MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Mendapat Restu


__ADS_3

Aku duduk di sofa depan ibunya papah, dan papah duduk di sebelahku,rasanya campur aduk takut ibunya papah ngga setujuin hubungan kita, jadi makin banyak penghalang untuk aku dan papah menuju halal.


"Apa kamu serius dengan anak ibu, kamu tidak memanfatkanya kan, apa kamu juga ngga merasa gimana gitu,, karena Agung bekas suami ibumu, "kata ibunya papah.


Rasanya mulutku susah sekali bicara, karena tatapan mata ibunya papah yang sangat sulit di tebak.


"Insaaloh Dinda mencintai dan menyayangi mas Agung dengan tulus, tidak ada niatan Dinda untuk memanfaatkanya, kalau Dinda ingin bermain main dengan hubungan ini, tidak mungkin Dinda membawa mas Agung untuk menemui kedua orang tua Dinda. kalau masalah bekas suami ibu, Dinda ngga masalah karena hadirnya rasa ini untuk mas Agung setelah ibu dan mas Agung berpisah, jadi Dinda ngga merasa merebut mas Agung dari ibu Dinda, mereka juga berpisah dengan baik, jadi Dinda rasa tidak masalah buat dinda tentang mas Agung bekas suami ibu Dinda,!"


"Apa kamu tidak malu kalau kamu sampai menikah dengan Agung ,karena perbedaan umur kalian terpaut jauh, Agung lebih pantas jadi ayahmu bukan suamimu,"


"Insaaloh ngga bu, Dinda memang menyukai pria yang lebih dewasa, soalnya bisa membimbing dan melindungi, "jawabku, sebenarnya aku merasa gugup tapi aku mencoba untuk bisa mengontrolnya.


"Bukankah orang tuamu tidak merestui hubungan kalian,?apa kamu mau jadi anak durhaka yang mau melawan orang tuamu, "aku langsung bingung untuk menjawabnya. papah tiba2 menggenggam tanganku, dan menatapku.


"Ibu,,,, udah bu, jangan bikin Dinda merasa tertekan, ibu bukanya mencarikan ide buat kita,bukan malah menambah masalah, "kata papah.


"Terus ibu harus gimana Gung, ibu hanya ingin melihat keseriusan Dinda,bukan maksud apa apa, "jawab ibu.


"Apa yang perlu ibu bantu buat kaliyan, hemm..., "kata ibu lagi. dengan tersenyum ibu berkata.


"Apa ibu merestui hubungan kita, "tanyaku yang tiba2 merasa ada angin segar.


"Menurut Dinda gimana, "aku hanya tersenyum sambil memandang ke arah papah. sedang papah membalas senyumku sambil menganggukan kepalanya.


"Kalau ibu tidak keberatan bisa tolong bujuk Farida untuk merestui Agung dan Dinda, "kata papah.


"Insaaloh ibu akan bantu, asal kalian berdua bisa bahagia ibu ikut bahagia."jawab ibu.


Aku tersenyum mendengar jawaban ibunya papah, alhdhulilah ibunya papah mendukung hubungan ku dengan papah, malah dia mau membantu berbicara kepada ibuku, membuatku sangat senang.


"Ayo kita makan siang bersama, ibu sudah masak banyak loh, "sambil berdiri ibu mengajak kita makan.

__ADS_1


Lalu papah menarik tanganku agar aku ikut makan,kami pun masuk ke dapur dan melihat ibu yang sudah duduk,aku dan papah pun langsung ikut duduk, kita pun makan bersama dengan tenang.


Selesai makan, aku pamit untuk pulang, dan papah mengantarku pulang.


"Ibumu kapan ada di Rumahnya Din, "tanya ibu.


"Katanya ibu besok sore baru pulang bu, "jawabku.


"Oh,, kalau ibumu sudah di rumah kabarin ibu yah, ibu mau main ke rumah, "aku pun tersenyum dan bilang, "ya, "


Setelah menyalami tangan ibu, aku pun langsung pergi dengan papah, aku dan papah sesekali melempar senyum, mungkin karena ibunya papah mau membantu bicara dengan ibuku, membuat aku dan papah sedikit senang, karena ibunya papah juga merestui hubungan kita.


.


.


.


Sekitar 30 menit perjalanan kita sampai di sebuah komplek perumahan yang masih baru, aku berfikir papah ingin mengajaku kerumah temanya mungkin.


"Ayo,, kita turun,"ajak papah, dan aku pun mengikutinya.


Tanganku di gandengnya untuk masuk ke dalam rumah yang cukup besar tapi belum rampung sepenuhnya, sepertinya tinggal finising gitu.


"Ini rumah siapa Ayy,,,? "tanyaku.


"Ini nantinya untuk rumah kita, bersama anak anak kita juga tentunya,!"jawab papah sambil memeluku dari belakang. Aku langsung kaget mendengarnya.


"Serius ini rumah untuk kita Ayy,, ?"tanyaku lagi, sambil aku membalik tubuhku agar berhadapan dengan papah.


"Iya,, adek suka ngga hemmm, "

__ADS_1


"Suka,,, nanti Dinda yang pilih warna tembok dan prabotanya yah Ayy,, "kataku yang sambil melepas tangan papah yang memeluk pinggangku. sedang papah hanya mengangguk dan tersenyum.


Aku dan papah melihat semua ruangan dan kita juga ke belakang rumah, di belakang terdapat kolam renang yang tidak terlalu lebar juga ada pepohonan yang tidak terlalu besar .


Setelah puas di ruangan bawah dan belakang kita langsung menuju lantai atas.


"Adekkk,,, Kita lihat di atas yuk, liat kamar buat kita apa adek suka atau tidak, " sambil menggandeng tanganku papah mengajak ke lantai atas.


Saat sudah di atas, rupanya ada dua kamar dan depan kamar yang berhadapan ada ruangan yang bisa untuk kita bersantai, aku membuka kamar yang papah tunjukan untuk kita, saat ku buka kamarnya cukup luas lalu aku masuk ke kamar mandinya, ternyata lumayan besar juga, karena rumah ini belum selesai jadi belum ada barang barang, semuanya masih kosong.


"Yang depan kamar kita nanti itu buat kamar anak2 kita, ayo kita lihat dek, "


Aku pun mengikuti papah untuk masuk ke kamar satunya lagi, saat di lihat kamarnya lebih lebar juga panjang.


"Ayy,, kenapa kamar yang ini lebih besar,? "tanyaku.


"Iya,, nanti kalau anak2 kita sudah besar aku bisa rombak lagi, tapi kalau anak2 kita masih kecil2 biar bisa di kamar yang sama dan bisa main dengan bebas karena ruanganya besar.


Aku hanya tersenyum, ternyata pemikiran papah sudah sangat matang.


"Ayy,, kenapa yang kerja ngga ada, ?"tanyaku.


"Mereka aku suruh libur hari ini, karena aku dan adek mau kesini, biar ngga ada yang ganggu kita berdua, dan juga aku ngga suka kalau nanti banyak tukang2 yang lihatin kamu, "ya ampun papah sampai segitunya dia berfikir.


"Adek suka kan rumahnya,? "tanya papah padaku.


"Suka pake banget,, makasih yah Ayy sudah merencanakan kehidupan untuk kita, "sambil ku rangkul tangan papah,


"Aku pengin imbalanya dong, "kata papah dan aku langsung mengangkat kepalaku, "Ayy mau apa emangnya, "jawabku. sedang papah menujuk bibirnya.


"Dasar mesum ihhh,,, "kataku sambil ku pukul lenganya.

__ADS_1


Papah langsung memegang tanganku,dan di genggamnya, lalu papah merapatkan tubuhnya ke tubuhku, di angkatnya satu tangan papah menarik tengkuk ku, lalu papah mencium bibirku dengan sangat lembut, karena terbawa suasana tanganku pun terangkat dan ku kalungkan ke leher papah, kita berdua pun menikmati ciuman ini.


__ADS_2