
"Memang Aku kesal sama kamu,Aku tuh bicara seperti itu karena Aku sudah menganggapmu keluarga bahkan seperti adiku,Aku ingin menjagamu,tapi kamu malah seakan akan menganggapku ini orang lain,dan risih dengan perlakuanku yang niatku ingin menjaga dan mengingatkanmu,apa perkataanku ada yang salah,waktu teman cowokmu ngajak jalan bukanya kamu lagi sibuk buat skripsi,Aku jadi benar kan bilangnya,"
"Iya Den,saya minta maaf,saya yang salah sudah berkata yang tidak enak pada Aden,kita sekarang baikan ya Den,Aden jangan diemin Saya lagi,"
"Baiklah Aku maafin kamu sekarang,dan Aku ngga bakalan larang larang kamu lagi,sekarang terserah apa yang akan kamu lakukan,Aku sudah ngga peduli,,"Vivi hanya diam.
"Saya duduk di sofa ya Den,kalau Aden butuh sesuatu panggil saya aja,"
"Iya,"jawab Akbar,lalu Vivi pun menuju sofa dan melanjutkan mengetiknya.
10 menit kemudian Suster datang membawa makanan untuk Akbar makan malam,dan juga obatnya.setelah suster pergi Vivi lalu mendekat ke Akbar dan duduk di sebelahnya.
"Aden makan dulu yah,"Vivi mengambil kotak makanya.
Vivi menyuapi Akbar makan dengan telaten,karena Akbar makanya sangat pelan.
"Apa wajahku sangat seram,? apa sangan menjijikan,?"Vivi menggeleng.
"Tapi kamu dari tadi tidak mau melihat kearahku,selalu menunduk,apa kamu terpaksa,,?"Vivi dalam hatinya menggerutu karena Akbar sangat menyebalkan,tapi di bibir Vivi tersenyum sambil di angkat wajahnya.
"Ngga kok Den,Aden ngga serem atau menjijikan,saya menunduk karena ngga enak kalau mata Saya menatap ke arah Aden terus,"dengan pelan Vivi berkata.padahal di dalam hatinya rasanya Vivi ingin ngomel.
Lalu Vivi menyuapi Akbar lagi,dan sambil mengusap Bibir Akbar dengan tisu kalau bibirnya kotor.
Selesai makan,Vivi menyiapkan obat untuk Akbar minum.Vivi membantu Akbar untuk minum obat sambil memegang gelas untuk akbar minum.
"Makasih,,"kata Akbar setelah selesai minum obat,Vivi merasa senang saat mendengar Akbar bilang trimakasih padanya,Vivi tersenyum dan lesung pipitnya sampai terlihat jelas.
Vivi menjawab iya,setelah selesai Vivi kembali duduk di sofa,Vivi lanjut untuk menulis lagi,Akbar yang pengaruh obat merasa ngantuk dan tertidur.
Dinda telfon pada Vivi menanyakan Akbar,dan Vivi bilang kalau Akbar sedang tidur.Dinda juga menanyakan Akbar sudah makan apa belum dan juga obatnya sudah di minum apa belum.
"Den Akbar sudah makan Bu,dan tadi juga sudah minum obat,sekarang Adenya sedang tidur,,"
"Oh gitu,makasih ya Vi kamu sudah mau bantu,"
"Iya Bu Vivi senang kok melakukanya,,"
"Ya udah yah,kamu jangan lupa makan,biar ngga sakit,"
__ADS_1
"Iya Bu,"
Telfon pun mati,dan Vivi lanjut lagi menyelesaikan skripsinya.sekitar jam 9 malam,Vivi merasa lapar,Vivi melihat ada makanan yang tadi pagi di bawanya,lalu Vivi memakanya karena tidak bau.
Selesai makan Vivi merapikan bekas makanya,setelah Itu Vivi tiduran sebentar di sofa karena merasa lelah dan ngantuk,juga badanya pada pegel.niatan Vivi hanya istirahat sebentar tapi ternyata tidur beneran.
Jam 1 malam Akbar terbangun dan ingin minum,Akbar lalu memanggil Vivi.
"Vi,,Vivi,,,"Tapi Vivi ngga bangun bangun,Akbar lalu berusaha ambil minum sendiri,menggunakan tangan yang ada jarum infusnya,karena tangan satunya masih sakit dan belum bisa di bawa gerak.
Prangg,,,gelas pecah karena Akbar tidak bisa mengambilnya dengan pas dan benar.
"Aawww,,,sssettt,,,"ternyata jarum infus Akbar sampai lepas,dan darah pun mengalir.
Vivi yang mendengar ada benda jatuh ter bangun,Vivi dengan keadaan belum kumpul nyawanya langsung mendekati Akbar.
"Awas ada pecahan gelas,,"kata Akbar saat Vivu mau mendekatinya,Vivi lalu melihat ke bawah agar tidak kena pecahan gelas.
"Ya Tuhan,,Aden,,,,sinih saya pasangkan,,tahan yah ini akan sedikit sakit,,"
Vivi memasang jarum infusnya lagi,darah Akbar sudah banyak menetes di selimut,dan Vivi dengan hati hati dan tlaten memasangnya lagi jarum infus ketangan. Akbar,Vivi juga sambil meniupinya.
"Sudah selesai,,ngga sakit kan Den,?"Akbar hanya menggeleng.
"Aden mau minum,,?"
"Iya,,Aku haus,,"
"Kenapa ngga bangunin Saya,,?"sambil Vivi mengambilkan botol minum lalu di tuangkan ke gelas,karena tadi sedotanya sudah ikut terjatuh jadi ngga di ambil karena kotor.
"Tadi Aku udah bangunin kamu,kamu aja yang ngga mau bangun,"
«Masa sih Den,maaf ya Den mungkin saya kelelahan jadi tidurnya pulas,"Vivi lalu membantu Akbar minum,dengan pelan vivi membantu Akbar untuk sedikit duduk dulu,karena ngga ada sedotan jadi susah kalau posisi Akbar tiduran.lalu Vivi menekan tombol ranjangnya.
Setelah kepalanya Akbar sudah terangkat,Vivi mendekatkan gelasnya ke mulut Akbar.
"Sudah,,?"tanya Vivi saat Akbar memegang gelasnya.Akbar hanya mengangguk.
Vivi lalu mengambil selimut Akbar yang banyak kena darah,dan Vivi keluar ruangan untuk mencari suster penjaga,Vivi mau minta ganti selimut.
__ADS_1
Vivi kembali ke kamar setelah memberikan selimut pada suster,dansuster bilang nanti akan di antar slimut baru lagi,Sampai kamar Vivi membersihkan pecahan gelas,dan membersihkanya jyga,Akbar terus saja melihat ke arah Vivi,Vivi sebenarnya tau tapi pura pura nggamelihatnya.
Setelah bersih Vivi lalu membuang pecahanya ke tong sampah,dan suster pun datang mengantar Selimut,lalu Vivi menyelimuti Akbar.
"Saya cek jarum infusnya dulu yah,kalau tadi terlepas siapa yang pasang Mba,?"tanya suster pada Vivi yang sedang menyelimuti Akbar.
"Saya yang pasang Sus,apa salah,?"
"Ngga,,ini benar malah terlihat rapi,kok mba bisa apa mba juga suster,?"
"Saya kuliah jurusan Dokter sus,"
"Oh pantas,,pasang jarumnya bisa,rupanya calon dokter,Masnya pasti seneng yah punya pacar calon Dokter gini,dah cantik pintar lagi,"Vivi dan Akbar saling pandang.
"Tapi sayang Sus,dia orangnya ngga bisa di nasehatin,"Vivi langsung mengerutkan Alisnya,kirain mau jelasin kalau ngga ada hubungan malah kata katanya seolah mengiyakan.sedang wajah Akbar datar aja lagi.
"Sus jangan dengerin dia,gimana saya mau dengar nasehatnya,orang dianya aja selalu posesif,apa apa di larang,"Akbar sedikit menyunggingkan bibirnya dan tersenyum tipis.
"Wah sepertinya kalian sedang curhat nih,tapi biasanya kalau hubungan sering adu pendapat dan sering ada ribut ribut kecil itu hubunganya awet loh,,"
"Sus maaf sebelumnya yah,kita ini ngga pacaran,tapi saya hanya karyawan orang tuanya,saya hanya membantu jagain dia,"Akbar masih diam dan cuek aja.
"Oh gitu,,saya berarti salah dong,maaf yah,tapi saya lihat kalian cocok kok,,"Akbar dan Vivi lagi lagi saling pandang,Vivi langsung menggeleng.
"Iihh,,orang galak gitu,aku ngga mau,,"kata Vivi dalam hatinya.
Suster lalu izin keluar,dan Vivi mendekati tangan Akbar yang ada jarum infusnya,Vivi mengambil tisu basah,karena jari jari Akbar masih ada darah kering yang masih menempel.
Vivi dengan telaten mengelap tangan Akbar,"Ranjangnya mau di turunin lagi ngga Den,?"tanya Vivi sambil masih mengelap tangan Akbar.
"Ngga usah biar begini aja,sudah sanah kamu tidur lagi,ini masih malam,"
"Iya,,"saat Vivi mau bangun,tangan Akbar mengambil tangan vivi,Vivi melihat ke arah tanganya yang di pegang Akbar.
"Terimakasih,,,"kata Akbar.Vivi mengangguk dan tersenyum.
***Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih..
Ayo dong kak baca cerita baruku,ceritanya bagus loh,menceritakan seorang wanita yang di jodohkan oleh orang tuanya,dan dia harus melayani suaminya tanpa ada rasa cinta,pasti seru loh...trimakasih***...
__ADS_1