
Saat Akbar dan Vivi masih saling tatap,Dinda tidak sengaja melihatnya.
"Gemm,,,eemm,,kalian ngapain ,?bukanya lihat layar komputer malah lihat lihatan gitu,?"Vivi dan Akbar langsung salah tingkah karena ketahuan sedang saling tatap.Pipi Vivi langsung memerah karena malu dan Vivi juga langsung berdiri tegak.
"Sudah ngga usah di jelaskan,gampang nanti kalau Aku bingung,Aku telfon kamu,,"kata Akbar pelan saat Vivi mau menjelaskanya lagi.Vivi hanya mengangguk.
Akbar bangun dari duduknya,dan duduk di bangku depan meja Vivi.Lalu melihat dan membaca kertas yang ada di meja Vivi.
"Den,,yang ini harus selesai besok yah,tolong besok Den Akbar salin dulu,lalu yang salinanya di simpan dan yang asli minta tandatangan Ibu,soalnya mau di antar ke rumah sakit Ibu dan Anak secepatnya,,"Akbar mengangguk lalu mengambil mapnya,dan Akbar membacanya.
"Kenapa ngga kamu sekalin sekarang aja,,?"
"Soalnya Vivi lagi ngecek pengeluaran dan pemasukan,,takutnya kalau di seling sama ngerjain ini jadi brantakan,,"
"Oh gitu,,,ya udah,,"
Jam 4 sore ketiganya pulang,pak supir tidak menjemput karena ada Akbar.
"Kamu mau duduk di.mana,,?"tanya Akbar pada Vivi.Vivi yang bingung dengan pertanyaan Abang hanya diam dan sambil berfikir.
"Aku bukan supir,duduk depan,,"Vivi hanya mengangguk karena Vivi merasa takut.
Sedang Dinda yang baru keluar dari klinik naik di bangku belakang,Dinda tersenyum melihat Vivi yang duduk di depan,Dinda Kira itu kemauan Vivi padahal karena bentakan Akbar membuat Vivi mengangguk mau untuk duduk di depan.
"Sayang,,mamah mau peli pizza dulu yah,Papah tadi telfon minta di belikan,,"
"Iya Mah,,,"
Sekitar 10 menit mobil Akbar sudah berhenti di depan Penjual Pizza,Dinda menyuruh Vivi untuk membelinya.
Vivi lalu membuka sabuk pengamanya,tapi ternyata susah.
"Kamu bisa ngga sih bukanya,,?"tanya Akbar sambi nada suaranya jutek.
"I,,ini su,,susah Den,,"Vivi menjawab sambil terbata.
"Mana ada susah,biasanya aja gampang,manja banget sih,,"
"Abang,,bicaranya ngga boleh gitu,sama perempuan itu bicaranya jangan keras keras,perempuan itu rapuh loh perasaanya,Ya udah boar Mamah yang beli aja,,"Kata Dinda sambil.keluar dari mobilnya,sedang Akbar membantu Vivi untuk melepaskan kunci sabuk pengaman.
"Tuh kan Den susah,,Vivi ngga manja kok memang ininya susah,,"kata Vivi yang melihat Akbar juga kesusahan membukanya.
"Udah diem kamu,,biasanya aja ngga susah kaya gini,kamu kali yang bikin sial,,"Vivi lalu membuka sabuk pengamanya dengan talinya yang di angkat lewat atas badanya.
"Kenapa sih Aden bicaranya kasar gitu ,,kata ibu itu ngga baik kan,,"
__ADS_1
"Udah diam bisa ngga,,ini Aku.lagi bukain ini susah tau,,"Vivi langsung takut dengan nada suara Akbar ,dan Vivi langsung buang muka keluar kaca mobil.
Akbar terus saja menarik kunci sabuk pengaman,dan Akbar menarik dengan kencang.
"Aaawwww,,,,"Akbar kesakitan setelah berhasil melepaskan kunci sabuk pengaman.
Dan jari Akbar berdarah karena terkena besi,Vivi yang melihatnya langsung mengambil tisu dan mengelap darah di jari Akbar dengan pelan.
Vivi sambil meniupinya,lalu darah pun berhenti,Vivi lalu sadar bahwa sedang memegang tangan Akbar.
Vivi melepasakn tanganya dari jari Akbar dan Akbar masih menatapnya.
"Kamu kenapa jadi orang baik gitu sih,Aku berusaha untuk membuatmu benci padaku dan ilfil padaku,tapi.kamu tetap saja baik padaku,Aku takutt,,,,"kata hati Akbar berkata sambil menatap Vivi,
"Maaf,,,"kata Vivi sambil menggeser duduknya,dan menghadap luar jendela lagi.
Mamah sudah datang dan membawa dua box pizza ukuran jumbo.
"Sayang udah yuk kita pulang,,"
"Iya Mah,,"jawab Akbar yang langsung.menjalankan mobilnya.
Mamah melihat Akbar mengendarai mobilnya dengan tangan satu,lalu melihat tangan Akbar yang ada tisu juga berdarah.
"Abang,,,tangan kamu kenapa sayang,,?"Dinda sedikit panik,dan mengambil tangan Abang.
"Vi kamu ngga obatin Abang,,?"
"Tadi Vivi yang ngobatin Mah,udah ini hanya luka kecil,,"Akbar yang bantu jawab.
"Sampai rumah harus kasih salep.ya Bang,,"
"Iya Mah,,"
Mobil Akbar sudah sampai di rumah,dan Dinda juga Vivi keluar,sebelum keluar Mobil Dinda menyuruh Vivi mengobati luka Akbar.
"Vi,,kamu kasih salep dulu ke jari Akbar yah,baru kamu pulang dan istirahat,,"
"Baik Bu,,"jawab Vivi,sebenarnya Vivi ngga mau,tapi.mau gimana lagi orang Dinda yang nyuruh jadi ngga enak nolak.
Vivi mengambil salep juga plester di kotak obat,Lalu Vivi mencari Akbar.
"Mba,,,Den Akbar kemana yah,,?"
"Oh tadi ke kamarnya,,"
__ADS_1
"Ke kamarnya,,"
"Iya,,,emang ada apa Vi,,?"tanya Mba siti.
"Ini.mau ngobatin jari Den Akbar,tadi jarinya terluka,,"
"Ya udah sanah ke kamarnya,,"
"Ngga ah,,masa Vivi ke kamar Den Akbar,,"
"Ya ngga papa,emang kenapa,kita tuh di sini hanya bawahan,walau kita ngga mau ya tetep aja harus mau,udah sanah ngga enak sama Ibu,,"
Ahirnya Vivi mau dan berjalan ke kamar Akbar,Vivi pernah masuk ke kamar Akbar saat membereskan kamar saat Akbar mau pulang.
Tokkk,,,Tokkk,,
Vivi mengetuk pintu kamar Akbar,dan tidak.lama terbuka.Akbar sudah ganti baju dengan kaos oblong dan celana pendek.
"Ada apa,,?"
"Ini saya bawa salap sama plester untuk ngobatin jari aden,,"
"Ngga usah,ini sudah sembuh kok,,"
"Tapi suruh Ibu suruh kasih salep,takut infeksi nanti,,"
"Ngga,,ini hanya.luka kecil,sinih.Aku aja yang kasih salepnya,,"
"Jangan Den,,nanti saya di marahin ibu,,"
"Oh gitu,kamu takut di.marahin Mamah,,ya udah ayo masuk,,"Akbar membuka pintu kamarnya.
Vivi merasa takut lalu diam saja,"Kenapa ngga masuk,ayo masuk,,"
"Di obatinya di luar saja ya Den,,"
"Ngga ayo di dalam saja,masukk,,,"
"Tapi,,,"Vivi terlihat sudah takut,Akbar yang melihatnya merasa senang.
Akbar ahirnya ngga tega melihat Vivi yang takut,lalu Akbar keluar kamarnya dan duduk di sofa depan kamar.
"Ya udah di sini,"Vivi mengangguk,lalu Vivi ikut duduk di di sebelah Akbar dan mengobati jarinya.
Vivi menunduk sambil meniupinya saat memberi salep,selesai di beri salep lalu Vivi mendongak karena sudah selesai,ternyata wajah Akbar sudah ada di depanya dan sangat dekat.Mereka saling Pandang,tiba tiba....
__ADS_1
Cup....
Jangan.lupa like,komen dan votenya,trimakasih..