MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Tidur Di Apartemen Papah


__ADS_3

"Dinda,,,, masuk,"dan saat aku menengok ke asal suara itu ternyata papah, mati aku....


"Kak maaf yah ngga bisa pulang bareng, papah Dinda dah jemput, "kataku yang langsung pergi menuju mobil papah.dan kak Aldo hanya bilang "Iya, "


Setelah aku masuk ke dalam mobil hawa panas sangat terasa, aku melihat wajah papah yang sangat menyeramkan, ini baru pertama aku melihat papah yang kelihatan sangat marah.


"Dinda ngga janjian dengan kak Aldo, kita tidak sengaja bertemu di toko buku, dan tadi kak Aldo hanya ingin mengantarkan Dinda pulang, "kataku sambil aku menggeser duduku untuk menghadap papah, tapi papah masi saja diam.


Karena papah masih tetap diam akupun ahirnya ikut diam, dan karena jalanan macet membuatku mengantuk, aku pun memejamkan mata dan tertidur.


.


.


.


Saat ku buka mata ,aku merasa bingung di manakah aku sekarang, karena belum sadar sepenuhnya membuatku bingung. ku usap wajahku lalu aku bangun dan bersender di ujung kasur, ternyata aku di kamarku yang di apartemen papah, saat ku ingat ingat bukankah aku sedang di mobil papah dan tidur karena jalanan macet, berarti tadi papah menggendongku dari besmen sampai kamar, gila aku tidur sampai ngga terasa aku di gendong sampai kamar.

__ADS_1


Ku lihat jam sudah menujukan pukul 11 malam, karena merasa haus aku pun keluar dan menuju dapur, selesai minum aku mau masuk kamar lagi, tapi aku pengin lihat papah di kamar sudah tidur belum, saat ku dorong pintu kamar papah ternyata tidak di kunci, aku pun berlahan masuk lalu mendekat ke kasur, setelah dekat dengan kasur aku melihat papah yang sudah tertidur.


Lalu aku duduk di sebelah papah karena posisi papah tidur memiringkan badanya, sepertinya papah orang yang suka tidur dengan posisi miring deh, soalnya setiap aku lihat posisi papah tidur itu selalu miring.


Ku usap wajahnya, dan ku cium keningnya, setelah itu aku bangun dan akan ke kamarku, tapi baru dua langkah tanganku ada yang menariknya, saat aku lihat rupanya papah yang menariku, mungkin papah terbangun oleh sentuhanku.


"Adek Ngapain ke sini hemmm...? "kata papah tapi dengan mata yang masih terpejam.


"Maaf Ayy jadi terbangun, tadi hanya ingin meligat Ayy sudah tidur belum, "kataku lalu papah menariku agar duduk lagi.


"Sinih tidur lagi aja, ini masih malam, "


"Kenapa tidak mau mendengarkan perintahku hemm,,, ?"kata papah yang berbicara di telingaku sambil menciuminya.


"Apa dia lebih ganteng dan lebih muda,sehingga lebih nyaman pergi denganya, ?"oh,, rupanya papah membahas tentang aku dan kak Aldo ,aku masih diam dan mendengarkanya.


"Apa malu jalan dengan om om, yang lebih pantas jadi ayahmu,? "telinga dan hatiku sudah sangat panas sekarang, lalu aku membalikan badanku agar kita berhadapan.

__ADS_1


"Apa sudah selesai bicaranya,! kalau sudah sekarang Dinda akan kasih jawabanya, "kataku sedikit menekan setiap kataku dan menatapnya, rasanya papah tuh menyebalkan sekali kalau sedang cemburu begini.


"Pertama Dinda ngga janjian dengan kak Aldo itu hanya kebetulan kita bertemu di toko buku, Dinda juga tadi ngga mau di antar pulang tapi kak Aldo memaksanya katanya lebih aman di anter dia, jadi Dinda merasa ngga enak ajakany Dinda mau ikut, tapi untungnya Ayy dateng kan,"aku menjeda sebentar ucapanku.


"Kalau ganteng buat Dinda ngga penting, mau ganteng atau jelek asal buat Dinda nyaman dan buat selalu merasa bahagia itu sudah cukup, tapi Ayy ku ini sangat ganteng kok maco lagi, ngapain cari yang lain ini aja sudah paket kumplit, "kataku lagi sambil ku mencium pipi papah dan papah hanya tersenyum.


"Kalau Dinda malu pacaran sama om om, buat apa Dinda samapi melawan ayah dan jadi anak yang tidak menurut sama orang tua, menurut Dinda Ayy ngga kaya om om kok, tapi lebih ke dewasa dan matang, jadi jangan ragukan cinta dan sayangnya Dinda untuk Ayy, kita masih banyak rintangan yang menentang hubungan kita, jadi kita harus saling percaya,"sambil aku memeluk papah dan ku benamkan wajahku di dada papah.


"Maaf bukanya meragukan adek tapi aku hanya takut adek berpaling dariku, "sambil mencium rambutku papah bicara.


"Insalloh Dinda akan selalu setia dan kita berjuang bersama, Dinda dah mengantuk nih, Dinda ke kamar dulu yah Ayy, "kataku yang akan bangun.


"Tidur sini aja yah, "


"Ngga ah, entar Dinda bukanya tidur malah Ayy isengin, "


"Ngga deh aku janji, hanya tidur dan saling peluk, yah.... "sabil mengangkat dua jari ayah bicara.

__ADS_1


Dan kita pun tidur dengan saling berpelukan.


__ADS_2