MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Hendra Marah


__ADS_3

Sekitar jam 3 sore Dian baru pulang dari rumah sakit, tadi yang menjemput kerumah sakit Rizki dan Zara.


Rumah kakek sekarang menjadi sangat ramai, dan Aditiya pun ada teman bermain,si kembar juga betah karena suasananya sejuk.


Anak anak main di belakang rumah di temani dua pengasuh. sedang para laki laki mengobrol di ruang keluarga, sedang Dea dan Zara ada di kamar Dian, sedang bermain dengan bayi perempuan yang cantik.


"Kak,, kok kaka cesar,, katanya cesar tuh justru habis lehiran kan baru terasa sakitnya,? "tanya Dea sambil menggendong bayinya.


Sedang Dian tiduran di kasur, di temani Zara yang duduk di dekatnya.


"Iya memang sakit banget Dek,, kaka melahirkan Cesar karena kandungan kaka lemah, dan kaka yang umurnya sudah cukup banyak di anjurkan melahirkan cesar,karena kalau normal takutnya ngga bisa mengejan, "


"Oh gitu ya Kak,, "


"Ini aja Kaka terasa linu gitu, pokonya kamu kalau nanti hamil lagi jangan sampai melahirkan cesar, benar benar sakit setelahnya,, "Dea hanya mengangguk.


"Sayang itu kakek, Ayah, Papah sama Rizki udah di buatkan minuman belum,, "Zara menggeleng.


"Buatkan minuman dulu sanah, biar mereka ngobrolnya enak,, trus ada kue kering di lemari atas biasa Mamah taro makanan, ambilin buat teman minumanya, "


"Iya Mah,, "Zara pun keluar dari kamar Dian.


Zara menuju dapur untuk membuatkan minuman.


Sedang Para laki laki mengobrol dan membahas tentang masalah kerjaan.


"Kamu harus pintar memilih teman bisnis Hen, karena orang orang seperti kamu itu suka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tender, dan juga melakukan permainan saham, apa lagi suka saling menghancurkan,, "kata kakek.

__ADS_1


"Iya Pah, Hendra juga faham soal itu, apa lagi kalau perusahaan sedang bermasalah, itu kita harus bisa mencari suntikan dukungan atau suntikan dana dari perusahaan lain, kalau ngga langsung deh siap siap bangkrut,, "


"Hen kadang orang orang sepertimu juga ada yang ingin menjodohkan anak anaknya demi keuntungan perusahanya loh, Anakmu sudah besar dan hati hati kalau ada yang ingin menjodohkan anaknya dengan anakmu,siapa tau itu perusahaan sedang sakit dan hanya ingin memanfaatkan perusahaanmu, yang kasihan bukan hanya anakmu saja tapi juga perusahaanmu, karena di manfaatkan, "sekarang Doni yang bicara panjang lebar.


"Iya kak,, dan memang ada sih yang sudah datang ke Hendra, dan ingin menjodohkan anaknya dengan Zara, tapi Hendra belum memberi keputusan, karena Zara juga masih kecil bagi Hendra, biar dia kuliah dulu dan mendapat gelar, baru setelah itu terserah Zara, kalau Hendra menyerahkan keputusan soal itu pada Zaranya aja Kak,, "Rizki yang mendengarnya hanya bisa diam, sambil mere*mas tanganya, Rizki yang tadinya ingin jujur pada Hendra tentang hubunganya dengan Zara langsung menciut lagi nyalinya.


"Bagus itu,, kita sebagai orang tua tidak boleh memaksa anak, karena kalau kita memaksanya dan nantinya hidup anak tidak bahagia, kita pasti akan menyesal ,"


"Tapi kalau seandainya Zara sudah mempunyai seorang kekasih, kamu gimana Hen,,? "tanya Kakek, sambil melirik ke Rizki.


Tapi saat Hendra mau menjawab, Zara datang dengan membawa minuman teh manis hangat, dan setoples kue kering.


Zara lalu meletakan gelas gelasnya satu persatu, saat gelas terahir, Zara tiba tiba kepanasan dan jatuh, ahirnya tumpah dan gelasnya pecah.


"Ayah ambil kain pel dulu, untuk mengelapnya,, "Doni langsung bangun.


Zara lalu mengambil pecahan gelas, dan di bantu Rizki, tiba tiba Zara teriak.


Tanpa Rizki sadari Hendra dari tadi melihat kearah Rizki dan Zara. Kakek yang melihatnya hanya tersenyum tipis.


"Ini sobeknya cukup lebar, ayo bersihkan dulu dengan air lalu di plester,, "Rizki menarik tangan Zara untuk bangun dan membawanya ke dapur untuk mencucinya di westafel.


"Kotak obat ada di laci meja samping kompor Ki,, "teriak kakek. Rizki mendengarnya tapi karena panik jadi tidak menjawab, dan Zara hanya diam dan menurut karena merasa perih.


Rizki lalu mencuci luka Zara, setelah di siaram dan darah tidak keluar lagi, Zara di suruhnya duduk, dan Rizki mengambil kotak obatnya.


Rizki memberi obat merah, lalu di balutnya dengan plester.

__ADS_1


"Bang,, "


"Hemm,, ada apa,, masih sakit yah,, "


"Ngga,,, cuman,,, "


"Cuman apa,, "


"Tadi Papah lihatin kita terus,, "Rizki yang baru sadar lalu diam, dan sekarang sedikit takut dan bingung.


"Trus sekarang gimana,, "Zara hanya menggeleng.


"Kita keluar yu Bang,, "Rizki pun mengangguk, lalu mereka berdua keluar.


Hendra yang melihat mereka berdua keluar langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksud dari yang saya lihat tadi Ki,, "Rizki diam belum berani menjawab.


"Jangan bilang kalau kalian ada hubungan yah,karena saya tidak akan menyetujuinya,,, ngerti,,, "Hendra langsung bangun dan pergi dari situ.


"Sudah,, biarkan Hendra tenang dulu, kalian duduklah,,"kata Kakek.


Zara lalu memeluk kakeknya, sambil menangis, karena tadi melihat Hendra yang terlihat marah.


"Ngga usah menangis, kakek akan bantu bicara pada papahmu,, biar sekarang Papahmu tenang dulu,, "


Ayah Doni yang tidak tau tentang ada masalah apa ahirnya bertanya. karena tadi melihat Hendra pergi dengan terlihat kesal. Ayah rupanya tadi habis membuang pecahan gelas keluar rumah.jadi tidak tau ada apa.

__ADS_1


"Memngnya ada apa ini, apa ada masalah,,? "


Jangan lupa like, komen dan votenya, trmakasih..


__ADS_2