MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Agung Jatuh


__ADS_3

Vivi langsung diam saat Akbar menyuruhnya pergi,Vivi belum pergi karena Dinda belum keluar dari kamar mandi dan belum pamitan.


Untungnya Dinda tidak lama di kamar mandi,setelah Dinda keluar Vivi langsung pamitan.


"Vi nanti kalau ada yang perlu di tandatangani dan itu penting,kamu anatarkan ke sini yah,minta antar supir klinik aja jangan naik taxsi,"


"Iya Bu,,kalau gitu Saya pergi dulu ya Bu,,"


"Iya hati hati,,"


Vivi pun lalu keluar dari ruang rawat Akbar,lalu Vivi langsung menuju klinik.


"Sayang kamu makan yah,Mamah suapi,"


"Iya Mah,,"


Dinda lalu duduk di samping Akbar dan mulai menyuapinya.


Sekitar jam 11 siang Agung membuka perban yang menutupi mata Akbar.setelah di buka Akbar meminta kaca untuk melihat wajahnya.


"Pah ,,Mah,,mata Abang kok bengkak gini sih,"sambil.memegang pelan bangkaknya.


"Besok juga sembuh,itu hanya bengkak karena pelipis Abang luka,"


"Abang bisa lihat kan,,?"tanya Dinda.


"Bisa Mah,,"


"Sukur,,ngga buram kan pandanganya,,?"Akbar menggeleng pelan.


Akbar lalu tiduran lagi,Agung dan Dinda masih di sebelah Akbar.


"Pah,,Mah,,Maafin Abang yah yang selalu bikin repot dan bikin masalah,"


"Jangan bicara seperti itu sayang,Mamah sama Papah juga tau pasti Abang tidak mau kan seperti ini,ini hanya musibah dan teguran untuk Abang dari Tuhan,jadi Abang kalau sedang menyetir harus lebih hati hati,"Kata Dinda sambil mengusap lengan Akbar.


"Iya Mah,Abang janji bakalan lebih hati hati lagi,kemarin tiba tiba kepala Abang pusing dan pandangan Abang buram,jadi Abang menabrak pembatas jalan,"Dinda mengangguk.


"Papah pulang dulu yah,nanti sore Papah ke sini lagi,biar Mamah nanti malamnya bisa tidur di rumah,,dan Papah yang tidur di sini,"


"Iya Pah,,"Lalu Dinda mencium tangan Agung,dan Agung juga mengusap kepala Akbar dengan pelan.


Setelah itu Agung pulang,Selesai makan siang Akbar tidur karena pengaruh obat.

__ADS_1


Vivi datang kerumah sakit karena ada berkas yang harus di tandatangani Dinda,Vivi sebenarnya malas tapi mau gimana lagi karena ini memang kerjaanya.


Sampai di rumah sakit Vivi menuju ke ruang rawat Akbar.Dinda menyuruh Vivi duduk ,saat melihat Akbar tidur Vivi lalu tidak banyak bicara.


"Vi,,kamu di sini dulu,Saya mau ke ruang Dokter,soalnya saya ada urusan sebentar,mumpung di sini jadi saya bisa kasih ini berkas ke rumah sakit ini,,"Vivi hanya mengangguk .


Vivi lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tasnya,Vivi rupanya mau mengerjakan skripsinya yang tinggal sedikit lagi.


Saat Vivi sedang mengetik,terdengar suara Akbar memanggil Dinda.


"Mahh,,,Mamah,,,"Vivi lalu bangun dari duduknya dan mendekat ke Akbar.


"Ibu sedang keluar sebentar katanya Den,"Akbar melihat Vivi ada di situ langsung menatapnya dan Akbar juga langsung diam.


Vivi melihat Akbar langsung diam dan menatapnya lalu menunduk karena tidak enak,dan berlahan mundur untuk kembali duduk.


Vivi sebenarnya merasa ngga enak ,karena sikap Akbar yang kembali dingin padanya.tadinya walau masih sedikit galak tapi Akbar sudah lebih perhatian dan kadang malah bikin baper,Vivi jadi bingung mau gimana sekarang.


Vivi kembali ke sofa,dan lanjut untuk mengetik,Akbar sebenarnya haus tapi ngga mau minta tolong pada Vivi,rupanya Akbar masih bertahan dengan egoisnya juga karena masih kesal pada Vivi.


Dinda tidak lama datang,dan Akbar yang melihatnya langsung memanggilnya.


"Mahh,,,Mamah dari manasih lama banget,?"


"Abang haus Mah,,"


"Kan Ada Vivi ,kenapa ngga minta tolong padanya,,"Sambil Dinda mengambil botol minum yang ada sedotanya.


Vivi yang mendengarnya jadi merasa ngga enak,takut Dinda berfikir kalau Vivi ngga mau bantu Akbar.


Setelah Minum Dinda mendekati Vivi,lalu Dinda duduk di sofa.


"Maaf Bu tadi bukanya Vivi ngga mau bantu Den Akbar ,tapi Den Akbar ngga bilang pengin minum,"


"Iya Vi,,Saya sudah tau kok,udah duduk,,"Vivi duduk lagi.


"Maaf Bu sebelumnya,tapi Ibu tau dari mana,?"


"Ya tau sendiri,ngga mungkin kan kamu di minta tolong tapi ngga mau,,"Vivi mengangguk pelan sedang Dinda tersenyum.


Dinda lalu membahas masalah kerjaan dengan Vivi,dan tidak terasa sudah jam 5 sore,Agung belum juga datang ,lalu Dinda menelfonya.


Hpnya berdering tapi tidak di angkat angkat,lalu Dinda telfon rumah.ahirnya di Angkat oleh mba.

__ADS_1


"Hllo Mba,,Bapa ada ngga yah,,"


"Iya Bu,,bapa ada,tapi Bapa tadi habis jatuh,,"


"Jatuh,,jatuh gimana maksudnya mba,,"


"Bapa terpeleset di belakang rumah saat mau kasih burung,,"


"Kenapa ngga telfon Saya Mba,,"


"Iya Bu kita ngga kepikiran,soalnya kejadianya ini baru banget,,tadinya Bapa mau pergi ke rumah sakit tapi Bapa mau lihat burungnya dulu,terus bapa ngga lihat ada air jadi bapa terpeleset,"


"Sekarang Bapa gimana,,?"


"Itu sama Pak Udin sedang di urut Bu,,"


"Ya Tuhan,,ya udah saya mau langsung pulang kalau gitu,,"Telfon pun di matikan.


"Sayang,,Papah jatuh di taman belakang,di tempat kandang burungnya,Mamah mau pulang dulu yah,kamu di sini sama Vivi dulu,Mamah mau lihat keadaan Papah,,"


"Iya Mah,,nanti kalau sudah di rumah kabarin Abang yah,,"


"Iya sayang,,Vivi saya minta tolong jagain Akbar yah,,saya pulang dulu,"


"I,,iya Bu,,"dalam hati Vivi lemes langsung.


Dinda pun langsung pergi,dan sekarang tinggal ada Vivi dan Akbar.


"Den Akbar kalau butuh sesuatu panggil saya yah,saya duduk di situ,"Akbar hanya diam,Vivi lalu kembali duduk.


Vivi lanjut mengetik,dan sesekali melihat ke Akbar,tapi Akbar hanya diam.


Sekitar setengah jam Dinda telfon ke hp Vivi,dan ingin bicara pada Akbar tentang ke adaan Papahnya.


"Sayang Papah kakinya kesleo,tapi ini sudah di urut,Mamah mungkin ngga bisa ke situ malam ini,tapi besok Mamah akan datang,Maaf ya sayang,,malam ini kamu sama Vivi dulu,"kata Dinda di telfon,hpnya di sepeker jadi Akbar dengar saat Vivi mendekatinya.Setelah Akbar menjawab iya telfon pun mati.


Vivi jadi merasa bingung harus gimana,karena Akbar sepertinya bukan hanya cuek tapi juga terlihat marah.


"Den,,apa aden marah sama Saya,kalau saya ada salah saya minta maaf,"Akbar masih diam.


"Tolong beri tau kesalahan Saya biar saya tidak mengulaingnya,saya ikut kerja di ibu sangat betah dan nyaman,tapi kalau aden seperti ini ke saya ,saya jadi tidak merasa nyaman ,dan merasa ngga enak sama Ibu,takutnya Ibu berfikir saya tidak mau membantu atau mengurus aden,jadi saya merasa bersalah,,"Akbar masih tetap diam.


"Apa gara gara kata kata saya kemarin,,,"Vivi berkata dengan pelan.

__ADS_1


Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih..


__ADS_2