MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Hasil Pemeriksaan Ibu


__ADS_3

Setelah Anaku berangkat sekolah di antar Mba Siti dan Pak supir, Aku dan Suamiku. langsung berangkat ke rumah sakit.


"Mas,,, Dinda nanti langsung kabarin hasil pemeriksaan Ibu yah, "kataku saat kita ada di dalam mobil.


"Iya,, nanti mas kabarin Adek,, "


"Semoga sakit Ibu ngga parah ya Mas,, Apa Mas udah punya dugaan tentang sakitnya Ibu,? "


"Mas ngga mau bersangka dulu, Mas juga sedikit takut Dek,, Adek berdoa saja semoga tidak parah sakitnya Ibu,, "


"Amin,, semoga ya Mas, "


Setelah 30 menit ahirnya kita sampai di delan rumah tempatku bekerja.


"Jangan lupa makan siang ya Dek,, "


"Mas juga yah, jangan lupa makan siang, juga kabarin Dinda soal hasil pemeriksaan Ibu,"


"Iya,,, sebelum turun ini dulu buat penyemangat kerja, "sambil menujuk pipi kanan dan kirinya.


Cup,, Cup,,


"Udah yah Mas,, Dahhhh... "kataku sambil Aku buka pintu mobil dan keluar.Suamiku pun tersenyum dan menganggukan kepala.


Aku menunggu mobil suamiku sampai pergi, dan setelah tidak kelihatan lagi Aku baru masuk ke dalam rumah sakit, menuju ruanganku.


"Pagi suster Jeni,, "sapaku pada suster Jeni yang sudah 2 tahun ini selalu bersamaku.


"Pagi Dokter Dinda, "Aku lalu tersenyum dan masuk ke ruanganku.


Saat Aku sedang melihat data pasien, Pintu ruanganku ada yang mengetuk,setelah Aku menyuruhnya masuk, ternyata Dokter Budi yang datang.

__ADS_1


"Pagi Dokter Dinda,, "sambil masuk dan duduk di kursi depan mejaku.


"Pagi juga Dok,, tumben pagi pagi gini datang ke ruangan saya, apa lagi ngga sibuk, ?"


"Ngga,, Saya hari ini ngga begitu banyak pasien,,"Aku hanya ber oh saja.


"Oh Iya,,, Apa Dokter Dinda mau ambil cuti 5 hari,? "


"Iya,, saya cuti 5 hari Dok, soalnya minggu depan saya mau ada acara keluarga, kok Dokter Budi tau saya cuti,? "


"Tau lah,,, orang saya yang di tunjuk pak Direktur untuk menggantikan Dokter, "


"Oh Gitu,,, pantas kalau Dokter tau, "Aku sambil tersenyum.


"Nanti makan siang di luar yuk Dok,, "


"Maaf Dok saya Ngga , "


"Ya udah nanti saya kirimin makanan ke sini aja yah, seperti biasa, "


"Ngga repotin kok,, malah saya seneng kalau Dokter mau makan makanan saya kirim, "dalam hatiku, sebenarnya malas makan makanan yang Dokter Budi kirim, tapi Dokter Budi selalu mekatakan sayang sudah di beli nanti mubazir. Membuatku sebal saja.


"Tapi makan siang nanti Saya mau makan bareng sama kekasih saya Dok, !"


"Apa,,,,Kekasih, Dokter Dinda sudah punya kekasih,,? "


"Iya,,, "sambil Aku mengangguk.


"Tapi saya ngga percaya Dok, dari informasi yang saya Dapat Dokter Dinda itu masih sendiri, "duhhhh,,, Ni Orang di kasih tau ngeyel lagi,batinku.


"Terserah Dokter percaya atau tidak kalau Saya sudah punya kekasih, yang jelas Saya nanti siang akan makan bersamanya.Maaf Dok Saya harus pergi untuk mengecek pasien, "kataku sambil bangun dari duduk.

__ADS_1


"Saya Akan percaya Dokter Dinda punya kekasih, kalau saya melihat dan mendengar sendiri dari pria itu, "sambil berdiri dan langsung pergi dari ruanganku. Aku melihatnya hanya geleng geleng kepala.


Lalu Aku mengajak Suster Jeni untuk mulai melakukan pemeriksaan pada pasien.


.


.


.


Di Tempat Lain(Agung)


Aku langsung menuju ruanganku untuk mengecek hasil dari pemeriksaan Ibu. Aku sudah punya firasat kalau Ibu terkena kanker serviks, tapi Aku belum berani memastikanya. Aku juga tanya pada Doktet serta suster yang selalu mengecek kondisi Ibu, tentang keadaan dan gejala yang di keluhkanya, karena Aku memang sedikit membatasi bersentuhan dengan Ibu, karena merasa tidak enak, entah kenapa Aku juga merasa kasihan, orang yang dulu pernah menjadi istriku sekarang sakit dengan keadaan yang serius.


Aku tak berani berbicara kepada Dinda tentang dugaanku, karena takutnya Dinda kepikiran, lagi pula ini juga belum pasti.


Dari Dokter serta Suster, Ibu susah BAB sembelit gitu, dan keputihan yang bau. Itu Aku sudah sedikit curiga, makanya Aku meminta di lakukan pemeriksaan secara lengkap. Apa lagi Ayah mengatakan kalau Ibu kesakitan saat berhubungan intim dan mengeluarkan darah juga, itu sudah sangat mengarah pada kanker serviks.


Saat Aku baca laporan hasil pemeriksaan Ibu, Aku juga merasa kaget dengan kenyataan yang mengatakan Positif kanker serviks. walau Aku sudah menduganya tapi saat melihat hasil ahirnya pun Aku sangat berat.


Aku harus mengatakan dengan cara apa pada Ayah, Ibu juga Istriku. Pasti ini sangat berat bagi mereka.


Aku menelfon Ayah untuk datang ke ruanganku, Aku ingin mengatakanya pada Ayah dulu. Aku ngga sanggup untuk melihat raut wajah Ibu nanti. Setelah Ayah mengatakan akan ke ruanganku, Aku pun menutup amplop hasil pemeriksaan Ibu.


Tidak begitu lama Ayah pun datang, Aku menyuruhnya untuk duduk.


"Ini hasil pemeriksaan Ibu, Aku harap Ayah bisa menerima kenyataan ini, "kataku sambil Aku memberikan amplop kepadanya.


Ayah hanya diam dan membuka Amplop itu, lalu membacanya..


Aku melihat Air mata yang keluar dari mata Ayah,, Aku hanya diam tanpa kata.

__ADS_1


**Maaf Ya kak sedikit dulu untuk BAB ini,, Soalnya lagi ada kesibukan di dunia nyata hehee... Maaf juga kalau ciritanya kurang memuaskan kaka kaka semua..


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya kak... trimakasih**....


__ADS_2