MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Bibir Vivi Terasa Bengkak


__ADS_3

Akbar dan Vivi sedang duduk di sofa,Akbar sambil tiduran dan kepalanya ada di pangkuan Vivi.tangan Vivi yang satunya mengusap kepala Akbar dengan sayang,dan satu tanganya di genggam oleh Akbar.


"Mas,,ini udah malam,Saya balik ke kamar yah,"


"Tunggu bentar lagi,5 menit lagi,"Vivi mengangguk pelan.


"Mas saya boleh nanya ngga,,?"


"Mau nanya apa,,?"


"Mas,,kenapa Mas ngga lanjutin S1 di sini aja,kenapa harus di Amerika,?"


"Kenapa emangnya,ngga mau di tinggal yah,"sambil wajah Akbar mendongak.


"Bukan gitu,Saya hanya ingin tau aja kenapa Mas ambil S1ngga di sini,apa Mas punya pacar di sana,,?"Akbar tersenyum lalu bangun dan duduk.


"Kalau Aku punya pacar,buat Apa Aku minta kamu untuk jadi pacarku,Aku ingin ambil S1 di sana karena Aku sudah mendaftar dan Aku di sana juga bisa mengambil ilmu lebih banyak,karena Aku di sanan sudah jadi Asisten Dosen,"Vivi mengangguk.


"Kamu mau kan nunggu Aku dua tahun,?"sambil kedua tangan Akbar menggenggam tangan Vivi.


"Iya Saya mau kok nunggu Mas,"Akbar tersenyum,lalu mencium tangan Vivi.


"Ya udah saya keluar ya Mas,udah 5 menit kan,"


"Iya,,tidur langsung yah,,"keduanya bangun dari duduknya.


"Iya,,"sebelum Vivi keluar Akbar memeluk Vivi dulu sebentar,lalu Vivi pun keluar dari kamar Akbar,Vivi jalan dengan pelan.


Ahirnya Vivi sampai kamar dengan selamat,dan tidak ada yang melihatnya.


Pagi pun datang,Vivi bangun seperti biasa dan lansung mandi lalu bersiap untuk pergi ke klinik.sebelum pergi Vivi sarapan dulu.


Vivi ke dapur untuk sarapan,saat sedang makan,Akbar masuk ke dapur.


"Aden butuh sesuatu,?"tanya Mba siti.

__ADS_1


"Iya Mba,Saya cari Vivi,"sambil melihat ke Vivi mata Akbar.


"Oh gitu,,tuh Vivinya sedang makan,"Akbar mengangguk.


"Ada apa Den,ada yang perlu di bantu,?"


"Obat sama selep sudah habis,tolong ambilkan yah trus antar ke kamar,tapi kamu sesaikan makanya aja dulu,"


"Iya Den nanti Saya antar,"Setelah itu Akbar balik ke kamarnya,sedang Vivi lanjut makan.


Vivi selesai makan lalu keruangan kusus obat,dan mencarikan salep juga obat buat Akbar.setelah dapat Vivi ke kamar Akbar.


"Den ini obatnya,minum dulu yah udah sarapan kan,?"


"Ulang lagi bicaranya,kita sedang berdua loh ini,"Vivi mengeleng pelan sambil tersenyum.


"Mass,,sayangg,,ini obatnya di minum yah,udah sarapan kan,,?"


"Nah gitu dong,iya sayangku sinih Mas Minum obatnya,"keduanyA pun tersenyum.


Akbar meminum obatnya,setelah itu Vivi membantu mengoles salep di lenganya.


"Iya,,tapi nanti bekasnya item gini apa bisa balik putih,?"


"Nanti bisa balik putih kok,,nanti setelah lukanya sembuh ada salep buat ngilangin bekas luka ,jadi jangan kuatir,"Vivi selesai lalu membereskan lagi obat dan salepnya.


"Udah ya Mas,saya mau ke klinik dulu,"


"Iya hati hati,dan nanti kalau habis ketemu frengki telfon Aku yah,"Vivi mengangguk.


Keduanya bangun dan berdiri,Akbar yang melihat wajah Vivi sangat enak di pandang lalu menghentikannya dulu.


"Ada apa lagi,?"Akbar tersenyum.


"Aku senang sekali lihat wajahmu,wajahmu ngga membosankan buat di lihat,"Vivi tersenyum.

__ADS_1


"Pagi pagi udah ngegombal aja,mana ada wajah yang di lihat ngebosenin,ada ada aja kamu Mas,"


"Ada,,pasti ada,,tapi kamu ngga,Aku suka lihatnya,"sambil mengusap pipi Vivi,Vivi yang di perlakukan seperti itu sedikit kaku dan mata mereka pun saling pandang.


Entah siapa yang duluan,tapi saat ini bibir mereka sudah menempel,Akbar mulai melu*mat bibir Vivi dengan pelan,Vivi yang kaget dengan kelakuan Akbar hanya bisa diam,bibir Vivi pun terbuka membuat Akbar makin bisa menerobos masuk.


Luma*tan dan juga sedotang Akbar lakukan di bibir Vivi,Vivi ahirnya menikmati,dan tangan Vivi mencengkeram baju Akbar dengan kencang,tangan Akbar yang kanan menekan leher Vivi yang belakang ,membuat Vivi tidak bisa terlepas.


Akbar melepaskan ciumanya,lalu menyatukan kening mereka,Vivi nafasnya masih belum teratur,karena Akbar benar benar membuatnya kehabisan nafas.


Akbar lalu mengusap pingiran bibir Vivi yang basah karena ulahnya,bibir Vivi yang bawah terlihat bengkak,karena Akbar menyedoktanya cukup lama.Pipi Vivi sudah terlihat merah karena malu.


"Sudah,sanah keluarlah,kalau kamu lama lama di sini nanti Aku malah makin membuatku gila,"Vivi hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Akbar.


"Vi kamu lama amat di kamar Den Akbar,ngapain aja sih,itu pak supir dah nungguin kamu loh,?"tanya mba Siti.


"Iya Mba,ya udah Vivi berangkat dulu udah siang,"Sambil menunduk,Vivi ngga berani mengangkat wajahnya,karena takut kelihatan ada yang aneh di wajahnya.mba Siti hanya geleng kepala melihat tingkah Vivi.


Vivi ke kamarnya mengambil tas,setelah itu.langsung keluar menuju mobil.dan pak supur lalu mengantar Vivi ke klinik.


Vivi di mobil juga sama,selalu menunduk dan duduknya sedikit memojok ke kaca,agar pak supir ngga terlalu melihatnya.


Sampai ke klinik Vivi masuk ke ruanganya,Vivi lalu langsung lanjut kerja,saat sudah mulai Kerja,Vivi penasaran dengan bibirnya.


"Ya Tuhan,benar saja rasanya bibirku terasa berat dan aneh,rupanya jadi bengkak gini,"Vivi sedang menganca.dan Vivi lalu mengolesinya dengan warna bibir,ternyata warna bibirnya sampai habis karena ulah Akbar.Vivi juga sambil meraba rabanya sambil tersenyum tipis.


Jam pun berlalu,sekitar setengah dua belas,Frengki datang ke ruangan Vivi.


"Hai,,Vi,,"Vivi tersenyum.Frengki lalu mendekati dan duduk.


"Masih sibuk,,?"


"Ngga kok,ini udah mau selesai,tunggu bentar ya,"Frengki menjawab Iya.


Vivi lalu menyelesIkan pekerjaanya dan setelah itu merapikan meja kerjanya juga.

__ADS_1


Vivi mengambil tasnya dan langsung pergi bersama Frengki setelah merapikan mejanya.Frngki membukakan pintu mobil buat Vivi dan Vivi lalu masuk,tanpa Vivi dan Frengki sadari ada yang melihat ke arah mereka terus dari mulai mereka keluar dari klinik.


Jangan lupa like,komen dan votenya trimakasih..


__ADS_2