harus selalu ke rumah sakit?"
Atika dan Rindi sama-sama berdiri, mata keduanya bertemu. Tika menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Shin dan Reza secara langsung karena sudah menyakiti.
Senyuman Rindi terlihat, merangkul Tika untuk keluar bersama. Meskipun Tika kasar, Rindi sangat memahaminya karena mereka memiliki sikap yang sama.
"Apa Juna salah lagi?"
"Ucapan kamu yang salah Juna, sudah tahu para wanita di sini sensitif. Kamu puji wanita luar cantik, langsung berubah mereka menjadi kuntilanak di rumah." Altha melangkah keluar bersama Hendrik meminta Reza beristirahat.
"Tunggu, kenapa semuanya pergi? ini pasien dengan siapa? astaghfirullah, sabar Juna." Kepala Juna geleng-geleng ingin melangkah pergi, tapi Reza memanggilnya.
Juna langsung duduk mendengar Reza yang mengucapkan terima kasih untuk Rara, meksipun Juna dalam keadaan marah dia tidak menyakiti Rara yang pastinya membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
__ADS_1
Reza juga meminta maaf atas perbuatannya yang melibatkan Shin, seandainya sejak awal dia memperingati Juna mungkin tidak akan ada kejadian di hotel.
Dengan penuh rasa bersalah Reza mengakui dirinya yang menyebabkan Shin terluka, tapi sejujur-jujurnya Reza tidak pernah melihat Shin apalagi seperti yang ju a tuduhkan.
"Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang terjadi? siapapun boleh menyakiti aku, boleh merusak mental aku, tapi tidak dengan keluarga. Shin bagian dari hati aku, melihatnya tersakiti sama saja kalian membunuh aku." Juna tidak merasa bersalah memukul Reza, dia tidak menyesalinya.
"Maafkan aku Jun, baik untuk masa muda kita, maupun yang baru terjadi. Aku harap kita akan bertemu suatu hari sebagai teman. Aku ingin dengan bangga mengatakan kepada banyak orang, dokter jenius itu sahabatku." Air mata Reza menetes, mempersilahkan Juna membujuk istrinya yang sedang merajuk.
"Aku juga menantikan, koki hebat itu sahabatku. Cepatlah sembuh, jenguk Rara dan tunjukkan kepadanya indahnya dunia. Kamu sudah bekerja keras untuk kesembuhan dia, maka jangan pernah menyerah sampai impian kamu terkabul." Juna meninggalkan sebuah earphone agar Reza bisa tidur dengan tenang, jika Keluarganya berkunjung mungkin gendang telinga bisa pecah sebelum mereka sampai.
Mata Reza terpejam, membiarkan Juna keluar menutup pintu pelan. Dugaan Juna benar keluarga masih ada di depan pintu dengan perdebatan panjang mereka melihat Rara yang berada di kursi roda.
Kedatangan Genta menjadi pusat perhatian, memeluk Shin sangat erat mengusap kepalanya sambil menangis.
"Maafkan Kak Genta yang tidak bisa melindungi kamu,"
"Jangan peluk Shin, rasanya tidak nyaman. Aku baik-baik saja." Shin melepaskan pelukan Genta, menundukkan kepalanya masih merasa bersalah.
Pelukan Gemal juga mendarat, menyakinkan Shin jika tidak terjadi apapun kepadanya karena perawat menyukai Reza dan lupa dengan Shin.
Pelukan Shin juga erat sambil tersenyum lebar, kening Diana berkerut melihatnya karena Shin menolak Genta, tapi menyambut suaminya.
"Sudah, kalian pikir kita penonton,"
"Kak Di masih cemburu,"
"Tentu, ketampanan aku masih awet. Dia takut tersaingi." Gemal memeluk istrinya yang memukul kepalanya.
"Apa kak Genta ada salah?"
"Ya, Kak Gen menyakiti sahabat Shin." Shin tersenyum menatap Tika yang mengulurkan tangannya kepada Rara memberikan sebuah cemilan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1