
Hari ini hari terahir Mba Eva kerja, karena akan cuti lahiran, dan hari ini Aku sangat banyak pekerjaan ,tapi Aku selalu semangat untuk mengerjakanya.
"Ngga bingung kan De,,? "tanya Mba Eva padaku yang memberiku setumpuk map lagi.
"Lumayan bingung sih Mba,, "jawabku sambil tersenyum.
"Pelan pelan aja, dan kalau kamu ngga ngerti langsung tanya aja sama Pak Direktur,,, kayanya Pak Direktur suka deh sama kamu,, dia duda loh De,, "
"Apaan sih Mba,, mana ada Pak Direktur lirik janda kaya saya,, dia kan orang kaya pasti banyak wanita cantik yang mau sama dia, dan Aku ngga bakalan masuk kreterianya,,, "kataku sambil tersenyum tipis.
"De,, namanya jodoh itu kita ngga tau loh,, dan mungkin saja Pak Direktur jodoh kamu,, "Aku Hanya menggelengkan kepala.
"Udah deh Mba kita lanjut kerja aja,, dari pada ngomongin masalah yang ngga penting,, "kataku.
Lalu mba Eva pun mulai mengajari Aku lagi,,saking seriusnya sampai tak terasa sekarang sudah waktunya jam makan siang.
"Eva sama Dea,, ikut Saya, kita makan siang di luar ,,"Mba Eva yang menjawab, sedang Aku hanya diam saja.
Setelah itu kita bertiga pun turun ke bawah dan langsung naik mobil Pak Direktur.
"Va,, giman Dea,, apa dia sudah bisa untuk gantiin kamu,, "saat di dalam mobil Pak Direktur bertanya pada Mba Eva.
"Dea orangnya cepat mengerti kok Pak, kalau saat ini sih sudah banyak mengerti tapi belum semuanya, karena Saya belum sempat mengajari semuanya.
"Iya sukur deh kalau gitu, karena kalau sampai Dea ngga pintar bisa bisa Saya yang pusing,,, "kata Pak Direktur sambil melihat ke kaca sepion atas kearahku. dan mata kita untuk berapa detik pun bertemu.
Sekitar 20 kita sampai di restoran yang cukup mewah, Aku dan Mba Eva berjalan di belakangnya Pak Direktur, mengikuti kemana dia akan duduk.
"Ayo kita langsung makan,, "saat sampai di sebuah meja yang sudah penuh oleh makanan, sepertinya nih orang setiap mau ke restoran selalu pesan dulu deh, karena setiap kita samai makanan sudah ada di meja.
__ADS_1
Lalu Aku dan mba Eva pun duduk, setelah Pak Direktur mempersilakanya.
Setelah Acara makan siang selesai kita kembali ke kantor. dan saat Aku mau duduk Pak Direktur menyuruhku untuk membikinkan kopi.
"Udah bilang belum sama Dinda kalau mau tinggal di apartemen,, "saat Aku meletakan gelas di meja, dan sebagai jawaban Aku hanya menggeleng.
"Kenapa belum,, apa Aku yang harus bilang pada Dinda,, "
"Ngga usah Pak,, tapi nanti setelah gajian Saya mau cari kos kosan saja,,"
"Udah Saya katakan,, Saya ngga mau dengar kata penolakan,, "lalu karena ngga mau berdebat Aku langsung akan pergi keluar, tapi tanganku di tariknya sampai ahirnya Aku jatuh ke bangkuan Pak Direktur.
"Awww,,"teriaku yang kaget, saat Aku akan langsung bangun justru Pak Direktur memeluk pinggangku agar Aku tetap duduk di pangkuanya.
"Pak lepasin,, ini di kantor takut mba Eva lihat atau yang lainya,, ini ngga patas Pak,, "sambil Aku menarik tangan Pak Direktur dari pinggangku.
"Jawab Iya dulu baru Saya lepaskan,, "sambil kepala Pak Direktur makin mendekat ke telingaku.
Tanganya pun langsung di lepaskan dari pinggangku, dan dia hanya tersenyum seperti tak ada dosa. Aku buru buru keluar, dan menarik nafasku karena kejadian tadi sungguh membuatku tak nyaman.
"Kamu ke napa De,, di apain sama Pak Direktur,, "sambil tersenyum.
"Ngga kenapa kenapa mba,, hanya di dalam rasanya panas,, "sambil duduk di kursi.
"Panas gimana sih De,, orang ada AC kok panas,,, "Aku pun tersenyum malu.
Sore harinya saat kita akan pulang, Mba Eva berpamitan padaku dan menyemangatiku untuk semangat kerja.
Setelah Mba Eva pergi bersama suaminya,Aku berjalan menuju halte. dan sebelum sampai halte mobil Pak Direktur berhenti di sampingku.
__ADS_1
"Masuk,, "saat kaca pintu mobil terbuka, hanya suara kata masuk saja yang ku dengar.
dengan tatapan penuh ancaman.
Lalu dengan cepat Aku masuk, karena takut ada yang melihat.
"Pak kita ke apartemen yang di Sudirman dulu,, " kata Pak Direktur pada pak supir, sedang Aku hanya diam, malas untuk bertanya.
Di mobil kita hanya saling diam, Pak Direktur sibuk dengal laptopnya, sedang Aku memainkan hpku.
Setelah sampai di aprtemen yang cukup mewah,kita pun turun, Aku dan Pak Direktur masuk ke gedung apartemen, sedangkan pak supir menunggu di mobil.tanganku di gandengnya dengan sangat kencang sampai Aku merasa sedikit sakit.
"Pak,,, tangan Saya sakit,, bisa lepasin ngga, "saat kita ada di dalam lif.
"Jangan panggil Pak kalau sedang di luar De,, kamu tuh ngga pernah dengar yah omongan Saya,, "sambil melepaskan tanganku.
"Hemmm,, maaf, "sambil tersenyum kikuk.
Kita sampai di lantai 15,dan kita berdua masuk ke sebuah apartemen yang cukup bagus dan mewah.
"Ini apartemen siapa Mas,, bagus banget, apa punya Mas,,? "sambil Aku melihat lihat setiap ruangan.
"Iya ini punya Saya, besok kamu pindah sini yah,,, "sambil mengikuti Aku dari belakang.
"Apa,,, ngga ngga ini terlalu bagus dan pasti sewanya mahal,, Dea ngga mau,, "
"Siapa yang suruh kamu sewa,, ini Saya cuman nyuruh kamu untuk tempati,, ngga perlu sewa,, "
"Tapii,,, "lalu Pak Direktur sambil mendekatiku, dan sebelum Aku selesai bicara, dia sudah bicara lagi.
__ADS_1
"Ngga ada tapi tapian dan ngga ada penolakan, besok kamu harus pindah kesini,,ngerti,, "Aku lalu mengangguk karena Pak Direktur sekarang sudah di depanku, dan kita berhadapan dengan posisi sangat dekat.
Jangan lupa like, komen dan votenya,,, makasih...