
Rizki membawa mobilnya sangat pelan, agar sampai rumahnya sedikit lama. tangan mereka pun saling genggam dan sesekali Rizki menciumi punggung tangan Zara.
"Bang,, tanganya lepas dulu, Zara takut Abang nyetir mobilnya pake tangan satu gitu,, "Kata Zara, sedang Rizki hanya tersenyum saja.
"Abang kan bawanya pelan, jadi tenang aja yah pasti aman,,"lalu mencium kening Zara.
"Sayang,, Kamu kapan akan pergi ke rumah Mamahnya,,? "
"Belum tau kapan, Zara aja belum tau mau kesana sendiri apa di antar Papah,, "
"Ngga boleh pergi sendiri,biar nanti kalau Papahmu ngga bisa antar, Abang yang akan antar,, "
"Emang Abang berani bilang ke Papah,, "Rizki diam.
"Harus berani nanti, soalnya demi menjaga keselamatan calon istri, jadi Papahmu nanti marahin Abang pun, Abang akan terima,, "Zara tersenyum sambil geleng geleng kepala.
"Bukanya kasih semangat ,malah ngeledek gitu,, "
"Ngga ngeledek kok, Zara tersenyum karena senang, Abang rupanya sudah punya keberaniyan untuk bilang ke papah,, "sambil menegakan duduknya.
"Abang sebenarnya sudah ingin sekali bilang pada Papahmu tentang hubungan kita, tapi Abang belum yakin dan berani,, apa nanti kalau Abang sudah yakin dan berani untuk mengatakan pada Papahmu, kamu mau temani Abang bilang ke papahmu,, "
"Ya kalau Abang bilang ke Papah pas ada Zara di jakarta, Zara akan temani, tapi kalau Zara lagi di singapur ya ngga bisa temani Abang,, "
"Yang penting kamu mau temani Abang, nanti masalah kapan bilangnya Abang juga lihat nanti,, "Zara menganggukan kepalanya.
Ahirnya mobil Rizki pun berhenti di rumah Hendra, dan Zara akan bersiap untuk turun.
"Sayang,, sun dulu dong,, "Zara pun mendekatkan bibirnya pada pipi Rizki.
Cup,,
"Zara turun ya Bang,, Abang hati hati di jalan, "Rizki hanya menganggkuk kan kepala dan tersenyum.
Lalu Rizki ikut turun untuk mengambilkan koper Zara di bagasi mobil. setelah Zara masuk Rizki langsung membawa mobilnya pergi.
__ADS_1
Rizki membawa mobilnya menuju kantor, karena siang ini akan ada pertemuan dengan pimpinan dari perusahaan yang cukup berpengaruh di kota jakarta.
Baru sampai parkiran Hendra sudah menelfon Rizki ,dan menanyakan sudah sampai apa belum.
"Iya Bos,, saya sudah di parkiran,, "
"Kamu lama amat sih cuman ngganterin Zara kerumah aja,,sudah cepat naik, kita harus mempersiapkan berkas untuk pertemuan kita nanti dengan Pak Herman,"
"Iya Bos,, "telfon pun mati.
Rizki lalu menaiki lif kusus, dan tidak lama Rizki sampai di ruangan Hendra.
"Buruan siapkan berkasnya, saya ngga mau sampai ada yang tertinggal atau salah ya Ki,, "
"Iya Bos,, "Rizki lalu mulai menyiapakan berkas yang akan di bawa.
"Ki,, pak Herman kok bisa tau Saya punya anak gadis yah, dari mana dia tau kira kira ya Ki,,? "
"Kan Bos orang kaya dan memiliki perusahaan, pasti di internet asal menekan nama anda sudah pasti keluar nama dan foto keluarga anda Bos,, "
"Jadi Pak Herman kemarin menelfon saya dan dia bilang ingin menjodohkan anaknya dengan Zara, menurutmu gimana Ki,, "Rizki yang mendengar perkataan Hendra langsung diam.
"Ki,, Rizki,,, kamu kenapa diam, saya lagi tanya sama kamu ini loh, malah diam aja kamu tuh,"
"Ma,, maaf Bos,, saya ngga berani kasih saran Bos, takutnya Bos ngga suka dengan saran saya,, "
"Kan Saya belum dengar saran kamu itu, gimana saya bisa marah, ayo katakan menurutmu saya harus gimana,, "Rizki lalu menghentikan tanganya dulu dan lalu menghadap Hendra.
"Bos bisa tanyakan dulu pada Pak Herman kenapa dia ingin menjodohkan anaknya dengan anak Bos, takutnya ini hanya untuk permainan bisnis saja, kalau benar kasihan anak anaknya Bos, takutnya mereka terpaksa menerima perjodohan ini dan mereka tidak bahagia,kan kasihan. dan kita juga belum tau anak pak Herman itu seperti apa, takutnya cacat apa gimana, kalau orang sukses dan kaya itu pasti gampang cari pasangan, ngga harus di jodohkan,, kemungkinan kan ada sesuatu Bos,, "Hendra menganggukan kepalanya.
"Siapa tau juga Zara atau anak Pak Herman sudah punya kekasih, kan kasihan kalau mereka di paksa,, "
"Ya benar juga,, tapi menurut penglihatanmu Zara sudah punya pacar belum Ki,, "Rizki tidak berani menjawab dan Rizki pun terdiam.
Untungnya hp Hendra langsung bunyi, jadi Hendra tidak meminta jawaban Rizki.
__ADS_1
"Ki,, kita sudah di tunggu pak Herman, ayo kita berangkat,, "
"Iya Pak,,, "sambil Rizki memgangguk dan Membawa berkas.
Sampainya di restoran, pak Herman langsung menyambut kedatangan Hendra.
"Siang pak Hendra,, "sambil mengacungkan tangan.
"Siang juga Pak Herman, maaf saya telat,, "lalu Hendra pun menjabat tangan pak Herman.
"Tidak masalah, saya juga baru 5 menit kok, oh iya ini kenalkan, ini adalah putra saya namanya Erlangga,, panggil aja Angga,, "
Hendara lalu berjabatangan dengan Angga, orangnya cukup tanpan dan tinggi.
Rizki yang melihatnya langsung faham kalau ini adalah anak pak Herman yang akan di jodohkan dengan Zara.
Lalu mereka semua duduk dan mulai pembicaraan bisnis, sekitar satu jam ahirnya selesai dan mereka lanjut makan siang.
"Pak Hendra gimana menurut Bapa tentang anak saya,, Angga,, ?"
"Angga yang saya lihat tampan dan sepertinya sangat pintar,, Dia masih muda tapi sudah pintar dalam berbisnis,, "jawab Hendra.
"Om bisa aja,, saya masih belum bisa apa apa om,, dan masih butuh bimbingan dari orang seperti Papah dan Om,, "
"Kamu tuh ngga usah merendah gitu, nyatanya kamu tadi saat menjelaskan proyek untuk kerja sama aja sangat pintar,, "
Rizki yang mendengar Hendra memuji Angga merasa kesal.
"Dasar nih anak, sepertinya sedang cari muka"kata hati Rizki berkata.
"Pak Hendra gimana dengan rencana saya yang ingin menjodohkan anak saya dan anak Bapa,, apa sudah di fikirkan,, "
Rizki rasanya ingin bangun dan langsung menojok mulut pak Herman, karena berbicara tentang perjodohan anaknya dengan Zara.
Jangan lupa like,komen dan votenya, trimakasih...
__ADS_1