
Pulang dari kantor polisi Doni lalu ke rumah sakit lagi, saat Doni melewati lorong ternyata berpapasan dengan Hani, Hani terlihat pucat .
"Han Saya mau bicara sebentar boleh,, ?"
"Maaf,, saya sedang sibuk,, "jawab Hani sambil Akan jalan pergi.
"Saya akan pulang nanti sore,, "kata Doni dengan cepat.Hani pun langsung berhenti melangkah.
"Saya akan pulang nanti sore, dan kemungkinan kita tidak akan bertemu lagi, dan saya hanya ingin minta maaf kalau saya ada salah sama kamu,semoga kamu selalu bahagia bersama suamimu, dan selamat atas kehamilanmu, "Hani masih tetap diam.
"Darimana Mas tau kalau Aku sedang hamil,,? "tanya Hani sambil berbalik.
"Kamu ngga perlu tau Saya tau dari siapa, tapi yang perlu kamu tau saya ikut senang, dan saya juga melihat suamimu sangat menyayangimu,, semoga kehamilanmu membuat rumah tanggamu menjadi lebih bahagia, saya pamit,"Doni lalu pergi, Hani terus saja menatapnya, sampai air matanya pun mengalir melihat Doni yang makin menjauh.
"Sebenarnya Aku memang sangat marah padamu Mas, kenapa dulu kamu tidak memperjuangkanku dan katanya kamu sangat mencintai istrimu, tapi buktinya sekarang kamu sudah menikah lagi dan sudah mau punya anak dua, saat Aku tau kamu menikah lagi hatiku terasa hancur, tapi mungkin kita memang tidak berjodoh, suamiku yang dulunya sangat kasar lambat laun sekarang justru sangat baik dan sangat mencintaiku, apa lagi Sekarang Aku sedang hamil anaknya, pasti suamiku makin mencintaiku,, aku iklas sekarang melepasmu Mas ,semoga kamu juga bahagia bersama anak dan istrimu,, selamat tinggal, semoga kita tidak akan bertemu lagi,, "kata hati Hani yang terus saja melihat Doni berjalan, sampai ahirnya tak terlihat.
Doni lalu menuju kamar rawat Agung, dan setelah sampai Doni pun masuk.
"Gimana Yah,,? "tanya Dinda saat Doni masuk.
"Kata polisi sih sebaiknya jangan dulu, tapi tadi Ayah bilang kalau kalian yang kuatir meninggalkan anak terlalu lama ,jadi di bolehkan,, tapi Kalian harus siap kalau polisi menyuruh kalian untuk datang kesini ,,"
"Iya sukur lah Yah,, Dinda udah urus semuanya, sekarang kita tinggal berangkat ke bandara,, "
"Barang barang Ayah udah di beresin kan,, ?"
"Udah,, Ayah ikut ke kota dulu kan,,? "
"Iya,, Ayah akan ikut ke kota buat nemenin kalian,,, "
"Makasih ya Yah, Ayah selalu ada buat kita,, "Doni tersenyum sambil mengusap kepala Dian.
__ADS_1
Setelah itu suster dan Dokter membantu melepaskan semua alat yang ada di badan Agung, Agung juga harus minum obat pereda nyeri.
Lalu semuanya masuk ke dalam taxsi untuk menuju bandara. Agung sebenarnya merasakan sakit, tapi Agung menahanya agar Dinda dan Doni tidak kuatir.
Sampai Bandara Agung berjalan dengan pelan, dan sambil memegangi perutnya, Dinda ahirnya tau Agung menahan sakit, terlihat dari keningnya yang berkeringat juga wajahnya pucat.
Saat menunggu penerbangan, Agung dan semuanya duduk, Dinda langsung memeriksa lukanya Agung.
"Masss,,, "kata Dinda dengan pelan, dengan mata yang memerah.
"Suttt,,, Mas ngga papa,, Mas kuat,, "Agung tau Dinda menghuatirkanya.
"Tapi,, "Agung menggeleng dengan pelan, Agung tidak enak kalau Doni sampai tau kalau dia sedang tidak baik baik saja.
Jam penerbangan pun sudah di umumkan, lalu Dinda menggandeng Agung, sedang Ayah yang membawa Ransel dan yang lainya.
Di dalam pesawat Dinda langsung menyuruh Agung untuk tidur, rupanya Agung sedikit panas badanya.
"Bertahan ya Mas,, Mas tidur saja, nanti kalau sudah sampai Dinda bangunkan,, "sambil menata duduk Agung agar merasa nyaman.
"Mas,, kita kerumah sakit sekarang,, perban kamu basah,,, "kata Dinda yang meraba bagian lukanya, dan perban rupanya Basah.
"Ngga Mas mau pulang, Mas kangen anak anak,, "
"Anak anak bisa nanti menyusul ke rumah sakit, sekarang Mas butuh perawatan,, "
"Ngga Mas mau pulang,, "
"Mass! ,,coba mengerti keadaan Mas sedang tidak baik,, pak kita kerumah sakit sekarang, "
Dinda rupanya emosi terhadap Agung yang tidak mau di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Udah Ji,, ini semua juga demi kamu,, masalah anak anak nanti bisa menyusul ke rumah sakit kalau kamu mau bertemu denganya,, Dinda itu huatir dan takut kalau kamu kenapa kenapa,,, "Kata Doni. Agung ahirnya mengiyakan.
Sedang Dinda menangis, karena tadi habis membentak Agung juga karena kuatir dengan keadaan Agung yang melemah.
Sampai rumah sakit Dinda memanggil Suster dan suster langsung membantu dan membawa Agung ke UGD.
"Dokter tolong suami saya,, "
"Iya Dok,kita akan melakukan yang terbaik, "jawab Dokter.
Ini rumah sakit tempat Agung bekerja, Dokter juga perawat sudah pasti sangat mengenal Agung.
"Gimana Dok,, ?"tanya Dinda saat Dokter keluar.
"Dokter Agung badanya panas akibat menahan rasa sakit di lukanya, dan lukanya juga basah lagi, tapi Kami sudah menanganinya, sekarang Dokter Agung sedang tidur, mungkin karena pengaruh obat,, "
"Iya Dok terimakasih, apa suami Saya sudah bisa di pindahkan ke kamar rawat,,? "
"Sudah bisa,, silakan Dokter Dinda mengurus soal kamarnya, nanti setelah siap kamarnya Kita akan pindahkan Dokter Agungnya,, "
"Baik Dok,, "
Dokter pun pergi, Dinda lalu mengurus kamar rawat untuk Agung.
"Sayang,, kamu pulang dulu sanah, lihat anak anak,, biar Pamuji Ayah yang temani,, "setelah selesai mengurus masalah kamar buat Agung, Dinda duduk lagi di dekat Doni, lalu Doni menyuruhnya pulang.
"Tapi Yah Dinda ngga mau ninggalin Mas Agung, kalau nanti Mas Agung bangun dan Dinda ngga ada pasti akan nyariin,, "
"Entar Ayah bilang kalau kamu mau lihat anak anak,, udah ngga usah kuatir,, pulang sanah,, "
"Tapi Yah,, "
__ADS_1
"Udah sanah pulang,, jangan kuatir, "sampil mengusap kepala Dinda.
Jangan lupa like komen dan votenya, trimakasih..