MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Bermain Solo


__ADS_3

"Mas,, ini ayo makan dulu,, "sambil Aku mengacungkan sendoku di depan mulutnya, karena Mas Hendra sedang sibuk memeriksa lembaran demi lembaran kertas.


"Berhenti dulu emang ngga bisa apa Mas,, ini kamu lagi makan loh, nanti habis makan bisa di lanjutin kan,,? "kataku lagi sambil dengan sabarnya menyuapi Mas Hendra makan.


"Iya nyonyah,, siap laksanakan, "sambil menutup mapnya dan di taro di meja samping tempat tidur.


"Iiss,, apaan sih kok nyonyah,, "kataku sambil cemberut.


"Iya Sayang,, ini Mas udah ngga kerja lagi, ayo suapi,, "sambil mencolek daguku.


Lalu Aku pun melanjutkan menyuapinya dan sampai habis.


"Mau ke mana,, udah piringnya taro depan pintu aja, nanti ada Mba yang ambil,, "kata Mas Hendra saat melihatku membawa piring kotor keluar.


"Iya,,, Dea ngga turun kok,,"lalu Aku meletakan di bawah dekat pintu.


"Kamu mau kemana Mas,, tunggu Dea kenapa sih,, "saat Aku berbalik, Mas Hendra sedang berusaha turun dari kasur.


"Mau kekamar mandi,, ini udah ngga tahan,, pengin buang air kecil,, "Aku pun mendekati Mas Hendra, luka di kakinya sudah kering hanya masih sedikit linu katanya kalau di buat jalan, jadi jalanya Mas Hendra pun masih pelan.


"Mas Dea tunggu di depan pintu aja yah,,? "


"Kenapa emangnya ngga mau,, udah ngga mau bantuin nih ceritanya,, "


"Bukan gitu,, tapi... "


"Udah ngga usah tapi tapian,, tolong bantuin kaya kemaren kemaren ya De,,"Makanya Aku pengin nunggu di luar,karena makin ke sini makin malu karena Aku yang selalu membuka dan menutup celananya Mas Hendra, dan parahnya Aku juga yang mencuci itu burung,sedangkan Mas Hendra hanya memeganginya.


Walau pun ini bukan yang pertama Aku melihat burung, tapi rasanya masih malu saja.

__ADS_1


Aku pun membuka celana Mas Hendra lalu tangan Mas Hendra mengeluarkan burungnya, dan setelah selesai Aku yang membersihkanya, dan di sinilah letak Aku malunya, pastinya burungnya Aku pegang,rasanya sungguh sungguh malu karena Mas Hendra yang juga selalu tersenyum melihatku seperti grogi gitu.


Beda kalau Bab, kalau itu kan Mas Hendra duduk,jadi bisa sendiri. kalau buang air kecil karena kakinya masih sakit jadi kalau berdiri tegak belum bisa, jadi masih susah kalau mau membersihkanya.


Setelah selesai Aku membantunya naik ke kasur lagi.


"Sayang,,, "katanya memanggilku.


"Apa sih Mas,, ngga usah pangil sayang sayangan deh,, "


"Kenapa emangnya,,? "


"Dea malu,,, "kataku sambil ikut tiduran di samping Mas Hendra.


"Malu,, orang di panggil sayang sama suami masa malu,, "sambil kita sama sama menghadap, dan memiringkan badan. Aku hanya tersenyum.


"Saya sudah pengin,,, "sambil mengusap pipiku.


"De,,,, "sambil mendekatkan bibirnya ke bibirku, dan langsung me*umatnya dengan rakus, dan Tangan Mas Hendra menarik badanku agar makin mendekat dan merapat.


Aku pun membalas ciuman Mas Hendra, kita pun ahirnya berciuman, dengan sangat nikmat, dan suara cercapan sampai berbunyi.


Tangan Mas Hendra pun tidak tinggal diam, tanganya masuk dari bawah bajuku, dan langsung meremas buah dadaku dengan gemasnya.


Lalu karena Aku lihat tangan Mas Hendra yang kelihatan kesusahan,Aku pun menarik bajuku ke atas bersama pembungkus buah dadaku.


Aku pun wanita normal yang membutuhkan belaiyan dan di manjakan. Aku pun sama sangat menginginkanya, tapi perempuan masih bisa menahanya beda dengan laki laki.Aku yang sudah lama tidak di jamah, dan pastinya sangat ter***sang saat di sentuh.


Saat ciuman Mas Hendra terlepas dia langsung ke arah leher,, dan saat ciumanya ingin ke bawah terus,Aku merasakan Mas Hendra sedikit meringis kesakitan karena posisi badanya mau sedikit di turunkan, tetapi kakinya susah karena tidak bisa mengimbanginya.Lalu Aku pun yang berinisiatif untuk mencondongkan badanku dan sedikit badanku Aku dudukan.

__ADS_1


Mas Hendra langsung meraih buah dadaku, dan seperti bayi yang kelaparan Mas Hendra meny**otnya begitu rakus. Aku pun sangat menikmatinya, sambil bibirku sesekali meringis dan mengeluarkan suara saat Mas Hendra memainkan daging kecilnya. Sambil ku usap usap kepalanya, dan posisi ini seperi seorang ibu yang memberi asi pada bayinya.


Cukup lama Mas Hendra bermain di dadaku, sampai tanda merah bertebaran di dadaku, di mana mana.


"Sayang,,, ini rasanya sudah ingin keluar,, tapi bingung mau gimana caranya,, "sambil memendamkan wajahnya di dadaku.


Aku pun merasa kasihan melihatnya tersiksa, kalau Mas Hendra di atas itu tidak mungkin, kalau Aku di atas pun pasti gerakanku akan membuatnya sakit.


Lalu Aku pun ada ide,, biarlah kita suami isti ini,, ngga perlu malu demi menyenangkan suami.


Lalu Aku pun membuka celana Mas Hendra, setelah itu Aku menggunakan tanganku untuk mengelus setelah itu Aku menggerakanya naik turun,, Mas Hendra sudah merasakan keenakan. Sambil mulutnya selalu mendesis.


"Sssstttt,,, uuuhhh,, sayang enaknyaa,,, "saat tanganku bergerak pelan tapi pasti.


Lalu Aku pun mendekatkan bibirku pada burungnya, dan ku mainkan dengan lidahku,, setelah Aku mainkan dengan lidah seperti makan es krim, sekarang Aku masukan ke mulutku dan tanganku pun sambil memegangnya. Oh iya.. ukuran burung Mas Hendra itu lebih panjang dari mantan suamiku yang dulu, dan waktu Aku pertama lihat pun Aku sedikit kaget karena kepanjanganya itu, sampai Aku berfikir bisa masuk semuanya ngga ini, kataku waktu dulu pertama lihat.


Setelah Aku mainkan dengan tangan dan mulutku, ahirnya cairan itu pun menyembur keluar dengan derasnya.


"Yanggg,,, ooohhhh,,, "sambil menekan mulutku ke dalam, Alhasil mulutku pun penuh dengan cairannya, Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkanya.


"Maaf,, "kata Mas Hendra saat Aku baru keluar dari kamar mandi, dan tatapanku sangat tajam ke padanya.


"Besok Dea ngga mau lagi,,"kataku, sambil mengelap cairan yang sedikit terkena ke seprei.


"Jangan dong,, tadi bener bener enak soalnya,, jadi ngga bisa kontrol,, maklumin lah sayang, soalnya sudah 12 tahun Saya mainya solo terus, jadi saat ada yang bantuin dan rasanya sangat nikmat, ya jadi ngga bisa ngontrol,, jangan marah yah,, "sambil menarik tanganku dan menciuminya.


Aku pun yang mendengar cerita dari Mas Hendra langsung mengangguk tanda memaafkan, dan yang bikin Aku ingin memaafkanya, berarti Mas Hendra selama 12 tahun tidak pernah jajan di luar dan dia bisa menahanya,, kan hebat dia, Fikirku.


**Jangan. lupa like komen dan votenya,, trimaksih..

__ADS_1


Habis baca ini lanjut ke cerita baruku ya kak, "MENIKAH DENGAN GIGOLO MAMAH** "


__ADS_2