MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Akbar Ahirnya Menangis


__ADS_3

Di rumah sakit Dokter sedang menjoba untuk memompa jantung Sila yang berhenti berdetak,Agung sudah di telfon oleh teman sesama Dokter,dan bilang pada Agung kalau detak jantung Sila sudah tidak ada,tapi para Dokter sedang mencoba dengan memompanya.


Beni dan Papahnya sedang berdoa supaya jantung Sila kembali berdetak.


Agung di rumah sedang bingung gimana caranya bicara pada Akbar tentang keadaan Sila.


"Ada Apa Pah,,?"tanya Dinda.


"Sila,,jantung Sila sudah tidak berdetak,,"Dinda langsung kaget dan air mata Dinda pun mengalir.


"Gimana Abang Pah,,gimana kita bicara pada Abang,,?"Agung menggelengkan kepalanya.


Keduanya bingung gimana cara bicaranya pada Akbar.lalu Agung dan Dinda keluar dari kamarnya dan menuju kamar Akbar.


Di kamar Akbar,Akbar sedang duduk dengan nafas ngos ngosan dan keringat di keningnya cukup banyak.


"Abang,,,Abang kenapa,,?"Dinda mendekati Akbar dan duduk di pinggir kasur sambil mengusap kening Akbar yang banyak keringat.


"Mah,,,Abang mimpin Sila Mah,,Sila bilang dia mau pergi,,"Dinda dan Agung saling tatap.


"Sudah sayang,yang tenang dan sabar yah,kita harus serahkan pada Tuhan,karena Tuhan pemilik semua mahluk hidup di dunia ini,kita tidak bisa mencegah apa yang sudah Tuhan gariskan untuk umatnya,karena kematian seseorang sudah Tuhan catat dan tentukan kapan itu terjadinya,,"Akbar Diam.


"Papah punya kabar tentang Sila,,"Agung bicara dengan pelan.


"Tadi Dokter yang menangani Sila telfon Papah,dan dia bilang.kalau jantung Sila berhenti berdetak,,"


Jantung Akbar langsung berdetak cepat dan kaget dengan kabar tentang Sila,Akbar sampai diam mematung untuk beberapa detik.


"Ngga mungkin Pah,,pasti teman Papah itu bohong,,ngga mungkin,,Mah yang Papah katakan itu bohong kan,,katakan Mah,,"Dinda mengusap tangan Akbar.


"Papah bicara benar sayang,,,"Akbar langsung menangis,Dinda lalu memeluknya.


"Ngga mungkin,,Sila ngga mungkin.ninggalin Abang,,"Akbar lalu melepaskan pelukan Dinda,dan Akbar langsung lari keluar kamarnya.

__ADS_1


Agung dan Dinda langsung mengejarnya,Agung lari dengan cepat,karena takut Akbar membawa mobilnya sendiri.


"Abang,,tunggu,,,jangan seperti ini,,"Sambil.mencekal lengan Akbar yang mau masuk ke mobil.


"Pah,,Abang mau kerumah sakit,Abang ingin bertemu Sila,,"


"Iya Papah tau,biar papah yang setir,kamu masuk di sebalah,,"


"Tapi Pah,,,"


"Abang,,masukkk,,,!"Agung baru kali ini membentak Akbar karena Akbar yang sedang emosi dan tidak setabil fikiranya.


Dinda lalu datang dan menarikAbang untuk duduk di bangku belakang bersamanya.


Agung membawa mobilnya dengan cepat,tapi bagi Akbar kurang cepat.


"Abang harus sabar,,jangan seperti ini,semua sudah takdir dari Tuhan,,"


Sampai di rumah sakit,Akbar langsung lari kedalam tanpa menunggu Agung dan Dinda,Akbar langsung menuju di mana ruang Sila ,sampai di depan ruangan Beni dan Papahnya juga adik perempuanya sedang menangis.


"Ben,,,"Kata Akbar pelan,Beni pun menengok.


"Bar,,Kaka Bar,,Kaka,,,"Akbar diam mematung saat Beni mendekatinya lalu memeluknya.


Dokter keluar dari dalam,dan Papah Sila langsung mendekatinya.


"Maaf Pak,,kita tidak bisa menyelamatkan anak Bapa,Anak Bapa telah meninggal,,"Papah Sila dan Beni juga adiknya langsung menangis histeris,dan langsung masuk kedalam.


Akbar yang mendengar semua perkataan Dokter merasa kakinya lemas,dan Akbar langsung jatuh terduduk.


"Sayang,,,"Dinda langsung memeluk Akbar.


"Mah,,ini cuman mimpi kan,,?"D

__ADS_1


Akbar ahirnya menangis,Dinda pun ikut menangis.


Akbar lalu berjalan ke dalam sambil di bantu Dinda ,Di dalam semuanya menangis sambil memeluk Sila,sedang suster melepaskan alat yang masih terpasang di badan Sila.


Beni bergeser saat Akbar berjalan mendekati Sila.


"Sayang,,,kenapa kamu pergi ninggalin Aku,katanya kamu sayang dan cinta sama Aku,tapi kenapa kamu pergi,,Aku mohon bangun lah ayo bangun,,Aku Ngga mau kamu pergi,sayanggg,,,"Akbar sambil menangis dan mengusap kening Sila.


"Sayang buka matamu ,Ayo buka matamu,,Aku mohon ,,bukalah matamu,,"Tangan Akbar mengusap wajah Sila.


"Abang,,sudah yah,,suster mau mengurus Sila,iklaskan Sila biar dia tenang,,"Dinda menarik Akbar agar menjauh,karena Suster akan mengurusnya agar bisa di bawa pulang.


Suster lalu membawa bangkarnya menuju kamar Zanazah,dan akan di bawa ambulance ke rumah Sila.


Sekitar satu jam Zenajah sudah masuk ambulance,karena Agung yang mengurusnya jadi cepat selesai.


Mobil Agung mengikuti Ambulance,sedang mobil Beni ada di depan.


Sampai di rumah Beni,sudah banyak tetangga yang sudah datang,dan sudah menata tempat untuk Zanazah.


Setelah Zanazah sudah di letakan di tempat yang sudah di sediakan,banyak orang yang mengirim doa utunknya.


Akbar duduk di samping sebelah kanan ,dan tidak mau bergeser,Akbar bersama Zee adik Beni yang masih merasakan sedih,sedang si Papah masuk kamar,di kamar Papah menangis sambil memeluk foto keluarganya.sedang Beni sebagai anak laki laki satu satunya walau masih sedih tapi tetap tegar,dan menyalami tamu yang melayat.


"Sayang,,Papah sama Mamah mau pulang dulu,ini sudah malam,besok kita ke sini lagi,,Abang mau ikut pulang ngga,?,"kata Dinda mendekati Akbar.


"Abang mau di sini aja Mah,Abang mau temani Sila,,"


"Sayang,,jangan sedih berlarut larut,Sila pasti sedih kalau melihat Abang seperti ini dan tidak mengiklaskanya,,semua sudah takdir Sila dari Tuhan sayang,"Akbar hanya mengangguk.


Dinda dan Agung lalu pulang ,sedang Akbar masih diam di dekat Zenazah.


Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2