
Setelah orang brengsek itu di bawa pergi, Aku langsung melihat ke arah Istriku. Sambil berjalan pelan mendekatinya,mataku mengeluarkan air mata dengan sendirinya.
Ibu memeluknya dan Anaku menangis dengan kencangnya, melihat Mamahnya dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Istriku hanya diam tanpa expresi, membuatku makin takut. Aku langsung memeluknya saat Aku sudah di dekatnya.
"Maaf,,, Maafkan Mas yang ngga percaya dengan Adek,,, "sambil Aku menangis.
Aku lepas pelukanya, dan ku usap pipi yang sudah sedikit membengkak dan banyak darah di sudut bibirnya.Tiba tiba Istriku kesakitan di bagian perutnya.
"Aaawww,,,"
"Agung,,, darah,,, "kata Ibu yang melihat darah di kaki Istriku. Aku yang panik langsung mengangkatnya.
"Bu,, Agung akan bawa Dinda ke rumah sakit, Ibu tolong jagain dan tenangkan Akbar,"sambil ku gendong Istriku menuju mobil.
"Mba,,, buka pintunya cepet,,, "teriaku, dan Anaku yang menangis makin kencang melihat Mamahnya tak berdaya.
Aku memasukan Istriku ke dalam mobil di bangku belakang, dan Mba Aku suruh ikut untuk menemani Istriku.
Aku membawa mobil dengan kencangnya, klakson selalu Aku bunyikan agar orang memberi jalan untuku. hanya sekitar 10 menit Aku sampai di rumah sakit.
Aku menggendong Istriku yang sudah tak berdaya,dengan wajah yang sangat pucat dan darah yang masih mengalir ke dalam rumah sakit.
"Suster,,,, tolong Istri Saya,,, "saat Suster sudah mendorong bangkar.
Aku mengikuti susuter yang mendorong bangkar menuju UGD.
"Maaf Pak, Bapa tunggu di luar saja, "kata Suster.
"Tapi Saya ingin menemani Istri saya Sus,, "Saat Aku di tahan di pintu UGD.
"Maaf Pak tidak bisa,, "sambil menutup pintunya.
Aku langsung lemas dan badanku ambruk di depan pintu.
"Maaf permisi,,,, "Aku mendongakan wajahku dan melihat Dokter.
"Rudi,,,, "kataku dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Agung,,, siapa yang sakit,, "
"Tolong Istriku di dalam, dia pendarahan,,, "kataku.
"Iya,,,, "saat Rudi akan masuk Aku mencegahnya.
"Rud,, tolong izinkan Aku ikut kedalam,, "
"Jangan Gung, Aku tau kamu Dokter, tapi ini Istrimu takutnya kamu malah mengganggu, "
"Aku janji ngga akan mengganggu kerjamu, tapi Aku sangat kuatir, Aku hanya ingin menemaninya,, "
"Baik lah,, ayo, "Aku langsung ikut Masuk dan tadi Mba sudah Aku suruh pulang untuk mengambil baju untuku.
Saat di dalam Aku. melihat Istriku yang sedang di bersihkan dan di pasang infus.
"Dok,, tekanan darahnya pasien melemah, "kata seorang suster.
Aku langsung mendekat ke Istriku, seperti janjiku Aku tidak mengganggu tugas Dokter serta Suster. Air mataku mengalir melihat tubuh Istriku yang tak berdaya di depan mataku.
Betapa bodohnya Aku tidak mempercayai perkataan Istriku tentang kelakuan Roy padanya, andaikan Aku percaya pasti ke adaanya tak akan sampai begini.
"Sepertinya Istrimu sedang hamil, dan janinya ngga bisa bertahan, Kita harus mengeluarkanya,"perkataan Rudi makin membiatku hancur.
"Ya tuhan,,,, lakukan yang terbaik untuk Istriku Rud,, "sambil menjambak rambutku.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin,tapi tekanan darahnya makin lemah Gung"sambil melihat ke arah monitor.
"Apa Aku boleh yang melakukanya Rud, ?"tanyaku.
"Jangan Gung, kamu sedang tidak baik, takutnya kamu malah ngga konsentrasi, "
"Tapi ini Istriku Rud, Aku pasti melakukan yang terbaik demi Istriku, Aku mohon, "sambil Aku memelas.
"Silakan, tapi kalau terjadi sesuatu pada Istrimu Aku harap tidak akan ada tuntutan,, "Aku pun mengangguk.
Aku langsung mengganti baju ku.dan Aku mulai melakukan penanganan terhadap Istriku di bantu Suster juga Dokter Rudi.
Sekitar 1 jam, ahirnya selesai juga. tapi Istriku sangat lemah karena banyak mengeluarkan darah, untungnya persediaan darah golongan Istriku cukup banyak di rumah sakit ini, sehingga bisa langsung di lakukan penambahan dengan cepat.
__ADS_1
Selah semuanya beres, Aku langsung meminta untuk memindahkan Istriku ke kamar rawat.
Berkat bantuan Rudi semuanya jadi tidak lama, dengan Rudi yang langsung mendaftarkan ruangan untuk Istriku juga yang lainya, karena Aku rasanya sangat lemas setelah mengerahkan konsentrasiku untuk menyelamatkan Istriku.
Sekarang Aku sudah berganti baju setelah Mba datang lagi ke rumah sakit untuk mengantarkan baju untuku. Karena bajuku terkena banyak darah dari Istriku.
Aku duduk di sebelah Istriku yang masih belum sadarkan diri. Aku sungguh sangat menyesal dengan kejadian ini yang tak bisa menjaga Istri dan sijabang bayiku yang baru berumur 3 minggu. Entah apa yang di perbuat oleh si biadab itu sampai Istriku pendarahan.
Aku cium tangan Istriku dengan rasa bersalah. Ini sudah sangat lama dari perkiraanku untuk siuman, tapi rupanya Istriku belum juga siuman.
"Sayang bangun,,jangan tidur terus dan jangan buat Mas kuatir,, Mas sungguh minta maaf,,"Aku bisikan di telinganya.
"Akbar sedang menunggu kita di rumah, Akbar selalu menangis dan ingin bertemu denganmu, Ayo Sayang bangunnn,,, "
Aku usap kepala Istriku dengan penuh sayang, pipi yang tadinya mulus sekarang terlihat bengkak dan biru. Pasti Istriku sangat tersiksa.
Sungguh biadab perbuatan Roy pada Istriku. tidak akan Aku maafkan perbuatanya itu. pasti Akan Aku usut dan Aku jebloskan ke jeruji besi.
Entah setan apa yang membuatnya bisa melakukan perbuatan keji seperti ini, Dinda itu Istriku dan berarti adalah sodaranya dia, tapi dia tega melakukan pelecehan.
Ibu tadi menelfonku, mengatakan kalau Akbar selalu menanyakan keadaan Mamahnya,dan setelah Aku mengirimi foto Istriku yang masih tertidur Akbar sudah sedikit tenang.
Aku juga belum menceritakan bagai mana kondisi Istriku yang sebenarnya pada Ibu. biar nanti saja setelah Istriku siuman. baru Aku akan memberi taukanya.
Aku merasakan gerakan di tanganku, saat ku lihat Istriku rupanya menggerakan jarinya. Dan Aku tersenyum senang melihat Istiku yang berlahan membuka matanya.
"Sayang,,, "Aku langsung mencium keningnya, dan air mataku mengalir.
"Maafkan Mas yang kemarin ngga percaya tentang kelakuan si brengsek pada Adek,,,. Mas sungguh menyesal, "
"Hausss,, "Kata Istriku dengan pelan. Pasti masih lemas karena pengaruh obat juga tadi habis kekurangan darah.
Aku langsung mengambilkan air minum dan sambil menggunakan sedotan istriku pun minum.
Setelah minum Istriku ingin memejamkan matanya lagi, tapi Aku larang ,entah kenapa Aku merasakan takut melihat Istriku yang memejamkan mata.
"Sayang Mas mohon jangan tidur lagi,, Mas telfon Ibu yah, biar Ibu dan Akbar tau kamu udah siuman, dari tadi Akbar nangis terus,, "sambil Aku menekan no Ibu. Dan melakukan video call.
**Maaf kalau ada tempo atau kesalahan dalam menulis, Aku lagi kurang sehat soalnya..
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan votenya ya kak,, trimakasih**...