ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENOLAK MENIKAH


__ADS_3

Malam-malam Juna baru pulang, melihat Maminya yang masih belum tidur. Duduk sendiri di dalam kegelapan malam.


"Mam,"


"Beberapa hari ini Mami perhatian kamu sering sekali ke rumah kosong, kenapa Jun?"


Lampu dihidupkan, Juna menatap Maminya yang fokus melihat ke arah seserahan yang sudah dipersiapkan.


Melihat Maminya yang dingin, Juna hanya berdiri tidak berani banyak tanya. Jika Maminya sudah diam, berarti ada banyak hal yang dipikirkan.


"Kamu tahu jika besok kita akan berkunjung ke rumah keluarga Hana? kita akan memutuskan hubungan kalian?" Al menatap Juna yang menundukkan kepalanya.


Beberapa minggu ini Aliya sedang kecewa terhadap Putranya yang tidak punya pendirian juga kepastian, Al sudah memberikan banyak waktu dan menunggu jawaban Juna.


"Kamu ingin mempermalukan keluarga kita?" suara Aliya tinggi membentak Juna yang masih tertunduk diam.


Barang-barang di atas meja berhamburan di lantai, Juna mengangkat kepalanya melihat tangan Maminya tidak ingin ada luka.


Di lantai atas Juan dan Ria menjadi penonton, sedangkan Altha tidak ada di rumah karena tugas pertemuan dengan orang-orang penting.


Pintu kamar Tika terbuka, langsung berlari melihat ke arah bawah. Parsel sudah berhamburan, isinya keluar dan rusak semua.


Tidak ada yang berani turun, melihat Maminya marah pertama kali kepada Juna yang di depan mereka semua.


"Apa yang terjadi?" Tika menatap Ria dan Juan.


"Kak Juna menolak menikah, dijodohkan dan tunangan dengan Kak Ana." Ria merasa kasihan kepada kakaknya yang dimarah.


Bentakan Aliya semakin meninggi, saat semuanya sudah dipersiapkan Juna dengan mudahnya mengirimkan pesan jika dia tidak bisa menerima.

__ADS_1


Tidak ada jawaban sama sekali, Juna yang dulu selalu mengatakan maaf dan meminta Maminya melakukan apapun dan dia hanya akan mengikuti.


"Kenapa secara tiba-tiba mengubah pikiran? kamu tahu hubungan baik kita dengan Helen seperti apa?"


"Ya Mami, aku sangat mengetahui sehingga itu aku berhenti. Juna tidak bisa menikahi Ana, aku hanya akan menyakitinya." Juna bicara dengan lantang, tidak menyesali keputusannya.


"Kenapa baru sekarang?"


Kepala Juna menggeleng, dia juga tidak tahu kenapa hatinya berubah. Tidak ada yang salah dari Hana, dia wanita baik, taat ibadah, sopan santun, penyayang. Dia wanita impian setiap lelaki, Juna pria paling bodoh sudah menolaknya.


Wanita terhormat, dari keluarga baik, memiliki hubungan erat dengan keluarganya. Juna sangat mengakui baik buruknya keputusan yang sudah dirinya ambil.


"Tanpa niat merusak nama baik keluarga, tidak ada niat Juna memperburuk keadaan, merusak kebersamaan, apalagi menjatuhkan harga diri siapapun. Juna hanya memilih apa yang hati Juna inginkan." Dengan penuh keyakinan Juna mengulangi ucapannya di depan Aliya dan Adiknya jika dirinya tidak bisa menikahi Hana.


Sejak kecil Juna hanya menggunakan otaknya dalam mengambil perhitungan, dia harus menggunakan kecerdasannya untuk disetiap bertindak. Saat memilih pasangan Juna juga menggunakan otaknya jika Hana wanita yang tepat untuk mendampinginya dari segala segi, tapi saat Juna mengunakan hatinya dia tidak menemukan kenyamanan, tidak memiliki keyakinan, dan tidak memiliki tujuan.


"Mi, Juna lelaki bodoh sekali. Bukan Hana yang kurang, Juna yang tidak pantas untuknya Mi. Maafkan Juna, pertama kalinya Juna tidak bisa mengikuti harapan Mami. Hati tidak merasakan bahagia." Juna berlutut di kaki Aliya, mencium kakinya meminta maaf tidak bisa menjadi anak yang baik seperti harapan Maminya.


Alt sangat menghargai setiap keputusan Aliya yang tahu pilihan terbaik untuk anak-anaknya, Altha sudah mengetahui soal penolakan Juna, dan menganggap putranya memang bodoh.


"Papi, bantu Kak Juna." Ria merengek mencemaskan Kakaknya.


"Biarkan saja, itu salah dia sendiri." Altha berdiri menonton dari lantai atas melihat cara Aliya mengalah kepada anaknya.


Al menarik tubuh Juna untuk berdiri, ada air mata di pelipis mata Juna yang kecewa kepada dirinya sendiri karena sudah mengecewakan Maminya.


"Nak, Mami tahu kamu akan melakukan ini? Mami hanya lelah menunggu kamu mengakhirinya. Berpura-pura menyukai, tapi hati kamu menolak. Mami bisa menghentikan apapun, tapi tidak dengan rumah tangga kamu. Mami ingin Juna menikahi wanita yang ada di hati bukan hanya sekedar menemani hidup." Al memeluk erat Putranya, puas dengan keputusan Juna meksipun dia mengambil resiko mencintai wanita setengah gila.


"Mami tidak marah?"

__ADS_1


"Tidak, Mami akan menyelesaikan hubungan kamu dan Hana. Kita akhiri secara baik-baik, dan Juna pilih siapa wanita gila yang ada di hati kamu." Al mencium kening, meminta Juna mengganti uang yang habis untuk membeli seserahan.


Kepala Juna menunduk malu, Maminya benar ada wanita aneh di hati Juna yang membuatnya galau tidak karuan.


"Mi, Juna sayang Mami. Terima kasih sudah selalu mengerti Juna, I love you Mami. Juna tidak akan mengecewakan Mami." Senyuman lebar terlihat, memeluk erat ibu sambung yang terasa seperti ibu kandung.


"Mami berharap wanita itu tidak nakal seperti Ria, tidak keras kepala seperti Tika, tidak berantakan seperti Isel ...." Al melihat pintu rumah terbuka, senyuman Shin terlihat nyegir tidak menyangka jika semua orang belum tidur.


Semua orang melihat ke arah Shin yang terlihat kelelahan, dia melakukan joging di tengah malam bahkan larut malam.


"Terutama jangan wanita seperti Shin, sudah nakal, keras kepala, suka membuat masalah, lebih parah lagi masuk rumah seperti maling." Al memijit pelipisnya melihat Shin yang menerobos masuk seperti rumahnya sendiri.


"Kenapa Shin? sudah lama kamu tidak joging biasanya hati kamu pasti sedang gelisah." Tika menuruni tangga mendekati sahabatnya yang ngos-ngosan.


Kepala Shin menggeleng, tidak penting apa yang dirinya lakukan. Shin memiliki sesuatu yang ingin dibahas dengan Tika, kemungkinan besar Kakaknya Genta dalam bahaya.


Altha menuruni tangga, meminta Shin menjelaskan apa yang terjadi kepada Genta. Alt tahunya Genta sudah libur bekerja, dan tidak mungkin ditugaskan lagi.


"Tidak tahu Papi, Shin hanya iseng saja meletakkan pelacak di mobil Kak Gen." Shin menunjukkan kepada Altha lokasi mobil, dan kebetulan Genta memang tidak ada di rumah.


Papa Calvin dan Gemal sudah bergerak, tim Genta menghilang semua tanpa jejak termasuk Genta yang tidak bisa dihubungi lagi.


"Jangan gegabah, bergerak perlahan saja. Panik hanya akan mengacau keadaan." Al menatap Tika yang sudah melakukan panggilan.


Shin melihat ke arah Juna, tangan Shin berdarah kembali langsung dibungkus oleh Juna menggunakan kain.


"Hati-hati, jangan terlalu sering terluka." Juna melihat mata Shin yang sangat mencemaskan Kakaknya.


Seandainya Juna tahu, jika hati Shin juga terluka mengetahui soal lamaran. Shin ingin berteriak meminta Juna bersamanya bukan wanita lain, menjadi penenang saat hati Shin gelisah.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2