MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Dua Garis Merah (Dea)


__ADS_3

Sore hari Dinda dan Agung datang ke rumah Hendra,karena tadi siang Dea menelfon Dinda untuk datang ke rumahnya.


"Sore Bi,, maaf bisa datangnya jam segini,, "saat Dinda dan Agung sudah di dalam rumah.


"Ngga papa yang penting kamu datang, yu masuk,,"kta Dea.


Lalu mereka bertiga masuk ke dalam.


"Kak Dindaa,, "teriak Zara dan langsung memeluknya.


"Hai Zara,,, kok sudah tinggal di kota ngga pernah main sih ke rumah Kaka,, "sambil melepaskan pelukanya.


"Maaf kak,, Zara belum sempat,, "


"Ya udah yuk,, kita lihat Papah kamu yang sedang sakit,, "Zara pun menurut dan berjalan bersama menuju kamar Hendra.


Lalu setelah di dalam kamar Dinda langsung memeriksa Hendra, sedang Zara dan Mas Agung menunggu sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


Saat Dinda memeriksa semua kondisi Hendra, semuanya normal dan ngga ada yang bermasalah.


"Yang om rasakan apa,,? "Tanya Dinda.


"Perut rasanya mual, ingin muntah tapi ngga ada yang di muntahkan, hanya ludah saja, kalau bau minyak wangi yang menyengat perut rasanya seperti di aduk aduk,, "Hendra mengatakan semua yang dia rasakan pada Dinda. Dinda pun tersenyum mendengarnya.


"Din kamu kok malah tersenyum gitu sih,sakit Apa sebenarnya suami Bibi ini,,? "


"Suami Bibi ini ngga sakit kok, "sambil Dinda membereskan peralatanya.


"Terus kenapa dia muntah muntah kaya gitu,, ?"


"Sepertinya yang harus di periksa Bibi dulu deh, biar jelas Om sakitnya karena apa,,? "


"Aduh Din,, Bibi makin ngga ngerti yang kamu bicarakan sih,, jelasin yang bener napa,,? "


"Sepertinya program Bibi agar cepat hamil sudah ada hasilnya deh, coba Dinda priksa Bibi dulu,, "sambil memeriksa denyut nadi di tangan dan juga di dada.Dea yang kaget dan belum percaya dengan perkataan Dinda masih tetap diam.


"Sebaiknya untuk membuktikanya kita harus beli tespek deh,, "

__ADS_1


"Ini Mamah dah beli,, "Mamah yang tiba tiba masuk kamar sambil membawa kantong keresek.


"Wah kebetulan sekali Mah,, "kata Dinda, Dinda memanggil Mamah Hendra dengan sebutan Mamah karena di suruh Mamah Hendra, karena biar sama sama Dea.


"Soalnya Mamah sudah curiga dengan sakit dan keanehan mereka berdua,, "jawab Mamah.


"Oh gitu,, Bi coba Bibi pake, sanah Bibi ke kamar mandi, "Dea yang masih belum percaya kalau dia hamil hanya mengikuti saja apa yang Dinda katakan, karena Dea juga penasaran apa dia hamil.


"Din,, tapi Bibi ngga tau caranya, Bibi takut salah, kamu ajarin Bibi yuk,, "kata Dea saat masuk kamar mandi meminta Dinda menemaninya.


"Iya Bi,, Dinda temani yuk,, "Dinda pun bangun dari duduknya.


Dea dan Dinda pun masuk ke kamar mandi, Hendra yang tidak enak tiduran terus karena ada Agung pun bangun menuju sofa, dengan berjalan pelan.


"Sudah Hen tiduran aja,, "kata Agung.


"Ngga papa,, masa ada tamu di biarkan saja,, "lalu mereka saling berjabat tangan.


"Zara,, bilang mba gih, suruh buatkan kopi buat pApah Akbar,, "kata Hendra pada Zara.


"Ngga usah repot repot lah,, "kata Agung.


"Iya Pah,, "jawab Zara dan langsung keluar kamar.


Saat Hendra dan Agung sedang mengobrol, Dea dan Dinda keluar dari kamar mandi, Dea dengan senangnya langsung berlari ke arah Hendra yang sedang duduk di sofa.


"Bibi jangan lari gitu,,, "kata Dinda, tapi Dea tidak mendengarkanya.


Dea langsung memeluk Hendra yang sedang duduk, dan sambil menangis.


"Mass,, Dea hamil,, Dea hamil Mass,,, "sambil menangis Dea berkata. Dan di tangan Dea adah hasil tesek yang memperlihatkan dua garis merah yang sangat jelas.


"Iya Sayang,, selamat yah,,,"Hendra pun mencium kening Dea dan mengusap air mata Dea.


"Om,, besok antar Bibi ke klinik Dinda yah, biar di sana bisa di periksa dengan jelas,,, "


"Mamah juga mau ikut mengantar Dea besok,"kata Mamah yang ikut antusias dengan kehamilan Dea.

__ADS_1


"Iya,, besok Akan Saya antarkan,, "


Dea bangun dari pangkuan Hendra dan memeluk Mamah.


"Mah,,,, "


"Iya,, sayang.selamat yah ahirnya penantian kamu untuk hamil terwujud juga,, "Dea mengangguk senang sambil tersenyum.


Lalu Hendra tiba tiba mual saat seorang mba membawa kopi masuk ke dalam kamarnya.


Hokkk,,, hokkk,,,


Hendra pun lari ke kamar mandi, Dea dengan tlatenya selalu menemani dan memijit leher belakang Hendra.


"Yang,, itu bau kopinya buat Mas mual,, tolong bilangin suruh bawa keluar aja,, "selesai Hendra muntah dan duduk di kloset, sedang Dea seperti biasa yang mengelap dan membersihkan mulut Hendra yang basah.


"Iya Mas,, Dea akan suruh bawa keluar dulu kopinya,, "sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


Dea lalu meminta maaf pada Agung karena kopinya Dea bawa kuar, Agung pun mengerti dan kopi lalu di bawa keluar lagi, dan di ganti dengan minuman jus buah untuk Dinda dan Agung.


Hendra pun keluar dan langsung naik ke kasur karena merasa lemas.


"Din,,, kenapa Mas Hendra kaya gini sih,,? "sambil duduk di kasur dekat Hendra.


"Itu karena Om Hendra yang nyidam Bi, jadi Bibi yang hamil tapi Om Hendra yang merasakan nyidamnya,, "kata Dinda menjelaskan.


"Tapi nga apa apakan Din,,? "


"Ngga,, cuman gitu Om akan sering muntah dan pusing, kadang permintaanya aneh juga makananya susah,, "


"Ini sampai kapan Din, Mas Hendra akan seperti ini,?"


"Biasanya sampai kandungan Bibi 4 bulan,, "jawaban Dinda membuat Hendra dan Dea saling pandang.


"Selama itu,,? "tanya Dea dan Dinda hanya mengangguk.


"Besok Dinda akan kasih Obat buat Om Hendra, mudah mudahan bisa mengurangi rasa mualnya,, "

__ADS_1


Setelah mengobrol cukup lama, ahirnya Dinda dan Agung pun pamit pulang.


Jangan lupa like, komen dan votenya,, trimakasih....


__ADS_2