
Vivi hanya diam sambil melihat ke Akbar yang menggenggam tanganya,dan Akbar memejamkan matanya langsung.
"Ya Tuhan kenapa ini orang yah,kadang galaknya pake banget,kadang bikin baper,Ya Tuhan kuatkan hati ini,jangan sampai Aku menyukainya,karena Aku denganya bagai langit dan bumi,ngga mungkin dia menyukaiku,dia begini karena menganggapku sudah seperti keluarganya sendiri,"sambil melihat ke Akbar.
Setelah Akbar tertidur dengan nyenyak,Vivi menarik tanganya pelan,setelah terlepas Vivi lalu kembali ke sofa dan mengerjakan tugas skripsinya.
Suster datang membawa makanan untuk Akbar,dan mengecek air infusan.Setelah selesai Susterpun keluar.
Akbar tidur cukup lama,jam 7 malam Akbar baru bangun.lalu memangil Vivi.
"Vi,,Vivi,,"Vivi yang mendengar lalu bangun dan mendekati Akbar.
"Udah bangun,,"
"Hemmm,,iya,Aku mau minum,,"Vivi lalu mengambilkan Minum buat Akbar dan membantunya minum juga.
"Mau makan sekarang apa entar,,?"
"Entar dulu ,Aku mau jeruk,,"
Vivi lalu mengupas jeruk untuk Akbar,setelah itu Vivi memberikanya.
"Aa,,,suapin sekalian,,"Vivi lalu menurut dan menyuapi Akbar jeruk.
"Nulis Skripsinya belum selesai,,?"
"Udah,sekarang tinggal di cek,di baca lagi takut ada yang salah,"Akbar mengangguk.
Akbar habis jeruk dua biji,dan setelah itu Vivi menyuruhnya makan.
4 Hari berlalu,hari ini Akbar membuka perban di pahanya dan di tanganya.Agung dan Dinda menemaninya.
Hari ini Vivi tidak datang karena sedang mengikuti sidang skripsi.Akbar pun tau hari ini Vivi sedang sidang,karena kemarin Vivi sudah bilang padanya.
Dokter sudah mulai membuka perban di paha Akbar,dan saat di lihat jahitanya sudah kering,perban pun di lepas.tapi Akbar belum boleh banyak gerak,takut dalamnya belum kering.
Lalu Dokter lanjut membuka perban di lenganya,luka di lengan Akbar yang cukup parah,setelah di lihat masih belum kering,perban di pasang lagi tapi dengan perban yang baru.
Sedang di pelipis sudah kering,dan perban pun di buka,mata Akbar juga sudah tidak benkak lagi,sudah kembali normal dari kemarin.
"Dok,,anak saya akan saya bawa pulang saja,bisa kan,kita akan merawatnya di rumah,karena di rumah saya ada ruang rawatnya juga dan semua alatnya kumplit,"kata Agung.
"Sebenarnya pasien belum bisa di bawa pulang Pak,tapi karena bapa dan ibu juga Dokter yang sudah tidak di ragukan lagi kemampuanya,jadi saya akan izinkan,"
"Trimakasih Dok,,"
"Iya Pak,silakan bapa ke bagian administrasi setelah itu bapa bisa bawa anak bapa untuk pulang,"
"Iya Dok,,"
Dokter lalu keluar,sedang Dinda di suruh Agung untuk ke bagian Administrasi.
"Pah,,Luka Abang kira kira dua minggu lagi sudah sembuh belum,,?"
"Kenapa emangnya,kok tanya gitu,,?"
"Abang harus berangkat kan Pah,Abang akan lanjutin S1 dulu di sana,"
__ADS_1
"Kenapa ngga di sini aja,di sini juga bagus kok,kalau memang dasarnya otak kamu pintar,disini atau di sana itu sama aja Bang,,"
"Tapi Abang udah daftar Pah,,"
"Kapan kamu daftar, ?"
"Sebelum kecelakaan Abang sudah daftar,"Agung hanya membuang nafas kasar,sebenarnya Agung tidak mau Akbar berangkat ke sana,tapi ternyata Akbar pinginya tetap di sana di Amerika.
Dinda sudah datang,lalu Dinda membereskan barang barang di bantu pak supir.
Suster masuk bersama Perawat laki laki,si perawat lalu membantu Akbar untuk duduk di kursi roda,setelah suster melepaskan jarum infusan.
Dinda mendorong kursi rodanya,sedang Agung berjalan di sampingnya Dinda,kali Agung sudah sembuh tapi belum bisa jalan cepat,memang Agung juga punya riwayat sakit di kakinya,jadi sekarang Agung sudah tidak bisa jalan dengan cepat.
Sampai Rumah Abang mintanya di kamar aja dirawatnya.Agung dan Dinda pun mengiyakan,Akbar sudah ngga perlu infus lagi,karena Akbar sudah lebih baik.
Malam harinya Dinda menyuapi Akbar makan malam,dan selesai makan Akbar masih harus minum obat.
"Mah,,hp Abang di mana yah,?"
"Ada di kamar Mamah,"
"Abang minta boleh kan Mah,"
"Ya nanti Mamah anterin,"
Dinda lalu keluar dari kamar Alkbar sambil membawa piring kotor,setelah itu mengambil hp lalu di antar kan ke kamar Akbar.
"Abang belum sembuh bener,jadi main hp jangan lama lama,"
"Iya Mah,,"
"Iya Mah,,"
Akbar lalu membuka hpnya setelah Dinda keluar dari kamarnya,ternyata banyak pesan yang masuk,juga telfon.
Akbar membalas pesan yang penting penting saja,setelah itu Alkbar meletakan hpnya,karena ada suara kaki yang berjalan kearah kamarnya.
Dinda masuk kamar Dinda untuk mengecek Akbar sudah tidur belum.setelh di lihat Akbar sudah memejamkan matanya,Dinda keluar lagi sambil mematikan lampu kamar Akbar.
Setelah pintu di tutup,Akbar membuka matanya lagi.lalu sambil tersenyum tipis Akbar mengambil hpnya lagi.
Akbar mencari no Vivi,setelah ketemu Akbar langsung menelfonya,rupanya Akbar sehari ini tidak bertemu Vivi merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Hallo,,,"jawab Vivi.
"Sudah tidur,,,?"
"Belum Den,,ini lagi ngerapiin baju,kok Aden belum tidur sih,,"
"Aku ngga bisa tidur,,"
"Loh kenapa,,kan Aden bisa minum obat langsung tidur,"
"Aku tidak minum obat yang bikin ngantuk,"Akbar pasti tau obat yang mana yang bisa buatnya cepet tidur.
"Aden harus banyak Istirahat,jangan banyak begadang,nanti ngga sembuh sembuh loh,"
__ADS_1
"Sudah jangan bahas itu,,tadi gimana sidangnya,lancar,,"
"Lancar,,"
"Sukur,,hasilnya puas kan,,"
"Iya sangat puas,,"
"Kapan kira kira wisudanya,,?"
"Kayanya sebulan lagi,,"
"Oh gitu yah,lama juga yah,Aku jadi ngga lihat kamu wisuda nanti,,"
"Emang Aden mau kemana,?"tiba tiba suara Vivi berubah.
"Aku mau berangkat lagi ,mungkin dua mingguan lagi,nunggu Aku sembuh dulu,"Tiba tiba dada Vivi merasa sesak dan Vivi mengusap dadanya.
"Halo Vi,,kamu masih di situ kan,masih dengar kan,,"kata Akbar karena Vivi tiba tiba diam.
"I,,iya Den,,"
"Kamu kesini dong,,"
"Kemana,,?"
"Ke kamarku,,"
"Ngapain,,nanti ada orang lihat Saya ngga enak Den,,"
"Buatkan Aku minuman coklat hangat,,"
"Tapi,,,"
"Buruan ngga usah mikir lama lagi,"
Vivi ahirnya mau dan keluar dari kamarnya menuju dapur yang ada di rumah Akbar,jam sudah menujukan pukul 10 malam,jadi rumah sudah terlihat sepi.
Vivi membuatkan coklat hangat buat Akbar,setelah jadi Vivi membawa ke kamar Akbar,Vivi berjalan naik ke atas dengan sangat pelan agar tidak ada yang mendengar langkahnya.
Vivi dengan pelan masuk ke kamar Akbar,Akbar langsung menyuruh menyalakan lampunya.
Akbar menyuruh Vivi masuk,dan mendekatinya sambil membawa coklat hangatnya.
"Duduk sini,,gelasnya taro di meja saja,"Vivi masih berdiri karena bingung,Akbar menyuruhnya duduk di pinggir kasurnya.
"Kenapa diam,Ayo duduk,emang ngga cape apa berdiri terus,,"
"Tapi saya takut ada orang yang lihat,"
"Ngga akan ada yang tau,sudah duduk,emang kita juga mau ngapain sampai kamu takut gitu,"Akbar sambil tersenyummeledek Vivi,Vivi langsung menunduk malu.
"Duduklah sinih,Aku mau bicara,,"AhirnyaVivi mau duduk di pinggir kasur,dan itu sangat dekat dengan Akbar.
Akbar lalu mengambil tangan Vivi dan di genggamnya.
"Aku kangen,,,"
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih...