
Ahirnya acara makan makan dengan teman teman Pak Direktur yang orangnya banyak omong semua pun berahir. mungkin mereka tidak menjaga imej karena mereka semua adalah teman jadi pada konyol semua tingkahnya.
"Kita mau kemana lagi Pak,, ini kan bukan arah ke kantor,,?"tanyaku saat ada di dalam mobil.
"Saya mau bertemu dengan Tamara, ada yang perlu Saya bicarakan,, "jawab Pak Direktur.
"Sebaiknya Saya ngga usah ikut ya Pak,, Saya balik ke kantor aja,, "kataku, karena Aku ngga mau jadi kambing congek di depan mereka.
"Kamu harus ikut, ngga ada penolakan,, "Aku hanya pasrah aja, semoga nanti Aku kuat melihat kemesraan mereka.
Mobil berhenti di sebuah Hotel yang cukup bagus, Aku mengikuti Pak Direktur masuk kedalam, Aku tidak banyak bertanya hanya mengikutinya saja.Rupanya Pak Direktur menuju sebuah ruangan dan tertulis di depan pintu Menejer Hotel.
"Hai Hen,, ada apa lagi, bukanya kita tadi sudah bertemu dan sudaah sepakat buat jalankan rencana kita,, "saat kita sudah di dalam ruangan, ternyata ini ruangan kerja Tamara, dia adalah seorang menejer hotel.
"Iya,, tapi ada yang belum tau rencana kita, dan dari tadi ngambek aja padaku,, "Aku hanya diam sambil dalam hatiku berkata hubungan mereka membingungkan.
Lalu Aku dan Pak Direktur pun duduk di sofa, setelah Tamara menyuruh kita duduk.
"Maksud kamu apa Hen,, jangan bilang kalau wanita yang kamu suka itu sekertarismu ini,, "Kata Tamara menujuku dan Aku langsung menggelengkan kepala.
"Maaf Mba Tamara,, anda salah sangka, Saya hanya sekertaris Pak Direktur saja,,"kataku membela diri.
__ADS_1
"Iya,, dia wanita yang Aku sukai, tapi dia sangat keras kepala dan susah untuk Aku ajak nikah,, "jawab Pak Direktur dengan santai, sedang Aku hanya diam lalu menatapnya dengan penuh kebingungan.
Kenapa Pak Direktur berkata seperti itu pada wanita yang di jodohkanya, kenapa Pak Direktur tidak menjaga perasaanya banget sih,,,
"Pak,, jangan berkata seperti itu di hadapan wanita yang akan menikah dengan anda,pasti Mba Tamara sakit hatinya,, tolong hargai perasaanya... "kataku. tapi setelah itu Tamara justru tertawa.
"Nama kamu siapa,, kayanya kita seumuran,,? "tanya Tamara padaku.
"Saya Dea,, dan umur Saya 32 tahun,, "
"Oh Dea,, kita seumuran dong, umurku juga 32 tahun, Aku panggil Dea aja yah biar akrab,, "Aku hanya mengangguk.
"Dea,, Aku mau jelasin tentang hubunganku dengan pria dingin ini yah.Jadi Aku dengan Hendra itu teman dari kecil dan saat SMA Aku ikut keluargaku pindah ke luar negri, dan sudah dua taun ini Aku balik ke kota ini lagi dan Mamah Hendra yang tau Aku belum menikah menginginkan Aku untuk jadi menantunya, Aku di suruh menikahi duda dingin yang ada di sebelahmu itu, tapi karena kita sama sama ngga saling cinta dan kita nyaman dengan pertemanan saja, jadinya kita menolak, Tapi yang jadi masalahnya sekarang Mamahnya Hendra sedang sakit, kalau sekarang Aku dan Hendra mengatakan menolak perjodohan ini, takut Mamahnya Hendra jadi drop lagi,"kata Tamara menjelaskan padaku.
"Makasih kamu udah jelasin, kalau Aku yang jelasin pasti dia ngga bakalan percaya,, "kata Pak Direktur.
"Kalau gitu Aku balik yah,, "sambil bangun dari duduknya, Aku pun ikut bangun.
"Iya,, hati hati di jalan, maaf ngga Aku antar ke depan,, "Pak Direktur hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja.
"Dea,, kamu hebat yah bisa membuat pria dingin ini jatuh cinta,, "saat Aku akan keluar dari ruanganya, lalu Aku hanya tersenyum sekilas saja.
__ADS_1
Kita pun keluar dari Hotel dan menuju mobil.
"Pak,, biar Saya yang bawa mobil, Bapa pulang aja ini buat ongkos,,"sambil menyodorkan uang pada Pak sopir. setelah itu pak sopir pun pergi.
Aku dan Pak Direktur pun masuk mobil, Aku tetap masih diam.
"Jangan diam terus, Saya ngga suka lihatnya, "Sambil menyetir Pak Direktur berkata.
"Maaf,, "hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutku.
Pak Direktur mengambil tanganku, dan di ngenggamnya tanganku.
"Saya serius ingin menikah denganmu, Saya sama sekali tidak ada niatan untuk main main, semenjak Mamah Zara meninggal Saya sama sekali ngga tertarik dengan namanya perempuan atau niatan untuk menikah lagi,tapi saat Saya melihatmu di rumah Dian, Saya merasa grogi dan deg degan saat melihatmu, dan Saya fikir itu hanya Saya yang sedang merasakan posisi tidak mengenakan waktu itu, tapi saat Saya melihat kamu di hina oleh mantan suamimu kenapa Saya juga merasa sakit, Saya pun tidak tau ada apa denganku, tapi mungkin Tuhan sudah metakdirkan kita berjodoh, buktinya kamu sekarang kerja di perusaan saya, dan kita jadi bisa makin dekat"Aku mencerna setiap perkataan Pak Direktur.
Aku belum berani untuk menjawab permintaan Pak Direktur untuk menjadi Istrinya, karena Aku benar benar masih terluka karena penghianatan suamiku, selama 10 tahun hidup bersama tapi suamiku dengan enaknya meninggalkanku demi wanita lain,karena alasan Aku yang mandul, dan rasa sakit di hatiku belum sembuh sepenuhnya, tapi Aku pun tidak menolak dan melarang Pak Direktur untuk mendekatiku, yang Aku inginkan kalau Pak Direktur benar mencintaiku, Aku harap dia mau bersabar menungguku sampai benar benar rasa sakitku hilang,Aku sungguh terluka, kalau saja tidak ada kak Doni yang selalu memberiku nasehat ,mungkin Aku sudah gila atau mungkin bunuh diri.
"Mas,, Dea ngga menolak untuk Mas dekati dan Mas cintai,tapi untuk menikah sekarang sekarang ini Dea sungguh belum bisa, masih ada rasa takut di diri Dea, takut kalau nanti Mas akan menyesal telah menikahi Dea yang seperti ini, Dea rasanya minder dan juga belum tentu nanti Mamahnya Mas merestui kita, terlalu banyak perbedaan kita Mas, menikah itu bukan utuk main main kita juga butuh pengenalan dari sifat kita masing masing,, "kataku sambil mengusap air mataku yang tiba tiba mengalir, rasanya dadaku sungguh sakit.
"Maaf membuatmu menjadi terbebani atas permintaan Saya,, Saya hanya takut kehilangan kamu karena kamu lah wanita yang bisa membuat fikiranku berubah,dan Saya jadi punya keinginan untuk menikah lagi,Saya akan selalu sabar. dan masalah Ibu biar Saya yang urus, Ibu Saya orangnya baik kok,jadi jangan kuatir masalah Ibu,"sambil Pak Direktur mencium punghung tanganku.
"Kalau saja pertemuan kita itu dulu sebelum Aku menikah, pasti tanpa pikir panjang Aku akan mau menikah denganmu, kamu pria mapan, baik dan tegas, Aku tidak akan menolaknya, "dalam hatiku berkata dan menatap Pak Direktur yang sedang menyetir.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya, trimakasih...