MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Pak Direktur


__ADS_3

Sekarang Aku sudah duduk di bangku depan meja Pak Direktur. sedang Mba Eva sudah keluar dari ruangan ini.


"Jadi kamu yang akan menggantikan Eva,, "Aku pun mengangguk.


"Apa Bapa tidak tau, bukanya setiap Direktur itu pasti melihat dulu surat lamaran yang" akan di pilih untuk jadi sekertarisnya,, "kataku.


"Kemarin Saya habis dari luar kota selama dua minggu, karena di sana Saya mau buka kantor cabang juga Saya di sana menghadiri pernikahan mantan kaka ipar Saya, jadi Saya ngga sempat untuk melihat penerimaan sekertaris baru untuk Saya,,dan Saya taunya sudah dapat sekertaris baru, ya yang penting bagi Saya sudah dapat,"Aku pun mengangguk.


"Maaf Pak,, Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Saya mohon undur diri ,,"sambil berdiri.


"Bisa ngga jangan panggil Saya Pak,, "


"Kan Bapa atasan Saya, kok ngga boleh panggil Bapak,nanti di kira Saya ngga sopan,, "


"Kita sedang berdua, jadi jangan panggil dengan sebutan Bapa,, "


"Ngga ah,, ngga sopan itu, permisi... "Aku langsung ke luar dari ruangan Pak Direktur, Saat awal ketemu tadi Aku benar benar kaget kenapa Aku bisa kerja di perusaan milik Mas Hendra, berarti Papahnya Zara orang kaya dong, Aku benar benar kaget soalnya tampangnya Mas Hendra itu ngga kaya di cerita cerita novel, biasanya orang yang punya perusahaan itu wajahnya dingin, badanya tegap dan tinggi besar karena selalu memperlihatkan ke wibawaan dan ketampanan, tapi tidak dengan Mas Hendra dia oranya terlihat santai dan enak kalau di ajak ngobrol. Jadi ngga kelihatan seperti Bos besar gitu.


"Kamu kenapa De,, "tanya mba Eva yang mengagetkanku.


"Ngga papa Mba,, bisa mulai sekarang kan Mba ngajarin Dea kerjanya,, "kataku.


"Wah kamu terlihat semangat sekali ya De,, ayo kita mulai,, "Aku hanya tersenyum, dan Mba Eva menyuruhku untuk duduk di sebelahnya, dan mengajariku cara kerja di perusahaan ini.

__ADS_1


Saat Aku dan Mba Eva sedang serius bekerja, tirai kaca tiba tiba terbuka secara otomatis dari dalam, dan sekarang dari ruangan Pak Direktur jadi bisa melihat ke arah dimana Aku dan Mba Eva bekerja.


"Tumben tirai di buka oleh Pak Direktur, karena biasanya ngga pernah loh selama Aku kerja di sini, "kata Mba Eva.


"Masa sih Mba,, jangan jangan Pak Direktur lagi ngeliatin Aku gimana kerjanya Mba, Aku jadi takut nih,,, "kataku.


"Tenang aja,ngga usah takut gitu,Pak Direktur tuh orangnya baik kok, tapi ya kalau kita bikin salah pasti kena marah juga,, "Aku pun mengangguk.


"Sudah jangan di fikirkan, kita kerja aja lagi, soal tirai mungkin Pak Direktur pengin ganti suasana,,, "


Dan kita berdua pun tak pedulikan lagi tentang tirai, tapi lama kelamaan Aku merasa ada yang mengawasiku. saat Aku mengangkat wajahku secara tidak sengaja mengarah ruangan Pak Direktur, dan mataku tidak sengaja bertemu dengan mata Pak Direktur. untuk beberapa detik kita saling tatap. lalu Aku pun langsung memutuskan pandangan mataku. Aku langsung menatap layar kompiter, karena Mba Eva sedang mencari map di lemari jadi Aku di suruh untuk menggunakan komputer.


Setelah itu Aku ngga berani lagi menatap ke arah ruangan Pak Direktur lagi, rasanya sungguh malu karena tadi ketahuan Aku melihat ke arahnya.


Aku hanya diam sambil menunggu mba Eva selesai menerima telfon, setelah telfon mati Mba Eva bilang kalau Pak Direktur minta di belikan sekalian makanan untuknya.


Sampai di kantin Mba Eva membungkus dua porsi nasi dan soto daging, setelah itu Mba Eva menyuruhku untuk mengantarkanya kepada Pak Direktur, Aku sedikit tidak mengerti tapi Mba Eva bilang dua porsi makanan yang sedang ku pegang ini adalah untuk Pak Direktur dan juga untuku, ini katanya suruhan Pak Direktur.


Dalam hatiku sedikit kesal sama Mas Hendra, apa sih maksudnya nyuruh untuk Aku membawakan makananya, bukanya banyak OB di kantor ini, kenapa juga harus Aku, sambil berjalan menuju lif dalam hatiku menggerutu.


Sampai di ruangan pak Direktur Aku masuk setelah terdengar perintah untuk masuk.


"Siapin sekalian ya De,, Saya sudah laper banget nih,, dan di sana dapurnya ada piring, mangkok juga gelas,, "menujuk ke arah ruangan di sebelah kiri, sambil bangun dari duduknya dan menuju sofa, karena Aku yang takut di pecat ahirnya hanya menurut.

__ADS_1


Sedang pak Direktur duduk di sofa sambil menunggu Aku yang menyiapkan makananya.


"Kenapa piringnya hanya satu,, piring buat kamu makan mana,,? apa kita mau satu piring biar romantis,, "Aku yang bingung hanya. menggeleng.


"Dea akan makan di meja Dea aja pak,, silakan Bapa makan katanya sudah lapar,, "setelah nasi dan soto daging tertata di meja.


"Jangan gitu De,, orang Saya sengaja memesan seperti ini pada Eva karena Saya ingin makan berdua dengan kamu, malah sekarang kamu ngga mau, hilang deh rasa. lapar Saya kalau gini,, "


"Loh kok gitu,, nanti Bapa sakit, Dea temani saja ya Pak, tapi Dea makanya entar aja,, Silakan Bapa makan,, "kataku sedikit tak enak.


"Ngga kalau kamu ngga ikut Makan, Saya juga ngga makan,,, "puset ni orang kok jadi aneh sih.


"Baik lah Pak,, Dea akan makan di sini bareng Bapa, "Ahirnya Aku mengalah dari pada ribed.


Aku mengambil piring dan mangkok untuku, setelah tertata Aku dan Pak Direktur pun makan bersama.


"Nah gitu nurut,, ini baru calon istri Saya yang pintar,,, "


Hukkk,,,huukkk,,,,


P**okoknya kaka kaka semua pintar, sudah menebak pak Direktur Dea itu siapa,, ikuti alur cirtanya ya kak, gimana Hendra bisa meyakinkan Dea agar mau menikah denganya... maaf kalau ada typo..


Jangan lupa like komen dan votenya makasihh...

__ADS_1


Besok aku seling Dinda -Agung, sama Doni -Dian ya kak,, takutnya ada yang kangen sama mereka. nanti setelah itu lanjut Dea sama hendra**.


__ADS_2