MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Vivi Belum Memberikan Kawaban Pada Akbar


__ADS_3

Vivi terus saja memejamkan matanya,dan tidak berani membukanya,sedang tangan Vivi mencengkram kaos Akbar dengan kuat,kedua tangan Akbar memegang pipi Vivi kanan dan kiri,makanya Vivi ngga bisa berkutik karena wajahnya di pegang oleh tangan Akbar.jantungnya saja yang berdetak kencang juga berdebar.antara takut,malu dan menikmatinya.


Vivi sudah kehabisan nafas,Akbar sudah merasakanya,lalu Akbar melepaskan ciumanya.Vivi langsung menghirup udara dari mulutnya sebanyak banyaknya.


Vivi dengan pelan membuka matanya,dan saat mata terbuka Vivi langsung melihat Akbar yang sedang tersenyum ke arahnya,membuat Vivi merasa malu dan pipinya langsung memerah dan menunduk.


Akbar lalu mengangkat dagu Vivi,dan wajah Vivi jadi terangkat,lalu Akbar mengusap bibir Vivi yang basah karena ulahnya.dan mata Akbar tidak lepas dari bibir Vivi dan terus di tatapnya tanpa berkedip.


"Den,,tangan Aden berdarah,,"Akbar lalu melihat ke tanganya,dan benar perbanya banyak darahnya.


"Aaaww,,sakit,,"Akbar langsung merasa kesakitan,dari tadi Akbar tidak sadar dengan tanganya yang sedang sakit.Vivi justru tersenyum saat melihat Akbar yang kesakitan sambil dia jalan ke sofa.Vivi lalu mengikutinya.


Sampai di sofa Akbar langsung duduk dan mengacungkan tanganya ke arah Vivi.


"Sakit,,?"tanya Vivi saat membuka perban di tangan Akbar.


"Iya,,sakit banget ini,,"


"Tadi kayanya ngga kesakitan deh,"


"Iya tadi ngga kesakitan,karena di kasih bibir manis,"Vivi langsung menunduk karena malu drngan ucapan Akbar.


"Aaawww,,,sakit Vi,,"Vivi dengan sengaja menekan lukanya saat memasang perban baru setelah lukanya di beri obat.


"Makanya jadi orang jangan main sosor,kaya soang aja main sosor,tangan lagi sakit aja macam macam,,"Vivi sedikit ngomen dan Akbar hanya tersenyum.


"Soang itu apa,?"


"Soang itu hewan sejenis bebek tapi yang besar dan lehernya juga panjang,kalau ada orang lewat depanya suka ngejar dan ingin nggigit orang yang lewat,"Akbar hanya mengangguk.


"Lagian semalam ngga kesini dan di telfon juga ngga di angkat angka,"


"Iya semalam Saya ketiduran ,maaf,,"


Lengan Akbar sudah selesai di perban,dan Vivi bertanya pada Akbar mau makan pakai apa.


"Sudah selesai,sekarang tinggal sarapan,Aden mau sarapan pakai apa,?"


"Aku udah pengin makan pake telur dadar ,noleh ngga sih Vi,,"


"Lukanya masih basah yang di lengan,jangan dulu,"

__ADS_1


"Tapi Aku pengin banget,"


"Tapi ngga boleh,sup daging sapi aja yah,"Akbar membuang nafasnya.


"Terserah lah,"


"Ya udah saya ambil dulu makanya,"Akbar mengangguk dan Vivi keluar dari kamar Akbar.


Akbar meraba bibirnya dan teringat tadi berani banget nyium Vivi,untung aja Akbar ngga di tampar gara gara main cium,tapi ya hasilnya tanganya sakit lagi.


Akbar rupanya saat di Amerika sesekali kalau sedang libur Kuliah apa kerja sering melihat Drakor,jadi tau caranya berciuman.


Vivi datang sambil membawa nampan yang berisi nasi dan sup.lalu Vivi mulai menyuapi Akbar.


"Kemarin makan siang di mana sama Dia,?"


"Dia siapa,,kapan,?"


"Kamu tuh calon Dokter ya Vi jangan pelupa,atau pura pura lupa yah,jawab,,?"


"Kita makan di tempat makan yang ada di daerah Sc,"


"Banyak,"Vivi sambil terus menyuapinya.


"Contohnya apa,,?"nada Akbar sudah sedikit berbeda.


"Frengki minta jawaban tentang perasaanya,"


"Memangnya dia nyatain cinta sama kamu,"Vivi mengangguk.


"Trus kamu jawab Apa ke dia,kamu aja belum jawab pernyataanku,?"Vivi diam.


"Jangan bilang kamu menerimanya,,"


"Ngg,,ngga,,saya belum menjawabnya,"Akbar lalu mengambil piring di tangan Vivi,dan menaronya di atas meja.


"Trus kamu bingung pilih Aku apa dia gitu,"Vivi mengangguk.


"Apa yang membuatmu bingung begini,?"sambil menggenggam tangan Tiwi.


"Saya dan Frengki sudah kenal lama,dan dia sangat baik sama Saya,dia sudah pernah nyatain perasaanya sama Saya,tapi Saya jawabnya belum mau pacaran dulu karena masih ingin fokus kuliah,dan sekarang Frengki menanyakan jawaban tentang perasaanya karena Saya sudah lulus kuliah,"Akbar langsung merasa lemas,dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil melepaskan genggaman tanganya di tangan Vivi.

__ADS_1


Akbar sepertinya sudah ngga punya harapan,karena Vivi pasti memilih Frengki yang memang seperti Vivi tadi bilang,mereka kenal sudah lama dan di tambah Frengki baik padanya,Frengki juga sudah sukses jadi Akbar pun sudah ngga berharap banyak.


Vivi pun melihat Akbar yang langsung diam merasa ngga enak banget,pasti Akbar marah dalam hati Vivi berkata.


"Aku ngga mau memaksamu atau merayumu untuk jadi kekasihku,karena kita kenal juga baru dan kita juga suka selisih faham,kalau kamu memang ingin menerima Frengki Aku tidak akan marah,Aku akan mundur,,"Perkataan Akbar membuat dada Vivi terasa sesak dan sakit,Vivi lalu menunduk dan menahnya.


Rupanya Vivi sampai menahan air matanya agar tidak tumpah.rasa sakit di dadanya tidak sebentar,makanya mata Vivi sampai berkaca kaca.


"Kenapa ngga mau memperjuangkan perasaan Aden,kalau Aden memang cinta dan sayang harusnya jangan nyerah seperti itu,karena perempuan itu melihat seberapa besar perjuanganya laki laki untuk mendapatkan perjuanganya,ngga menyerah langsung seperti ini,"


"Karena Aku sudah tau jawabanya,perempuan pasti cari laki laki yang baik,yang akan ada di dekatnya dan juga selalu ada di saat dia membutuhkanya,sedang Aku ,dua minggu lagi apa sebelum dua minggu lagi akan pergi jauh,mana ada sih perempuan yang mau LDR an,,"Vivi diam.


"Keluarlah,Aku ingin sendiri,Aku sudah selesai makan kan,obat Aku bisa meminumnya sendiri,"Akbar lalu bangun dari duduknya dan menuju kasur,Akbar lalu merebahkan badanya.


Vivi yang melihat Akbar menyuruhnya pergi merasa sakit,air matanya sampai jatuh ke pipi.


"Kenapa Aku sesakit ini,dengar dia menyuruhku keluar ,"Vivi mengusap air matanya yang jatuh,lalu membawa nampanya keluar dari kamar Akbar.


Saat pintu tertutup Akbar menangis sambil memeluk guling.


"Ya Tuhan,,kenapa rasanya sesakit ini,apa Aku tidak boleh bahagia Tuhan,dulu saat bersama Sila hanya sebentar Aku merasakan kebahagiaan,dan sekarang di saat Aku sudah bisa melupakan Sila dan mencintai dia,tapi dia tidak mencintaiku,,apa Aku tidak pantas di cintai Tuhan,,"


Vivi berangkat ke klinik di antar pak Supir,dan selama di jalan Vivi terus saja diam.


"Kamu kenapa Vi,dari tadi ngelamun aja,ada masalah,?"tanya pak Supir.


"Ngga pak,ngga ada apa apa,,"jawab Vivi.


"Mulutmu bisa bilang kaya gitu,tapi wajahmu itu kelihatan sedang ada masalah,,"


"Vivi sebenarnya lagi bingung Pak,"


"Bingung masalah apa,pasti.masalah laki laki yah,"Vivi mengangguk dan tersenyum tipis.


"Ada apa,coba ceritaiin siapa tau Bapa bisa bantu,,?"


"Vivi bingung karena ada dua laki laki yang menyatakan perasaanya pada Vivi,dan keduanya baik,yang satu Vivi shdah kenal lama dan dia sangat baik,yang satu baru kenal dan dia juga baik walau kadang dia menunjukanya dengan suka marah,tapi Vivi tau kalau dia orang yang baik juga,Vivi bingung mau terima yang mana,"Pak Supir mengangguk.


"Kalau menurut Bapa Kamu jangan lihat kebaikanya saja karena kalau orang menyukai kita pasti akan baik,tapi kenyamanan kamu saat di dekatnya atau hati kamu saat sedang bersamanya,apa kamu merasakan debaran dan jantung kamu bekerja lebih cepat saat bersamanya atau tidak,dan jangan melihat dari lamanya kita kenal dia,kadang walau kita sudah lama kenal tapi justru jodoh kita yang baru bertemu,"Vivi diam sambil berfikir tentang apa yang di katakan Pak Supir.


Jangan lupa like komen dan votenya,trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2