MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Ungkapan Hati Akbar Ke Pada Vivi


__ADS_3

Vivi menyuapi Akbar makan sarapanya,Akbar belum boleh makan yang pedas pedas serta goreng goreng.Akbar makan pake sayur bening saja.


Selesai makan Vivi lalu memberinya obat,dan setelah itu baru mau mengganti perban di tangan Akbar.


"Vi,,sebenernya Aku tuh udah pengin mandi,badanku rasanya udah lengket banget ini,"


"Tapi Aden belum boleh mandi,takut lukanya basah,"


"Kan bisa di tutup plastik apa tangan kiriku di naikan biar ngga kena air,bisa kan,"


"Bisa sih,,tapi memangnya siapa yang mau bantu Aden mandi,"tangan Vivi sambil terus membuka perban Akbar.


"Kamu kan bisa bantu,"Vivi langsung menatap Akbar dan menghentikan tanganya yang sedang membuka perban.


"Kok Saya,,ngga mau lah,masa Saya bantuin Aden mandi,kita itu bukan muhrim,jadi ngga boleh,,"


"Kan Aku mandinya juga pake celana pendek,emang kenapa,,"


"Aden tetep aja itu ngga boleh,kalau Aden tetep mau mandi Saya pangil Pak Udin Yah,soalnya Papah Aden ngga boleh naik Sama Ibu,kakinya belum boleh untuk naik tangga,"


"Ngga mau,masa Aku di mandiin sama Pak Udin,,"


"Ya makanya kalau mau mandi tar sore apa besok aja kalau ada Ibu,,"Sambil Vivi mengolesi salep.


"Emangnya Mamah udah pergi,?"


"Udah tadi,Ibu ada oprasi di rumah sakit Ibu dan Anak,makanya Saya yang di suruh ke sini,habis ngurusin Aden baru Saya berangkat ke klinik,"Tangan Vivi sambil memasangperban lagi setelah di olesi salep.


"Kamu pergi naik taxsi apa di antar pak supir,?"


"Saya nanti di jemput sama Frengki,"


Degg,,jantung Akbar seperti terkena pukulan dan langsung sesak.


"Kamu di jemput siapa,,?"nada duara Akbar sudah berubah.

__ADS_1


"Di jemput Frengki,,"Vivi menjawab dengan pelan sambil melihat ke Akbar,karena Vivi mendengar suara Akbar yang langsung beda.


"Kenapa harus dia yang jemput,kenapa ngga naik taxsi aja,sebenarnya hubungan kamu denganya itu apa,,?apa kalian sepasang kekasih,"Nada suara Akbar sangat cuek,dan tatapan mata Akbar aja sudah serem.


"Sa,,saya hanya berteman dengan Frengki,"sedikit gugup.


"Tapi sepertinya kalian sangat akrab,"


"Ngga begitu Akrab kok,ini aja Ibu yang menyuruh Frengki jemput saya,saya ngga pernah minta untuk di jemput,karena saya ngga mau merepotkan orang,"


"Kalau gitu kamu harus tolak di jemput sama dia,bilang padanya kamu naik taxsi aja,"


"I,iya nanti Aku bilang,"


"Jangan nanti,tapi sekarang bilang,telfon sekarang,,"Akbar sudah terlihat marah.


Vivi membuang nafasnya kasar,"kenapa sih galaknya datang lagi,semalam aja manis banget bicaranya,tapi kenapa jadi galak lagi,"dalam hati Vivi berkata dan Vivi sambil mencari no Frengku.


"Hallo Freng,,"saat telfon sudah di angkat Vivi mau menjauhi Akbar,agar bisa bicara dengan leluasa ke Frengki,tapi Akbar menahanya,dan menyuruhnya tetap duduk.sambil memegang tangan Vivi.


"Ya Hallo Vi,,sudah mau di jemput,Aku berangkat sekarang yah,,"


"Loh kenapa ngga mau di jemput,kata Dokter Dinda kamu ngga boleh naik taxsi kan,Aku bisa kok jemput kamu,,"


"Aku ngga mau merepitkamu,biar Aku naik taxsi aja,maaf yah Freng,,"


"Iya tapi kenapa kamu ngga mau di jemput,biasanya aja kamu mau kok Aku jemput,kenapa sekarang ngga mau,,ada apa,,?"Vivi bingung mau menjawabnya,dan Vivi diam sebentar.tapi tiba tiba hpnya di ambil Akbar.


"Saya yang melarangnya,Saya ngga mau dan ngga suka kamu jemput Vivi,mulai besok jangan jemputin Vivi lagi,ngerti,"Akbar langsung bicara dan selesai bicara langsung hpnya di matikan.


Vivi yang melihatnya langsung kaget,dan merasa kesal juga pada Akbar.


"Aden tuh apa apaan sih,itu ngga sopan main ambil hp orang,dan ikut bicara lagi,,"Sambil sewot Vivi berkata dan langsung membereskan bekas bekas perban dan juga yang lainya,Vivi mau cepat cepat pergi dari kamar Akbar.


Akbar menarik tangan Vivi agar tidak pergi dulu.

__ADS_1


"Lepas,,saya mau keluar,ini sudahsiang,saya harus pergi ke klinik,,"


"Aku ngga bakalan lepasin kamu,Aku ngga mau kamu pergi dengan emosi seperti itu,"


"Siapa yang ngga emosi coba,Aden terlalu banyak ikut campur,"sambil menarik tanganya Vivi berkata.


"Karena Aku ngga suka kamu dekat dengan pria itu,apa lagi kamu bicara dan tersenyum padanya,saya ngga suka,,!"


"Apa urusanya dengan Aden,Aden mau ngga suka juga bukan urusan saya,lepass,,"


"Aku ngga suka dengan itu karena Aku cemburu,,Aku ngga suka kamu tersenyum di depanya,Aku cemburu ,,,"Vivi langsung diam dan tidak berontak lagi saat mendengar perkataan Akbar,Vivi benar benar kaget.dan Akbar lalu melepaskan genggaman tanganya di tangan Vivi.


"Aku menyukai kamu,Aku mincintai kamu,makanya Aku ngga suka kamu dekat dengan laki laki itu,terserah kamu percaya apa ngga tentang perasaaanku,tapi itulah yang Aku rasakan,"Vivi masih diam,tapi tanganya bergerak untuk merapikan barang.


Vivi tanpa memberi jawaban langsung pergi meninggalkan kamar Akbar setelah selesai membereskan semuanya.


Akbar hanya diam yang melihat Vivi pergi,Akbar tidak melarangnya karena mungkin Vivi masih kaget dengan pengakuanya untuknya.


Vivi keluar dari kamar Akbar langsung merasa gemetar,kakinya terasa lemas karena masih kaget dengan Pengakuan Akbar tentang perasaanya untuknya.


Vivi menuruni tangga dengan.pelan,setelah itu masuk dapur.


"Kamu kenapa Vi,kok kelihatan bingung gitu,?"tanya Mba Iis saat melihat Vivi diam.


"Emmm,,ngga papa Bi,,Bi Vivi mau pergi ke klinik yah,ini udah siang,"


"Tapi kamu belum sarapan ,,"


"Biar nanti Vivi beli aja di kantin klinik,"


"Ngga usah beli,kamu bekal aja yah,,biar Bibi siapkan,biar ngirit,sanah kamu ambil tas dan siap siap,Bibi juga bungkusin dulu makananya,"Vivi mengangguk dan keluar menuju kamarnya.


Di kamar Vivi duduk di pinggir kasur sambil.memegang dadanya yang dag dig dug ngga karuan.


"Ini ngga boleh terjadi,pasti Ibu dan Bapa ngga bakalan setuju tentang ini,Aku banyak sekali di beri bantuan oleh mereka ,Aku ngga mau mereka kecewa padaku,Aku harus gimana ini,,"

__ADS_1


"Apa Aku harus keluar dari rumah ini,Apa Aku kos aja,,ya Tuhan beri hambamu petunjuk,,Aku ngga mau merusak kebahagiaan keluarga ini,Aku takut kalau Aku nantinya yang akan membuat mereka jadi bermasalah,karena pasti Ibu dan Bapa mengingin menantu yang sama kaya dan suksesnya,sedangkan Aku ini apa,,"kata Vivi dengan pelan,dan tak terasa air matanya menetes.


Jangan lupa like,komen dan.votenya,trimakasih...


__ADS_2