MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Filing Ayah


__ADS_3

"Ternyata kalian cukup dekat yah, "tiba2 ayah bicara ,saat setelah aku meminum air agar batuku berhenti.


""Ya begitulah, karena Farida selalu sibuk keluar kota untuk bekerja, jadi aku dan Dinda sering bareng, membuat kita jadi dekat, "aku yang mendengar papah bicara begitu merasa ngga enak dengan ayah.


Setelah itu kita pun melanjutkan makan, saat sudah selesai makanya ayah mengajak papah untuk ke ruang depan.


"Ya udah kita ngobrol di depan aja yu Ji, biar Dinda beresin meja dulu, "


Ayah dan papah menuju ruang depan dan sedang aku langsung membereskan meja serta mencuci piring.


Kenapa mereka malah berteman, kalau ayah samapi tau tentang hubunganku dengan papah, pasti ayah akan sangat marah, ya alloh gimana ini.sambil aku mencuci piring fikiranku selalu melayang, memikirkan gimana caranya untuk memberi tau ayah tentang hubunganku dengan papah.


Selesai mencuci pikirng aku membuatkan minuman dan juga kue untuk teman ngobrol mereka.


Aku membawa nampan ke ruang depan, saat akan menaro teh buat papah tiba2 gelasnya miring, dan tumpahlah mengenai tanganku.


"Awww,,,"

__ADS_1


Tiba2 papah bangun dari duduknya dan langsung memegang tanganku yang tersiram teh panas ,aku juga di tarik ke dapur di siramnya tanganku dengan air dari kran, anehnya aku hanya diam saja, saat papah mengelap tanganku aku melihat ayah yang masuk ke dapur dan melihat tanganku yang sedang di lap papah, aku langsung menarik tanganku.


"Biar di lap dulu, setelah kering kasih salep, biar ngga mlepuh, "kata papah sambil menarik lagi tanganku dan masih di lap pake kain yang ada di rak atas kompor.


"Udah ngga papa kok pah, ini ngga sakit, "kataku.


"Ini merah,harus kasih salep, "dan tiba2 ayah menyodorkan salep ke arah papah.


"Makasih,,, "aku hanya diam dengan perlakuan papah, aku takutnya ayah curiga tentang perlakuan papah padaku.


Sampai kamar aku tiduran di kasur, karena merasa lelah aku pun tertidur.


Aku bangun dari tidurku, dan ku lihat jam ternyata sudah malam.ku lihat tanganku, karena langsung di kasih salep membuat tanganku tidak merasa sakit, hanya masih ada sisa warna merah sedikit saja.


Aku keluar menuju dapur larena merasa haus, saat ku buka pintu aku melihat ayah yang sedang menonton tv.setelah aku minum aku ikut nonton tv bersama ayah.


"Gimana tanganya Din, masih sakit, "tanya ayah.

__ADS_1


"Udah ngga yah, "kataku sambil ku lihatkan tanganku.


"Apa Dinda sangat dekat dengan Pamuji, maksud ayah papah tirimu, "aku yang mendengar perkataan ayah langsung kaget.


"Ngga juga yah, biasa aja, "jawabku sambil ku menundukan mukaku, takut ayah melihat rahut wajahku yang sudah tegang.


"Tapi di lihat dari cara Pamuji memperlakukan Dinda itu, seperti seorang kekasih yang sedang menghuatirkan kekasihnya ,"aku hanya diam.


"Dari ciri2 orang yang sedang dekat Dinda itu semuanya tertuju pada Pamuji, apa filing ayah benar, "lagi2 aku hanya diam, sekarang aku sudah sangat takut.


"Dinda,,, jawab ayah jangan bikin ayah marah karena diamu,! "nada suara ayah sudah naik satu oktaf, sungguh aku takut karena selama ini aku dan ayah tidak pernah yang namanya berantem atau berdebat.


Aku menegakan mukaku, dengan sedikit takut dan terbata aku bicara.


"I,, iya yah, dia lah or,, angnya, "jawabku sambil gemetar, dan aku lihat ayah yang sudah melototkan matanya.


"Dinda,,,,,,! "

__ADS_1


__ADS_2