
Ayah Doni
Saat ini Aku sedang mengurus administrasi pembayaran untuk biaya oprasi Kakek, Dian tidak tau soal ini, karena tadi Aku bilangnya mau keluar sebentar untuk beli kopi.
Setelah Selesai Aku melunasinya Aku pun kembali ke ruang rawat kakek. ternyata Menantuku membantu biyaya perawatan kakek sebesar 10 persen, Aku pun tidak lupa berterimakasih pada menantuku.
Aku masuk kamar rawat kakek, dan melihat Dian yang sedang membereskan barang barangnya yang akan di bawa pulang.
"Mas Dian mau ke bagian administrasi dulu yah, Dian titip Papah dulu,, "saat Aku sudah duduk di sofa Dian mendekatiku.
"Iya,, "jawabku sambil mengangguk. Lalu dian pun keluar.
Aku lalu duduk dekat kakek yang sedang duduk di ranjang pasien.
"Kek,, nanti kita pulang ke rumah Anak Saya dulu yah,, besok kita baru pulang ke kampung, "kataku.
"Kakek ngikut aja dengan Nak Doni enaknya gimana, "Jawab kakek.
Kita berdua pun mengobrol dengan asiknya, lalu Dian pun datang dengan wajah cemberut.
"Kenapa itu wajahnya cemberut gitu,,, ?"tanyaku.
"Kenapa Mas bayarin Biyaya rumah sakit Papah sih, Mas pikir Dian ngga punya uang!"sedikit keras nada suaranya. seperti marah.
"Maaf bukanya Saya lancang, Tapi Saya melakukan ini ngga gratis kok, karena mobil tua Kakek Saya yang akan beli, jadi Saya hanya bater dengan kakek. "Aku berkata dengan nada suara yang pelan, karena tidak baik kalau kita pun ikut emosi.
"Dian,,, Nak Doni tadi memang bilang pada Papah kalau sudah membayarkan biyaya rumah sakit, dan sebagai gantinya Nak Doni menginginkan mobil Papah, jadi Nak Doni itu ngga salah,, sekarang Dian minta maaf pada Nak Doni karena telah menuduhnya,, "
"Ngga mau,, lagian kenapa ngga bilang dulu sama Dian kalau mau bateran sih,, harusnya bilang biar Dian ngga salah faham begini,, "sambil membuka pintu kamar rawat kakek dan Dian pun pergi.
__ADS_1
Aku pun melihat Dian marah merasa ngga enak, Aku ngga bilang karena pasti Dian akan menolaknya, untungnya Kakek mau di ajak untuk kerja sama, jadi Aku tertolong. Aku memang bilang kakek Aku yang membayar biyaya rumah sakit karena merasa kasihan pada Dian karena uang itu adalah tabunganya dia, hidup dengan mengandalkan toko roti dengan membiyayai Zara sekolah dan Kakek yang sering sakit, Aku merasa kasihan.
Aku merasa yang tak enak hati karena membuat Dian marah, Aku pun bilang pada kakek akan mencari Dian, dan kakek pun mengiyakan.
Aku mencari Dian di kantin rumah sakit, ternyata tidak ada, lalu Aku keluar rumah sakit pun tak ada, lalu Aku baru ingat kalau rumah sakit ini ada tamanya, Aku pun menuju taman itu. sampai di taman Aku melihat Dian yang duduk sendiri di bangku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Maaf Saya memang yang salah tidak bilang dulu sama Dian, tapi sungguh Saya melakukan ini tidak ada maksud apa apa,,"Dian hanya diam.
"Baik lah,, Kalau Dian masih tetap marah Saya akan membatalkan pelunasan biyaya rumah sakit Kakek, dan Dian yang akan membayarnya,, "Aku pun bangun dari duduku dan akan pergi, tapi sebelum pergi Dian berkata.
"Trimakasih atas semua bantuan Mas pada Dian,dan Maaf tadi Dian sedikit emosi,, "Aku hanya diam.
"Walau Dian hanya penjual roti, tapi Dian masih punya harga diri, Dian tidak ingin di cap sebagai wanita yang memanfaatkan kebaikan orang,, "lalu Aku duduk lagi.
"Tapi Saya tidak bermaksud untuk merendahkan Dian, Saya hanya ingin membantu mempermudah pembayaran biyaya Kakek di rumah sakit, karena Saya yang akan membeli mobil kakek kan, "
"Sudah jangan di permasalahkan lagi, mendingan sekarang Dian siap siap kita mau pulang kan,, kasian Kakek sudah menunggu, "Dian pun mengangguk.lalu Aku acungkan tangan ku ke depan Dian, dan Dian menyambut tanganku.Kita pun bergandengan mesuk ke dalam rumah sakit menuju kamar rawat Kakek.
Setelah semuanya siap kita pun ke luar dari rumah sakit menuju rumah Anaku. Sampai di rumah Anaku kita masuk ke dalam dan di dalam Anak ,Cucu dan Zara sudah menunggu kedatangan kita.
Karena kakek masih lemas jadi kita ajak ke dalam kamar agar bisa istirahat.
"Mah,,, kita kapan pulang kampungnya,, ?"tanya Zara pada Dian. saat ini kita masih di kamar menemani Kakek.
"Mamah terserah Pak Doni aja,, "Jawab Dian. sambil melihat ke arahku.
"Kalau besok malam gimana,, soalnya Saya mau pergi dulu siangnya,,, "Dian dan Zara pun menyetujuinya.
Pagi ini Aku terbangun dengan badan yang tidak merasa kaku, karena tidur di kasur dan tempat yang sangat nyaman.
__ADS_1
Selesai sarapan Aku bersiap akan pergi.
"Mas mau ke mana,,? "tanya Dian saat Aku ke kamar kakek karena mau pamitan.
"Saya mau ke makam istri Saya dulu,"jawabku.
"Apa Dian boleh ikut Mas,,,? "
"Serius mau ikut,,soalnya di sana panas, "
"Ngga papa,, "
"Ya udah kalau mau ikut siap siap gih, Saya tunggu di depan, "Dian pun mengangguk.
"Ayah jadi ke makam Ibu,,? "Tanya anaku saat Aku sudah di ruang tv.
"Jadi,,ini mau berangkat, Dinda mau ikut ngga,? "
"Ngga dulu deh Yah,, "Aku. pun mengangguk.
Lalu Dian pun keluar, dengan baju lengan panjang dengan bawahan celana panjang bahan, walau dengan baju yang sederhana tapi Dian terlihat cantik,,
"Kak Dian mau ikut Ayah,,? "tanya anaku.
"Iya Kaka mau ikut,, "sambil tersenyum malu.
"Ya udah Ayah sama Kak Dian berngkat gih, keburu siang,, "Aku dan Dian pun lalu pergi.
Maaf kalau ada typo..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya yaa..