
Agung sangat kaget saat mendengar nama orang yang merencanakan pembunuhan untuknya. sampai Agung bertanya dua kali pada polisi yang menelfonya hanya untuk memastikanya.
Dan Agung juga di haruskan pergi ke kota semarang hari ini juga, makanya polisi menelfon pagi pagi agar Agung bisa pergi hari ini juga.
"Sayang,,, Yang,,, "Agung memanggil Dinda, tapi ternyata tidak ada, Agung lalu memesan tiket pesawat dengan hpnya, setelah telfon dari polisi mati.
Setelah pemesanan berhasil ,Agung langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi. selesai mandi Agung lalu memakai baju, dan setelah selesai Agung pun keluar dari kamar.
"Yang,,, kamu lagi apa,,?"tanya Agung pada Dinda saat melihat Dinda ada di dapur.
"Lagi buat sarapan buat Abang dan kembar Mas,, ada apa,,? "
"Kita harus pergi ke kota semarang hari ini juga,, karena polisi sudah menangkap otak dari pembunuhan Mas,, "
"Serius Mas,,, ya udah kalau gitu sekarang Mas pesan tiket pesawat dulu gih,, "
"Mas udah pesan, dan nanti penerbanganya jam 10 pagi,, "Dinda langsung melihat jam.
"Ya udah Dinda selesaikan buat sarapanya dulu,nanti baru mandi, Mas bantu siap siapin yang lain aja yah,, "
"Iya,, ya udah Mas ke kamar,, "Dinda mengangguk.
Lalu Dinda sambil memasak juga bilang sama mba Iis yang ada di dapur ikut bantu Dinda membuat sarapan, Dinda bilang titip anak anak, dan ngga usah fokus pada kerjaan yang penting anak anak di urus, Mba Iis pun mengerti.
Dinda sudah selesai buat sarapan untuk anak anaknya, setelah itu Dinda memberikan ke Mba Iis, sedang Dinda mau bersiap untuk pergi.
"Sudah selesai,, ?"tanya Agung saat Dinda masuk kamar.
"Sudah,, Mas udah selesai rapiin keperluan kita,,? "
"Udah,, kalau gitu Mas mau ke anak anak, sayang mandi gih,, "
__ADS_1
"Iya Mas,, "
Dinda masuk kamar mandi, sedang Agung keluar dari kamar.
Dinda mandi ngga pake lama, Dinda memakai baju dan memoles wajahnya. setelah siap Dinda ke kamar anak anak untuk memanggil Agung juga untuk pamitan pada anak anak.
"Mas,, Dinda usah siap, "
"Iya sayang,, kita pamitan sama anak anak dulu yah,, "Dinda mengangguk.
"Abang,, Mamah sama Papah mau pergi, Abang di rumah sama Mba dulu yah, dan ngga boleh rewel,, "
"Abang pengin ikut,, Mah,, Pah,, "
"Kok ikut sih,, nanti kalau Abang ikut yang jagain adek adek siapa, kasihan mba nanti kalau ngga ada Abang,, Abang kan anak pintar yang suka jagain adik adiknya,, "Dinda masih membujuk.
"Abang kan jagoan, jadi ngga boleh rewel dan nurut sama Mamah dan Papah yah,, Nanti Papah belikan mainan buat Abang,, Abang mau apa,, ?"kata Agung ikut membujuk.
Dinda dan Agung sejarang sudah di bandara, dan keberangkatan akan segera berangkat.
"Apa Mas udah tau siapa otak dari semua yang menimpa Mas,, ?"Agung mengangguk.
"Siapa Mas,,? "Dinda langsung bertanya dengan cepat. Mereka berdua sekarang sudah ada di dalam pesawat yang sedang mengudara.
"Nanti sayang lihat aja sendiri, sialnya Mas juga belum percaya apa yang di katakan polisi tadi,, "
"Iihh,,, nyebelin banget sih Mas, tinggal ngomong juga,, "
"Sabar,, Mas takut salah orang,, kita nanti lihat sama sama aja,, "sambil mengusap rambut Dinda.
Ahirnya Agung dan Dinda sampai juga di kota semarang, sekarang mereka berdua sedang ada di dalam taxsi. dan akan menuju kantor polisi.
__ADS_1
Sampai kantor polisi Agung dan Dinda lalu di pertemukan dengan tersangka utamanya. Dinda menggenggam tangan Agung saat sedang duduk dan menunggu tersangka datang.
Dinda dan Agung sama sama kaget saat melihat siapa di depan mereka, dengan menggunakan kaos orange dan tangan di borgol berdiri di depan mereka.
"Do,, Dokter Bu,, Budi,,, "kata Dinda gagap.
"Mas ini kita ngga salah lihatkan,, "Agung mengelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan,,, kenapa, kenapa Dokter Budi tega melakukan ini semua kepada suamiku,,apa salahnya suamiku sampai Dokter Budi tega ingin melenyapkanya.. "bicara Dinda sambil menangis, menangis karena tidak menyangka, karena orang yang di kenalnya baik dengan prestasi yang cukup bagus, justru merencanakan kejahatan pada suaminya.
"Maaff,,, karena rasa iri yang membuatku melakukanya,, "sambil menunduk.
"Iri,, iri di mananya,, kalian sama sama Dokter Bedah hebat,, dan apa yang di iri kan,,? "Dinda terus saja yang berkata, sedang Agung hanya diam karena masih cukup kaget.
"Karena dia bisa memilikimu, Aku ingin. memiliki dirimu seutuhnya, tanpa ada suamimu lagi,, "Dinda yang tadinya berduri langsung jatuh terduduk di bangku, karena kaget mendengarkan pengakuan Dokter Budi.
"Berengsek,,, jangan harap keinginan busukmu bisa terkabulkan, karena Aku tidak akan membiarkanya,, "sambil Agung mencengkram baju Dokter Budi.
"Sabar pak,, anda tidak boleh begini,, "kata pak polisi yang menjaga di situ.
"Kamu sudah tua, tinggal matinya saja, dan kamu tidak pantas bersama Dinda, Aku lah yang lebih pantas,, kamu juga harus tau kalau Dinda adalah fantasiku dalam s*ex,,"
Buggg...
Agung menonjok wajah Budi sampai Budi jatuh ke lantai, Dinda yang kaget langsung teriak.
"Mass,, jangan Mas,,, "sambil menarik Agung supaya menyudahinya.
Polisi pun juga memisah, karena Agung akan terus memukuli Budi, ujung bibir Budi pun berdarah karena pukulan Agung.
Jangan lupa like, komen dan votenya, trimakasih...
__ADS_1