MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Vivi Belum Mau Hubunganya Dengan Akbar Di Ketahui Orang


__ADS_3

Setelah tangan Vivi di ciumnya,Akbar tidak melepaskan ,Akbar tetap menggenggamnya.


"Den,,apa Saya boleh minta sesuatu,,?"


"Kamu mau minta apa,kalau Aku bisa akan Aku belikan,,"Vivi menggelengkan kepalanya pelan.


"Saya hanya minta untuk merahasiakan hubungan kita ini dulu dari siapapun terutama orang tua aden,saya belum mau orang tua aden tau kalau kita ada hubungan,soalnya saya masih minder karena saya belum jadi orang sukses,,"


"Tapi orang tuaku pasti akan setuju Vi,mereka menyukaimu kok,dan juga adik adiku,,"


"Tapi Saya yang belum siap Den,ada rasa takut di dalam hati saya,saya mohon Aden mau untuk merahasiakanya dulu,"


"Baiklah,,sampai kapan,,"


"Nanti,,suatu hari nanti pasti Vivi akan meminta Aden untuk mengatakanya pada orang tua Aden kalau kita ada hubungan,"


"Aku akan menuruti permintaan kamu,tapi kamu juga harus turuti keinginanku,"


"Apa keinginan Aden,"


"Jangan panggil Aku Aden,,"


"Trus Saya mangilnya apa,,?"


"Terserah kamu,kamu oleh mangil Abang,kaka atau Mas,yang penting jangan Aden,"


"Tapi Saya ngga enak Den,apa lagi kalau sampai orang tua Aden dengar takutnya mereka fikir saya ngga sopan kalau manggil aden dengan Mas,karena semuanya mangilnya kan Aden,"


"Baiklah apa maumu,tapi kalau kita sedang berdua,pangilnya jangan Aden yah,"


"Ya kalau saya ingat,,"


"Harus ingat dong,masa sama calon suami mangilnya Aden,ngga enak banget di dengarnya,"Vivi hanya tersenyum.


"Besok kamu mau ketemu Frengki ya Vi,?"


"Iya,,"


"Perlu Aku temani,,"


"Ngga perlu,biar Saya bicara berdua saja ,biar lebih enak,,"

__ADS_1


"Biar enak apa maksudnya,,?"Vivi membuang nafas kasar saat dengar nada suara Akbar.


"Kalau Aden ikut,,"


"Jangan pangil Aden,,ganti,"


"Ya Tuhan,,sabarr sabar,,"kata Vivi dalam hatinya.


"Kalau MAS ikut pasti rasanya ngga akan bisa ngomong santai,setidaknya Saya harus ada basa basi dikit,kan ngga langsung bilang maaf Frengki Saya ngga bisa jadi pacar kamu,saya sudah punya pacar,pacar saya ada di sebelah saya ini,,ya ngga gitu kan,,lagian kalau MAS ikut nanti yang ada marah marah sama matanya tuh melotot aja nanti,"


"Iya ngga ah,,Aku nanti duduk diam dan ngga akan ganggu,"


"Ngga usah udah Mas di rumah aja yah,kan masih sakit,,"


"Baiklah,tapi kamu harus kabarin Aku kalau bertemu denganya,"


"Iya,,Saya akan kabarin,,"


"Udah yah,Saya mau keluar,mau bawa piring kotornya dulu,biar ngga berantakan,Mas tidur aja,,ini minum obatnya,"Vivi memberikan obat ke Akbar untuk di minumnya.


Setelah Akbar minum obat ,Vivi pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


"Habis Vi makanya,?"tanya Mba Iis.


"Sukurlah,kamu makan gih,,"


"Vivi udah makan tadi Bi,di kantin klinik,kalau gitu Vivi ke kamar dulu ya Bi,"


"Ya udah sanah istirahatlah,,"


Vivi pun menuju kamarnya,sampai di kamar Vivi langsung tiduran ,Vivi tersenyum senang karena hatinya sudah merasa lega,dan masih belum menyangka kalau dirinya sudah jadian dengan Akbar.


"Ya Tuhan,,semoga besok frengki ngga marah sama Aku,dan masih mau berteman denganku ya Tuhan,,"Vivi teringat tentang frengki.


Sekitar jam 5 sore hp Vivi bunyi tanda panggilan,padahal Vivi baru pulas tidur karena dari tadi tidak bisa tidur.Vivi mengangkatnya sambil matanya masih merem.


"Hallo,,"dengan suara seraknya.


"Kamu lagi tidur,,"


"Iya,,ini siapa,?"

__ADS_1


"Aku calon suamimu,,"Vivi langsung membuka matanya dan melihat ke layar hpnya.


"Aden,,ada apa,,maaf Saya ketiduran,,"Vivi langsung bangun dan duduk sambil memegangi kepalanya yang pusing karena kaget.


"Aku justru yang minta maaf karena ganggu kamu tidur,ya udah lanjut tidur lagi aja ,Tadinya Aku mau minta tolong bantu Aku siapkan air buat mandi,Aku mau mandi tapi mau pake air hangat,,Aku ngga bisa isiin Air di batapnya,,Maaf yah sekali lagu,Aku matiin,,"Telfon pun mati,dan Vivi memijiti keningnya yang merasa pusing.


Setelah enakan Vivi lalu merasa kasihan pada Akbar.


"Pasti dia lagi ke susahan,,Aku kesana aja deh,,"Vivi cuci muka dulu,dan menyisir rambutnya.setelah selesai Vivi keluar dari kamarnya dan menuju kamar Akbar.


"Mau kemana Vi,,?"tanya mba Siti.


"Ke kamar den Akbar,tadi dia telfon suruh bantu buka perban,"Mba siti hanya menjawab Iya.


Saat Vivi mengetuk Pintu dan terdengar suara masuk,Vivi lalu membuka pintu itu.


"Kok ngga lanjut tidur,,?"


"Udah ngga bisa tidur lagi,dah kaget,"Akbar tersenyum.


"Maaf yah,Aku ganggu kamu,"


"Ngga papa,airnya udah di isi,,?"


"Lagi di isi,,kamu tolong dong lihatin panasnya udah pas belum,"Vivi lalu masuk ke kamar mandi.dan melihat udah pas belum panasnya.


Saat sudah mengecek air Vivi akan keluar dari kamar mandi,tapi ternyata Akbar sudah ada di belakangnya.


"Ya Tuhan bikin kaget aja sih,"kata Vivi,Akbar hanya tersenyum.


"Bantu Aku lepasin bajunya dong,"Vivi sedikit berfikir,rapi memang Akbar susah kalau melepaskanya sendiri.


Vivi lalu dengan pelan membantu Akbar melepas bajunya ,saat baju terlepas,Vivi melihat perut Akbar yang kotak kotak secara langsung ,dan Vivi lalu menunduk malu.Akbar yang tau Vivi malu justru langsung mengambil tangan Vivi dan mengusapkan tangan Vivi ke perutnya.


Tangan Vivi menggenggam karena malu,tapi Akbar menyuruhnya untuk di buka.


"Buka lah tanganya,jangan di genggam gitu,"Vivi dengan terus menunduk lalu dengan pelan membukanya,dan setelah tangan Vivi menempel di perutnya,Tangan kananya menarik pinggang Vivi,dan sekarang badan mereka sudah menempel.


Tangan kiri yang sakit tidak di rasa,tangan kiri Akbar mengangkat dagu Vivi agar wajah Vivi terangkat.sekarang mata mereka pun bertemu,pipi Vivi sudah berwarna merah karena benar benar merasa malu.Akbar tersenyum tipis tapi tidak dengan Vivi,Vivi hanya diam karena sedang merasakan debaran di dalam dadanya.


Cup.....

__ADS_1


***Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih...


Hai kak,kalau cerita Akbar dan Vivi di pisah dari sini gimana,boleh ngga***...


__ADS_2