MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Fitri Sudah Tertangkap


__ADS_3

Dinda dengan di bantu oleh dua orang polisi yang bersembunyi, mulai menjalankan aksinya, Dinda sedikit menyamar dan ingin sedikit menggoda satu pria teman fitri.


Setelah Dinda mengetuk pintu cukup lama, pintu pun terbuka, dan pria itu memandan Dinda dengan tatapan yang sulit di artikan.


Di satu sisi Dinda sangat menggoda, dan satu sisi lagi laki laki itu sedikit curiga.


"Hai,, kenalin Aku Dinda, Aku tadi di suruh datang kesini sama teman Mas,,"pria itu melihat Dinda dari atas sampai bawah.


"Dimana temanku sekarang,,? "


"Di katanya mau beli sesuatu dulu di bawah, "


"Ya udah ayo masuk,, "sambil menarik Dinda agar masuk ke dalam. Tapi Dinda menahanya.


"Tunggu dulu dong, sabar,, jangan buru buru,, "Dinda lalu sedikit sok manja, sambil tangan Dinda metangkul leher si laki laki itu.


Tapi rupanya di tangan Dinda sudah memegang suntikan, dan dengan sedikit Dinda menggodanya dengan seakan akan ingin mencium si pria, jarum suntik pun siap di suntikan di leher.


Saat bibir Dinda sedikit lagi akan bersentuhan dengan bibir si pria, Dinda langsung menyuntikan di lehernya, Dinda seorang Dokter jadi tau dimana letak yang baik untuk menancapkan jarum suntiknya itu.


"Aaawww,,brengsekkk,, "si pria merasakan sakit, dan lalu mendorong badan Dinda, Dinda pun terpental ke belakang sampai menabrak tambok, Dinda lalu kesakitan dan si pria mendekat Dinda, dan akan menyakiti Dinda.


Tapi sebelum tangan si pria mendarat di badan Dinda, pria itu sudah ambruk lalu polisi langsung membawanya.


"Apa Bu Dinda baik baik saja,, "tanya sang kapten saat mendekati Dinda, karena Dinda kesakitan di badanya.


"Saya baik baik saja, pak tolong sekarang lakukan penggrebeganya, kasian suami dan anak anak saya,, "


"Bsik Bu,, ayo semuanya bersiap,, masukkk,,, "kata Kapten polisinya dan semua bawahnya langsung masuk.

__ADS_1


Pintu kamar rupanya di kunci oleh Fitri, dan polisi langsung mendobraknya.


"Jangan bergerakkk,,, "polisi mengarahkan tembakan ke arah Fitri.


Tapi Fitri sepertinya sudah mendengar suara ribut ribut dari di luar, jadi Fitri juga sudah dengan pisou nya yang sudah mengarah di leher Agung.


"Kalian tembak Saya, saya pun akan langsung menusukan pisou ini ke pria brengsek ini,, "sambil pisou itu sudah sedikit menekan ke leher.


Agung masih dengan keadaan di ikat, tapi kancing baju Agung sudah terlepas semuanya,


"Anda jangan macam macam, menyerah lah,"


"Lebih baik saya mati bersama pria berengsek ini dari pada saya harus mendekam di penjara,, "


"Mba Fitri tolong jangan jangan lakukan itu,saya akan memaafkan Mba tapi tolong lepaskan anak dan suami saya,, "dan kembar ada di kasur sebelah Agung.


"Hahaaa,,, jangan omong kosong kamu,, Aku tidak percaya sama sekali pada kalian manusia manusia munafik,, "


"Sayangnya saya tidak percaya,, "kata Fitri sambil terus menusukan pisou ke leher Agung, sampai darah sudah terlihat mengalir.


Saat Fitri lengah, ada satu polisi yang menyelinap ke belakang Fitri, dan polisi itu langsung menarik Fitri ke belakang.


"Jangan bergerak,,, "Pisou yang di tangan Fitri langsung di tarik oleh polisi dan di bekuknya Fitri, setelah itu Fitri di borgol dan di bawa pergi.


Sedang Dinda langsung melihat ke arah anaknya yang sudah pucat, sedang Agung di buntu satu polisi untuk melepaskan ikatan yang mengikat di tubuh Agung.


"Mass,,,, kembar Masss,,, "Kata Dinda sambil memeriksa keadaan si kembar.


"Kita bawa langsung ke rumah sakit sekarang Yang ayo,,, "sambil Agung mengancing kembali bajunya.

__ADS_1


Agung dan Dinda sedang menuju ke rumah sakit dengan membawa si kembar yang belum juga bangun dari pengaruh bius yang Fitri berikan.


Agung membawa mobilnya dengan sangat cepat, sedangkan Dinda dari tadi di bangku penumpang selalu berdoa dan mengecek detak jantung kembar terus.


Sampai di rumah sakit Agung dan Dinda membawa anaknya langsung ke UGD.


"Tolong anak anak saya,, "pada Dokter juga suster.


Walau Agung dan Dinda Dokter, tapi dalam kondisi cemas dan tidak tenang, Agung dan Dinda tidak berani bertindak sendiri,karena saat kita dalam keadaan sedang tidak baik ,takutnya pekerjaan yang kita lakukan kadang hasilnya tidak baik karena kurang kosentrasi.


Dinda dan Agung tetap berada di ruangan UGD, dan melihat para dokter bekerja menyelamatkan anak anaknya.


"Mas,,, kita obati lukamu dulu,lehermu berdarah,, "


"Ngga papa sayang,, ini hanya luka kecil,, "


"Tapi kita harus tetap obati, ayo Mas. kembar sudah di tangani kita percayakan pada mereka,, "


Lalu Agung pun ahirnya mau, dan keluar dari ruangan UGD menuju ruanganya Agung. sampai di ruangan Agung Dinda langsung mengobatinya, selesai Dinda memakaikan perban, Agung baru sadar dengan penampilan Dinda yang terlihat aneh.


"Kamu pakai baju apa ini Yang,, kenapa pakean kamu begini,, dan dandanya juga sedikit menor,, ?"mata Agung sudah melotot.


"Maaf Mas,, tadi Dinda membantu pak polisi untuk memancing pria temanya Fitri untuk keluar dari apartemenya,, "


"Lalu,, kamu di apakan olehnya, dan kenapa sih, polisi malah menyuruh kamu untuk ikut, kan udah Mas bilang kamu di rumah aja Yang,, "


"Dinda ngga tenang Mas, suami dan Anak anak Dinda sedang terancam, mana bisa Dinda duduk diam saja,, "


"Lalu,, Mas sudah di apakan saja oleh Fitri itu,?"

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya, trimakasih..


__ADS_2