MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Menikah


__ADS_3

Saat Aku bilang sama Ibu meminta izin untuk pernikahanku dan Mas Hendra di percepat,Ibu langsung memeluku dan sambil menangis, kata Ibu dia sangat bahagia mendengar kalau justru Aku tidak meninggalkan Mas Hendra dan ingin pernikahanya di percepat, ya memang lebih baik di percepat fikirku, karena Aku bisa merawat Mas Hendra tanpa ada batasan. karena Ibu sudah tua dan ngga mungkin kan kalau Ibu 24 jam jagain Mas Hendra dan Ibu juga punya penyakit darah tinggi, itu kan ngga boleh cape dan harus istirahat yang cukup juga.


Lalu Ibu menyuruhku untuk menelfon kakaku untuk datang ke kota dan Zara di suruh ikut juga. Aku pun menelfon Kaka dan mengatakan tentang keinginanku untuk menikah dengan Mas Hendra di percepat karena Mas Hendra yang mengalami kecelakaan, Kaka pun menyetujuinya dan akan segera bersiap dan berangkat ke kota bersama Zara, kalau Kak Dian ngga bisa ikut karena sedang kurang fit, kasian juga karena sedang hamil muda.


"Makasih,,, "kata Mas Hendra saat Aku selesai menelfon kaka, sedang Ibu sudah pergi katanya ingin mempersiapkan acara penikahku yang akan di adakan di sini.


"Ngga usah berterimakasih,, mungkin ini memang jalan yang Tuhan kasih untuk kita agar secepatnya menikah,, "sambil ku usap tangan Mas Hendra.


"Apa kamu tidak malu kalau punya suami yang mukanya banyak luka gini,, "Aku menggeleng dan tersenyum.


"Malu kenapa,, ya ngga lah. lagian yah calon suamiku ini banyak uang ,kan nanti bisa oprasi pastik,, "kataku sambil sedikit bercanda agar Mas Hendra tidak minder.


Luka di wajah Mas Hendra tidak lah parah, hanya luka goresan, mungkin nanti setelah kering akan ada bekasnya, tapi sekarang kan banyak salep penghilang tanda bekas luka, jadi ngga peru di takutin sih.


Saat Aku sedang mengobrol sambil menghibur Mas Hendra, Rizki pun datang. dan membawa beberapa map yang harus di tandatangani oleh Mas Hendra.


Lalu Mas Hendra dengan susah payah memberi tanda tangan, dan setelah Aku dan Rizki membantunya untuk duduk dulu, dengan menahan sakit Mas Hendra berusaha duduk.


Setelah semua di tandatangani, Mas Hedra menyuruh Rizki untuk menghendel semua pekerjaanya, dan juga Mas Hendra menyuruh Rizki agar mencari orang untuk membantunya.


"Oh iya Riz,, nanti sehabis mahrib kamu ke sini lagi yah,, karena Saya dan Dea akan menikah,,, "kata Mas Hendra, Rizki seperti tidak percaya lalu melihat ke arahku.


"Iya Riz, Nanti Saya sama Mas Hendra akan menikah,, kamu hadir yah,, "Rizki hanya menganggukan kepalanya saja.


"Iya,, Saya pasti akan datang,, "katanya, lalu Rizkipun pamit untuk balik ke kantor lagi.


Sekitar pukul 4 sore, kaka dan Zara pun sudah sampai di rumah sakit.


"Permisi,, "


"Kaka,, Zara,ayo masuk,, "kataku saat melihat Kaka dan Zara yang buka pintu.


"Papah,,, "sambil sedikit berlari dan langsung memeluk Mas Hendra.


Sedang Aku dan Kaka pun saling peluk dan menanyakan kabar.


"Gimana kabar kaka dan kak Dian,,? "

__ADS_1


"Kaka sehat,tapi kak Dian karena masih hamil muda, dia masih sering muntah dan belum doyan makan ,"lalu Aku dan kaka mendekat ke Mas Hendra, dan Zara .


"Gimana keadaan kamu Dra,sudah lebih baik kan,,? "


"Ya masih begini lah Mas,, "


"Ya yang sabar aja, emang kaya gini pasti sembuhnya lama,,, "Mas Hendra pun mengangguk.


"De,, apa kamu yakin akan menikah,,? "saat kita berdua duduk di sofa, sedang Mas Hendra sedang di suapi buah oleh Zara.


"Dea yakin kak,,karena Dea ingin mengurus Mas Hendra.biar lebih nyaman, Dea ingin menikah dulu ,"


"Kalau memang sudah keputusanmu begitu, Kaka hanya bisa mendoakan supaya kelak rumah tanggamu bisa selalu bahagia,"Aku pun tersenyum senang.


Sekarang Aku sedang mengganti baju kebaya yang di bawa Ibu Mas Hendra di kamar mandi.setelah selesai Aku pun keluar.


"Wah cantiknya calon menatu Ibu,, Zara sayang gimana menurut Zara,,? "kata Ibu.


"Tante mah emang dasarnya udah cantik, jadi pakai baju apa pun ya tetap cantik,, "sambil memeluku dari sambing. sedang Aku hanya malu. Dan Mas Hendra pun ikut tersenyum.


"Gimana,, apa semuanya sudah siap,,? "tanya Pak Penghulu.


"Sudah Pak,, "jawab Kak Doni.


"Kalau gitu kita lakukan ijab kobulnya sekarang saja,, silakan di bantu Masnya untuk duduk,, "kata Pak Penghulu.


Lalu Mas Hendra di bantu Rizki untuk duduk di ranjang pasien dengan sedikit tegak, Aku duduk di sebelah Mas Hendra, sedang di depanku ada Pak Penghulu dengan Kak Doni.


Lalu Mas Hendra pun mengucapkan ijab dengan satu kali tarikan nafas, dan Pak Penghulu pun menanyakan kata Sah.


Lalu semua orang yang ada di dalam ruangan pun menjawab SAH.


Semuanya mengucap sukur atas kelancaran acara ijab ini. Setelah berbincang sebentar Pak penghulu pun undur diri dan di antar pulang oleh Rizki.begitu juga Dokter serta ada suster juga yang tadi ikut melihat acara ijab juga undur diri.


"Selamat yah,, sekarang Adek sudah punya Suami lagi, jadi tanggung jawab kaka sudah selesai, "sambil mengusap kepalaku.


"Iya Kak,, terimakasih atas segala dukungan dan kasih sayang kaka untuk adek, "sambil ku cium tanganya.

__ADS_1


"Hendra,, Saya harap kamu jadi suami yang bertanggung jawab dan sayang pada Dea, kalau kamu sudah tidak mencintai Dea pulangkan saja pada Saya, jangan sampai kamu menyakitinya, sudah cukup Dea merasakan kesakitan dari yang kemaren, "


"Mas tenang aja,, Saya akan menyayangi dan mencintai Dea dengan sepenuh hati,"


"Saya pegang kata katamu,, "sambil berjabat tangan kaka dan Mas Hendra.


Lalu satu persatu pun memberi selamat padaku dan Mas Hendra.


"Zara kamu mau tidur rumah oma apa rumah kak Dinda hemm,, "tanya kaka ke pada Zara.


"Zara tidur rumah Oma saja ,besok Oma anterin ke rumah Kak Dinda gimana,, ?"kata Ibu. Dan Zara sedikit berfikir.


"Boleh ngga Yah, kalau tidur rumah Oma,, "


"Ya boleh,, kita pulang ke kampungnya besok malam kok,jadi Zara masih banyak waktu sama Oma dan Papah,, "Zara pun mengangguk senang.


"Ya udah,, Kaka mau pulang dulu sama Pamuji, "kata kaka.


"Bi,, selamat yah,, maaf Dinda ngga bisa jenguk sama datang kesini soalnya repot,, "sambil menyalamiku.


"Iya ngga papa, salam buat Dinda yah,, "kataku pada Suami Dinda,dan Suami Dinda menjawab iya.


"Selamat ya Hen,, ahirnya di balik musibah, malah justru kamu jadi cepat nikah sama Bibi,, "Suami Dinda sambil bercanda.


"Iya nih Mas,, Rencana Tuhan benar benar tak bisa kita tebak,, "sambil tersenyum.


Setelah Kaka dan Suami Dinda pulang, sekarang giliran Ibu dan Zara yang akan pulang.


"Ibu mau pulang juga,,? "tanyaku.


"Sekarang jangan Ibu lagi dong panggilnya, panggil Mamah kaya Hendra panggil yah sayang,, "Aku pun mengangguk sambil tersenyum.


"Iya Ma mah,, "kataku sedikit terbata.


"Bagus,, ya udah Mamah sama Zara mau pulang dulu, sudah malam ini,, "Sambil mencium pipiku .Lalu setelah Aku mengantar Ibu dan Zara sampai di pintu Aku pun berjalan ke arah Mas Hendra, dan kita pun saling melempar senyum.


Jangan lupa like komen dan votenya yah,, trimakasih..

__ADS_1


__ADS_2