MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Ban Mobil Bocor


__ADS_3

Setelah Akbar berbicara,segrombolan orang yang ada 5 orang itu langsung diam.dan Akbar mengajak bicara baik baik sambil duduk.


Setelah semuanya Duduk ,Dinda,Agung dan Akbar mendengarkan orang yang ingin protes.


"Jadi gini ya bapa bapa,saya sudah membeli tanah ini seharga 3 M dan itu sudah di bayar lunas,dan ada bukti semuanya ,dari notaris pun ada buktinya,jadi untuk masalah bapa bapa yang tidak di bagi rata saya ngga tau,saya sudah ngga ada urusan lagi,"sambil Agung memperlihatkan bukti kuitansi juga tandatangan dari si pemilik tanah di atas matrai.


Ceritanya tanah masih milik keluarga,dan Anak pertama yang memegang uangnya,sedangkan 5 adiknya di beri uangnya tidak sama,itu membuat 5 adiknya itu marah,tapi Agung sudah ada serah trima di saksikan oleh Rt,Rw,pak Lurah setempat juga notaris,dan pemilik tanah itu Pak joko dan anak pertananya yang sudah menerima uang itu.


"Kalau bapa bapa masih ingin uang dari papah saya,saya bisa tuntut bapa semua dengan tuduhan pemerasan,dan hukumanya cukup lama,apa bapa semua mau di penjara dan meninggalkan anak istri bapa,,"


Bapa bapa itu semua langsung kompak tidak berani bicara lagi ,dan langsung pergi.


"Pah,,emang mereka saat Papah melakukan pembayaran mereka tidak ada,,?"


"Mereka memang ngga ada,kata orang tuanya mereka tinggalnya jauh,makanya ngga ikut waktu Papah melakukan pembayaran,"Akbar pun mengangguk.


Akbar lalu berkeliling ke klinik yang sudah hampir jadi.saat sedang melihat ke bagian belakang klinik,,Akbar melihat Vivi yang sedang mengobati orang yang terluka di tanganya.


"Baik juga dia,,"kata Akbar bicara sendiri dengan pelan.


"Memang dia orang baik Bang,pintar lagi,"Abang langsung kaget dan melihat ke samping ternyata Dinda sudah ada di sampingnya,dan mendengar apa yang Akbar bicara.Abang langsung salah tingkah.


Dinda lalu mengajak Akbar untuk mendekat ke Vivi,Akbar hanya mengangguk.


"Kenapa bapa ini Vi,,?"Tanya Dinda.


"Eh i,,ini Bu,,tadi Bapa terkena paku di jarinya,,"sedikit gugup karena melihat ada Akbar yang melihat ke arahnya.


"Oh,,udah di obati kan?,,"


"Iya Bu,,udahh,,"


"Ya udah yuk kita lihat lihat lagi,,"kata Dinda pada Vivi dan Vivi bangun dari berjongkok dan menjawab Iya.


"Bapa hati hati kerjanya ya Pak,kalau masih sakit istirahat aja dulu,"kata Dinda sebelum pergi.


"Iya Bu,,"jawab Si bapa.


Lalu ketiganya lanjut jalan,Akbar tersenyum ramah pada bapa pekerja sebelum pergi.


"Vi,,ini nanti kamar buat kamu,dan suster yang mau tinggal di sini,,"Dinda menujuk ke dua kamar.

__ADS_1


"Luas ya Bu kamarnya,,"


"Iya,,biar nanti kalau ada sodara atau teman kamu main jadi bisa di sini,,"Vivi tersenyum dengan manisnya,dan Akbar Melihat Vivi yang sedang tersenyum,lalu Vivi langsung berhenti tersenyum saat melihat Akbar yang sedang menatapnya.


Vivi lalu menunduk malu,sedang Akbar tetap biasa saja ,mukanya tetap datar saja.


Lalu Dinda mengajak masuk dan melihat tempat tempat lainya,Dinda menujukan setiap ruangan ruangan apa saja pada Vivi,dan Vivi mendengarkanya.


Dinda melihat jam,dan ternyata sudah jam makan siang.


"Sayang,,tolong kamu beli makanan gih buat para pekerja,juga buat kita,"


"Di mana Mah Abang harus beli,di sini kan ada juga warung nasi,,"


"Iya ada Bang,cuman Mamah pengin beliin Mereka yang lebih enakan makananya,,"


"Tapikan jauh Mah ke kotanya,"


"Ya jangan kekotanya,pokoknya kalau ketemu tempat makan yang enak Abang beli aja,yah sayang,,"


"Vivi ikut gih buat teman Abang,biar Abang ngga sendirian,"Vivi mau menolak tapi ngga enak,ahirnya Vivi hanya mengangguk pelan.


Dinda menyuruh membungkus 20 bungkus untuk para pekerjanya.Akbar dan Vivi pun pergi menggunakan mobil.


Vivi di mobil hanya diam,tidak berani berbicara,karena Akbar juga ngga ada suaranya sama sekali.


"Kamu sambil lihat ,siapa tau ada rumah makan ,,"Vivi mendengar dan mengangguk.


"Emm,,itu ada rumah makan nasi padang Den,,"kata Vivi tapi sudah lewat.


"Udah lewat kenapa baru ngomong sih,malas muter kan,,"sedikit jutek kata kata Abang.


"Maaf Den,,"kata Vivi pelan karena takut.


Akbar tiba tiba menghentikan mobilnya,dan pelan memutar balikan mobilnya,Vivi ngga bertanya hanya diam saja mengikuti Akbar saja.


Ternyata Akbar kembali ke rumah makan Nasi Padang yang tadi Vivi tunjukan.


"Ayo keluar,,"kata Akbar pada Vivi saat sampai di tempat makan.


"Vivi kamu harus sabar,,,jangan di bawa ke hati,,emang Den Akbar orangnya galak,,tapi baik Vi,,jadi kamu harus sabarr,,"Vivi berkata dalam hatinya sendiri sambil berjalan masuk.

__ADS_1


Sampai di dalam rumah makanya,Akbar langsung memesanya,10 ayam bakar 10 pake rendang,karena lama Vivi lalu duduk.


Akbar memesan es jeruk dua gelas,untuk Vivi dan dirinya.


"Ini minumlah,,"sambil meletakan gelasnya di depan Vivi.


"Makasih Den,,"


"Hemmm,,,"Akbar hanya berdehem.


Keduanya satu meja selama 25 menit,tapi ngga ada yang bicara satu kata pun,sampai makanan siap dan Akbar membayar.


"Ini bawa satu kantongnya,Aku berat,,!"Vivi hanya menurut dan tidak menjawab.


Keduanya lalu masuk mobil dan menjalankan mobilnya untuk ke klinik.


Saat di jalan tiba tiba mobil sedikit goyang,Akbar menghentikan mobilnya lalu turun dan ternyata Ban mobilnya kempes.


Akbar lalu mengambil Ban serep di belakang,dan juga peralatan lainya.Vivi yang melihat Akbar menurunkan ban serep lalu turun.


"Kamu cari orang gih buat bantu saya ganti Ban,soalnya saya ngga terlalu ngerti,kalau saya yang pasang takut salah,,"kata Akbar pada Vivi yang turun dari mobil.


"Di sini sepi Den,biar saya aja yang bantuin,"


"Emang kamu bisa apa,jangan sok pintar deh,nanti malah jadi ribed lagi,,"


"Bapa saya di kampung tukang tambal ban Den,dan saya sering bantu,jadi saya ngerti cara pasangnya,,"


"Ya sudah nih kerjakan,,"kata Akbar pada Vivi.


Lalu Vivi menggulung rambutnya dan juga meletakan tasnya di mobil.


Vivi pertama mencopot ban yang kempes,Albar yang melihat Vivi ke susahan lalu membantunya,karena tenaga perempuan dan laki laki itu beda.


Keduanya ahirnya bekerja sama untuk memasang ban,dan saling berkomunikasi dengan baik saat melakukanya,setelah selesai keduanya merapikan alat alat dan memasukan ban yang kempesnya kedalam mobil.


Keduanya langsung membuang nafas dan sedikit ngos ngosan,karena cuaca yang panas juga cape.


Akbar melihat Vivi yang banyak keringat dan ada noda hitam di pipinya,dengan reflek jari Akbar mengusap noda hitam di pipi Vivi,Vivi yang kaget dengan perlakuan Akbar,langsung diam mematung dan mata mereka saling pandang.


Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2