
Dinda sedang duduk di teras rumahnya sambil memainkan hpnya, Dinda sedang menunggu Agung yang belum pulang dari rumah sakit, padahal ini sudah jam 11 malam.
Dari tadi Dinda sudah menelfon Agung tapi tidak di angkatnya, dan Dinda menjadi kuatir. karena tadi pagi Agung berangkat dari rumah dalam kondisi marah.
Gara gara semalam Dinda mengatakan kata yang menurut Agung tersinggung perasaanya.
Agung ahirnya pulang jam setengah dua belas,Dinda mendekati mobilnya, ternyata Agung di antar supir dari rumah sakit.
"Loh pak suami saya kenapa,,? "tanya Dinda.
"Ini Bu,, Pak Agung tadi menelfon saya untuk menjemputnya di Bar xx, dan saat saya kesana Bapa ternyata mabuk,, "sambil pak supir membatu Agung turun.
"Ya Tuhan Mas,, kamu kenapa jadi gini,, "kata Dinda dengan ketidak percayanya pada Agung.
"Maaf Bu,, Bapa mau di bawa kemana yah ,"
"Tolong ke dalam ya Pak,, "sambil Dinda juga ikut memapahnya.
Lalu Agung di bawa ke dalam dan di tidurkan di sofa, Dinda lalu memberi uang buat ongkos naik taxsi. setelah itu pak sopir pun pulang.
Dinda melihat Agung yang tergeletak lemas di sofa, Dinda sambil membuka sepatunya sambil matanya mengeluarkan air mata.
"Mas,, ayo kita ke kamar,, "sambil memapah Agung.
"Aku memang sudah tua, dan tidak bisa memenuhi kebutuhan batinmu,, Aku sudah tidak sekuat dulu,, apa kamu mau pergi dari ku,, hahaa,,,Apa Aku ahirnya akan di tinggalkan,, ""kata kata yang Agung keluarkan dari mulutnya. Dinda hanya bisa menangis,mendengarkan perkataan Agung. dengan susah payah Dinda membawa Agung ke kamar.
Setelah Agung tiduran di kasur, Dinda membantu melepaskan baju dan celananya, Dinda mengganti baju dengan baju rumahan.
"Maafkan kata kata Dinda semalam ya Mas,, Dinda ngga bermaksud apa apa, Dinda cuman bicara dan tidak bermaksud membuat Mas tersinggung,"sambil mengusap rambut Agung.
"Kata kata kamu benar kok,, memang sekarang Aku udah payah, udah lemas,, dan tidak bisa membuatmu puas,,, jadi kamu ngga salah,,,Aku yang salah,, "kata Agung dengan terus berbicara.
Lalu Agung pun tidur dengan pulas, sedang Dinda tidak bisa tidur, Dinda terus saja menangis tanpa suara. Dinda mengingat kata katanya semalam pada Agung.
"Ya Tuhan maafkan lah dosaku, karena Aku telah membuat suamiku sedih dan tersinggung,, "
Sampai jam 3 pagi Dinda baru tertidur, Dinda lalu memaksakan untuk tidur sambil memeluk Agung, dan Dinda tidur sangat nyenyak sampai bangun pagi kesiangan. saat membuka matanya Dinda sudah tidak melihat Agung ada di sampingnya, saat melihat jam ternyata sudah jam 9 pagi. Dinda langsung keluar dari kamar.
"Mba,, apa Bapa sudah pergi,,? "tanya Dinda pada Mba Iis.
"Sudah Bu,, Bapa sudah pergi dari jam 7 pagi, dan den Akbar juga sekalian berangkat sekolah dengan Bapa,, "
"Oh gitu ya Mba,, maaf ya Mba saya kesiangan, kepala saya pusing jadi bangunya kesiangan,, "
"Iya Bu,, "
__ADS_1
"Kembar sudah makan belum,,? "
"Sudah Bu,, dan kembar juga udah mandi, "
"Oh,, ya udah Mba,, saya mau ke kamar dulu, mau istirahat,,"Mba Iis pun menjawab Iya.
Dinda lalu masuk ke kamar, dan mengambil hpnya, lalu menelfon ke Agung, tapi tidak di angkat.
"Mas,, kenapa kamu sampai semarah itu,, "sambil menangis.
Dinda sama sekali tidak berselera makan, sampai dari pagi dam siang Dinda tidak makan.
"Bu,, Ibu makan dulu Bu,, dari tadi pagi ibu belum makan,, takutnya Ibu nanti sakit,, "kata Mba iis mengetuk kamar Dinda, karena ini sudah sore dan Dinda belum makan juga dari pagi tidak keluar kamar.
"Nanti aja Mba saya makanya, tunggu Bapa pulang,, "kata Dinda membuka pintu kamarnya sedikit.
"Tapi Bu,, "
"Udah Mba,, saya ngga papa,, "
"Iya Bu,, tapi itu tadi den Akbar nanyain Ibu terus,, "
"Bilang sama Akbar saya sedang sakit, dan takut tertular,, jadi jangan suruh menemui saya dulu ya Mba,, "
Jam 9 malam Agung pulang, dan Mba Iis langsung mendekatinya.
"Pak,, I,, ibu dari pagi ngga mau makan, dan dari pagi juga Ibu di kamar terus, ngga mau keluar, saya selalu menyuruhnya untuk makan, tapi kata Ibu mau makanya nunggu bapa datang,, "kata Mba Iis sedikit takut.
"Kenapa Mba ngga telfon saya,, "Agung lalu berjalan cepat menuju kamar.dan sampai kamar, kamar masih gelap karena lampu belum di nyalakan.
Agung menyalakan lampunya, dan setelah lampu menyala terlihat Dinda yang tidur. Agung langsung mendekatinya.
"Sayang,, bangun,, sayang,, "Agung mencoba membangunkan Dinda, tapi Dinda tidak mau bangun juga.
Lalu Agung memeriksa lenganya, dan ternyata Dinda pingsan.
"Ya Tuhan,, kenapa sampai begini sih,, "Agung lalu mengambil peralatan dan langsung memasang infus, karena Dinda terlihat kurang cairan.
Agung sudah selesai memasang infus, lalu Agung memanggil Mba Iis untuk membuatkan bubur untuk Dinda.
"Pah,, Mamah sakit apa,,? "kata Akbar sambil mendekati Agung.
"Mamah hanya butuh istirahat sayang, nanti juga sembuh, Akbar sama mba yah, jangan rewel, nanti kalau Mamah sudah sembuh Akbar boleh menemuinya,"sambil mengusap kepala Akbar.
"Iya Pah,, Akbar ngga rewel kok,, "
__ADS_1
"Pintarnya anak Papah,, ya udah Papah mau ke kamar dulu lihat Mamah yah, Akbar bobo sanah sama mba Siti, ini udah malam kan,, "
"Iya Pah,, "Akbar lalu mendekati Mba Siti dan mengajaknya ke kamar.
Agung lalu masuk ke kamar dan saat Agung mau mengambil baju buat ganti, Dinda pun sadar.
"Masss,,, "Kata Dinda dengan pelan, Agung yang mendengarnya langsung menengok.
"Sayang,, "Agung langsung mendekati Dinda.
"Maafin Dinda ya Mas, Dinda tidak bermaksud apa apa, maaf kalau Mas jadi tersinggung dan kesal sama Dinda,, "Air mata langsung mengalir.
"Suttt,, sudah, jangan menangis, Mas juga minta maaf yah, Mas juga salah telah mengabaikan kamu,, "sambil mengusap air mata Dinda. dan memeluknya.
"Kenapa Dinda di infus Mas,, "sambil melihat jarum infus di tanganya.
"Tadi sayang pingsan, tunggu bentar yah, Mas mau ambil bubur buat sayang makan,, setelah makan nanti baru minum obat,"Agung lalu keluar dari kamar dan menuju dapur.
Sampai di dapur mba Iis sudah mau membawa buburnya, karena Agung datang, Agung lalu mengambilnya.
"Mba,, ini sudah malam, istirahatlah, dan titip kembar yah,, "
"Iya Pak,, "Agung lalu pergi setelah Mba Iis menjawab.
Agung membawa bubur ke dalam kamar, lalu duduk di kasur dekat Dinda.
"Makan lah, kata mba Iis sayang belum makan dari pagi,, "sambil menyodorkan sendok ke mulut Dinda.
Saat baru masuk dua suap, Dinda sudah mual dan ingin muntah,, Agung lalu mengambil kantong buat muntah.
Dinda memuntahkan bubur yang baru masuk dua suap, Agung membantu mengelap mulut Dinda dan memberinya minum.
"Mas,, perut Dinda ngga enak, rasanya mual terus,, "
"Ini pasti lambungnya,, Mas akan ambilkan obatnya dulu yah,, "
Agung mengambil obat dan minum, Dinda langsung meminumnya. sekitar 20 menit Agung menyuapinya lagi, Dinda menghabiskan setengah mangkok bubur, Agung sudah tidak memaksanya karena takut muntah lagi, setelah Itu Dinda minum obat.
"Tidur lah,, biar besok enakan,, "
"Dinda pengin tidur sambil di peluk Mas,,"Agung pun menuruti.
Agung menemani Dinda tidur, padahal perut Agung merasakan lapar karena dari siang Agung juga belum makan.
Jangan lupa like komen dan votenya, trimakasih..
__ADS_1