
Sampai di kantor Hendra langsung masuk ke dalam ruanganya, Hendra lalu menelfon kakek dan Dian untuk menceritakan kejadian yang menimpa Zara.
Hendra juga menceritakan kejadian Zara dengan Rizki saat di rumah sakit, Dian dan Kakek sebenarnya sama tidak membenarkan perbuatan Rizki, tapi mungkin itu karena terpaksa, karena niatnya juga menolong Zara bukan untuk melecehkanya.
"Pah,, Hendra belum mau kehilangan Zara, karena Hendra belum puas untuk merawat dan membingnya, Hendra masih ingin kalau Zara itu milik Hendra, tapi kalau sudah menikah pasti nanti beda, ya walau pun tetap saya papahnya, tapi pasti ada perbedaan,, "kata Hendra saat berbicara pada kakek.
"Papah tau yang kamu rasakan, kamu tau kan sekarang sakitnya kita sebagai orang tua melihat anaknya akan menikah dan meninggalkan kita, kamu belum seberapa, masih sakit Papah dulu saat kehilangan Mamahnya Zara,, Papah harus kehilanganya untuk selama lamanya karena tersiksa oleh suaminya, yaitu kamu.Bukan Papah mau mengungkit masalalu, tapi Papah hanya memberi taumu melepaskan anak kita untuk menikah itu memang berat, Tapi Papah lihat Rizki berbeda, dia lebih sabar dan juga tanggung jawab, Zara pasti bahagia nantinya kalau bersama Rizki,, "
"Hen,, asalkan Zara bahagia biarkan dan izinkan apa maunya dia, hanya itu yang bisa kita berikan sekarang, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakanya,justru Dian takut kalau nantinya mereka pacaran terlalu lama akan berbuat Zinah, apa lagi Rizki sudah melihat bagian tubuh Zara yang sangat pribadi,, "
"Apa Papah dan Dian setuju kalau mereka sebaiknya di nikahkan saja,, ?"karena hp di sepeker jadi Dian dan Kakek bisa mendengar bersama.
"Papah setuju aja kalau memang Zara mau untuk menikah,, karena Rizki juga terlihat dewasa pasti dia bisa membimbing Zara nantinya, "
"Menurut Dian juga sama, kamu tanya Zaranya aja dulu, sudah mau menikah atau belum,, kalau Zara mau, Dian sih setuju aja, "
"Iya nanti Hendra akan tanyakan, trimakasih kalian sudah mau berbagi dan mengobrol, Hendra sudahi dulu telfonya, "Kakek dan Dian menjawab bersama.
Setelah telfon mati Hendra bukanya mulai kerja, tapi justru memutuskan untuk pulang, Hendra rasanya hari ini tidak semangat kerja.
"Her,, Rizki sudah datang belum,,? "
"Belum pak,, "
"Kalau nanti dia datang, bilang padanya saya pulang dan pekerjaan dia yang suruh hendel dulu yah,, "
__ADS_1
"Baik Pak,, "Hendra langsung naik lif dan langsung akan pulang.
Sampai di rumah Dea yang melihat Hendra pulang langsung mendekatinya.
"Kok Mas pulang lagi,, ada yang ketinggalan apa belum ke kantor,,? "tanya Dea. Hendra tidak menjawabnya tapi langsung merangkulnya dan di ajaknya ke kamar.
"Mas sakit,, ?"Dea berkata lagi saat sampai di kamar.
"Ngga,, Mas ngga sakit, tapi Mas lagi pusing,, "langsung menjatuhkan badanya di kasur.
"Pusing kenapa,, ada masalah apa sih, "Dea duduk di pinggir kasur.
"Mas bingung dengan Zara dan Rizki,, "
"Ada apa dengan mereka Mas,, apa terjadi sesuatu,, ?"Hendra lalu meletakan kepalanya di Pangkuan Dea, dan Dea mengusap kepala Hendra dengan sayang.
"Menurut kamu Mas harus gimana Yang,, ?"setelah menceritakan semuanya.
"Dea sih juga sama dengan Kakek dan kak Dian, kalau Zara memang mau menikah muda, nikahkan saja Mas, karena mau cepat atau lambat Zara juga ahirnya akan menikah, apa lagi Rizki sudah melihat sesuatu yang harusnya belum boleh di lihatnya, itu tidak baik Mas,, takut kalau di biarkan mereka berbuat yang melewati batas juga, "Hendra hanya diam.
Sore harinya Hendra dan Dea datang ke rumah sakit, dan Mimin di suruh pulang duluan ke rumah.
"Gimana sayang, sudah lebih enakan kan, "sambil Dea duduk di pinggir ranjang pasien.
"Sudah Bun, sudah lebih baik, "
__ADS_1
"Sukur,, kalau gitu,, "
Sekitar jam setengah 6 sore, Rizki datang dan langsung dari kantor.
"Kamu kenapa ngga pulang dulu Ki, mandi kek biar seger,, "kata Hendra saat Rizki masuk.
"Maaf Bos,, saya kuatir sama Zara, jadi Saya langsung ke sini aja,, "Hendra membuang nafasnya kasar.
"Ki saya mau bicara sama kamu, duduklah,, "Zara yang penasaran juga lalu ikut duduk di ranjang, dan di bantu Dea untuk bangun. setelah Rizki dan Zara duduk Hendra mulai bicara.
"Apa kamu serius dengan Zara, dan kamu ingin menikahinya,, "
"Saya serius Pak,, dan saya juga ingin menikahinya, "
"Apa menurutmu Zara sudah dewasa, dia itu masih kecil, 20 tahunya aja nanti masih 3 bulan lagi, apa kamu nanti tidak merasa terbebani, kalau kamu menikah denganya, segala keperluanya itu sudah tanggung jawabmu, dan Zara masih sangat banyak keperluan dan kebutuhanya, apa kamu nanti sanggup menanggung itu semuanya, "
"Saya akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan Zara Pak kalau nanti kita sudah menikah, saya akan bekerja lebih giat lagi nantinya, "
"Saya sebagai orang tua sebenarnya berat untuk mengizinkan Zara berpacaran denganmu,karena Zara masih harus kuliah dan mencapai cita citanya, tapi mungkin ini kehendak Tuhan saya bisa apa, sekarang justru Zara tertimpa musibah dan kamu yang seharusnya tidak boleh melihatnya sekarang kamu sudah melihatnya,"
"Sekarang saya putuskan sebaiknya kalian MENIKAH saja, agar kalian tidak melakukan banyak dosa lagi,, "Rizki yang belum bisa mencerna perkataan Hendra masih diam, lalu Rizki ahirnya bisa mencernanya dan langsung melihat ke Hendra.
"A,, apa Bapa Se,,, serius, mengizinkan saya menikahi Zara,,,, "
**Jangan lupa like, komen dan votenya, trimakasih...
__ADS_1
Ayo dong beri aku bunga atau kopi biar Aku semangat nulis untuk menuju Halal mereka**...