MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Hendra Mual


__ADS_3

Sudah tiga hari Dea selalu di rumah terus dan tidak mau keluar dari rumah, karena Dea merasa kepalanya pusing saat lihat matahari, tapi kalau masalah makan Dea sangat doyan,membuat orang rumah pun bingung melihatnya.


Tapi beda dengan Hendra, Hendra justru sekarang yang susah makan, selalu mual kalau lihat nasi dan bau bumbu dalam masakan.


"Yang,, tolong buatkan Mas roti panggang yah,, kasih telor ceplok dan teh hangat pahit,, "kata Hendra saat sedang bersiap mau berangkat ke kantor, dan Dea membantunya mengancing baju.


"Iya Mas,, Dea akan buatkan,, "


"Dan buatkan juga buat makan siang Mas, "


"Iya,, ya udah yuk kita keluar, nanti Dea buatkan sarapan,, "setelah Hendra rapi.


Lalu mereka berdua keluar kamar bersama, di meja makan suadah ada Zara dan Mamah.


"Pagi semuanya,, "sapa Dea.


"Pagi,, "jawab Mamah dan Zara.


Hendra langsung duduk, sedang Dea langsung sibuk membuatkan pesanan Hendra, pertama Dea membuatkan teh pait panas, dan setelah siap di letakanya di depan Hendra.


Setelah Itu baru membuatkan roti isi telor ceplok.


"Non biar Saya aja yang buatkan,,? "


"Ngga usah mba,, makasih. ini Mas Hendra penginya Saya yang buatkan,, "


"Kalau mba mau bantu Saya, tolong buatkan samabal mangga muda dong,, itu mangganya kemaren di kulkas masih ada satu,,"lalu Mba pun mengerjakan yang Dea suruh.


Dea selesai membuat roti untuk Mas Hendra dan langsung menyajikanya.


"Zara mau berangkat sekolah dulu yah, Pah, Bunda,, Oma,, "sambil mencium tangan mereka.


"Iya sayang,, hati hati yah,, "kata Dea.


Setelah Zara pergi, Dea pun ikut sarapan, dan Mba pun membawakan sambal mangga mudanya.


"Sayang,, kamu pagi pagi kok makan sambal kaya gitu sih,, itu asam loh,, "kata Hendra.

__ADS_1


"Tapi ini seger Mas, bikin kepala Dea ngga pusing,, "


"Tapi tetap ngga boleh banyak banyak, nanti takut perutnya sakit Yang,, "


"Iya,, Dea ngga akan habiskan kok,, ini bisa buat nanti siang,, "


"Ya udah Mas mau berangkat dulu yah, bekal Mas mana,, ?"


"Itu di kotak yang warna hitam,, "jawab Dea sambil menujuk.


"Yang,, kamu masih ngga mau nganterin Mas sampai depan,,? "


"Ngga ah,, Dea pusing kalau lihat matahari, Mas keluar sendiri aja yah,, "sambil bangun dari duduknya, lalu mencium tangan Hendra dan Hendra mencium kening Dea, saat Hendra akan mencium bibir Dea, Dea langsung memundurkan kepalanya.


"Ada Mamah Mas,, malu ihhh,, "Mamah hanya tersenyum saja melihatnya.


"Mah,, Hendra berangkat yah,, "sambil mencium tanganya.


"Iya,,hati hati yah,, "


"Mamah perhatikan Kamu dan Hendra ahir ahir ini aneh tau ngga,, "


"Masa sih Mah,, aneh di mananya,,? "


"Ya kalian itu aneh, yang satu takut matahari tapi makan banyak, yang satunya ngga mua makan nasi dan sayur,, aduhhh,, Mamah lihat kalian aja pusing,, "


"Dea aja ngga tau loh Mah, kenapa Dea kalau lihat sinar matahari tuh kepalanya jadi pusing gitu,, "


"Ya semoga aja kalian ngga ngidap penyakit aneh,, "


"Iihh,, Mamah ya ngga lah,, "sedang Mamah hanya tersenyum.


Selesai makan Dea masuk kamar dan merapikan kamarnya, setelah selesai Dea langsung tiduran dan malas malasan di atas kasur.


Pukul sebelas siang Hendra menelfon Dea, dan Hendra mengatakan kalau dia muntah muntah dan lemas, Dea yang panik langsung bersiap untuk ke kantor Hendra.


Dea memakai baju serba panjang, dan memakai topi juga kacamata Hitam. dengan berjalan cukup cepat masuk ke dalam mobil karena takut terkena cahaya matahari.

__ADS_1


Sampai Di kantor Dea juga tetap memakai kaca mata hitamnya, dan baru lah saat di dalam lif kaca mata di simpanya di dalam tas.


"Sukurlah Mba Dea cepat datang,, itu Pak Hendra dari tadi muntah muntah saja, dan ngga mau saya bantu Mba, "kata Eva saat melihat Dea yang keluar dari lif dan mendekatinya.


"Trus siapa yang menemaninya di dalam,,? "


"Hanya Rizki Mba,, "


"Oh iya, makasih,,, Mba mau ikut masuk,, ?"


"Ngga Mba,, saya takut Pak Hendra marah lihat Saya,, "jawab Mba Eva, lalu Dea pun masuk ke dalam ruangan Hendra.


"Kamu kenapa Mas,,? "tanya Dea saat di dalam dan mendekati Hendra, melihat Hendra yang tiduran di sofa dengan wajah pucat dan berantakan, karena baju yang sudah di keluarkan dari dalam celana juga basah oleh keringat membuat Dea kuatir.


"Yang,, kepala Mas rasanya pusing dan perutnya mual terus ini,, "kata Hendra sambil bangun dari duduknya, dan Dea pun duduk di sebelah Hendra.


"Kita ke dokter aja ya Mas,, "Hendra hanya menggeleng dan langsung menjatuhkan kepalanya di leher Dea dan menghirupnya.


"Ngga usah,, Mas hanya butuh kamu Yang,, bau badanmu bisa membuat mual Mas hilang,, "Dea yang mendengarkanya sedikit merasa aneh, dan Dea baru sadar ternyata di sofa sebelahnya ada Rizki.


"Mas,, jangan kaya gini. Ada Rizki malu,, "sambil mendorong kepala Hendra agar tegak.


"Ki,, kamu balik gih keruangan kamu, Saya sudah ada Istri di sini ,,"


"Iya Pak,, permisi,, "sambil menunduk sedikit, sedang Dea tersenyum tipis.


Setelah Rizki keluar, Hendra langsung mengajak Dea menuju kamar yang ada di ruanganya.


"Sayang,,, Mas kok mual terus sih,, tapi kalau bau badanmu gini kok jadi ngga mual ,,"sambil memeluk Dea dan wajah Hendra di selusupkan ke leher Dea.


"Periksa aja ya Mas,, takutnya kenapa kenapa lagi sama Mas,, "


"Ngga usah,, Mas masih kuat kok,, "


"Ya udah terserah Mas, tapi nanti kalau mualnya ngga sembuh sembuh juga kita ke Dokter yah,, "Hendra hanya memberi jawaban dengan deheman aja, dan selanjutnya Henra pun tertidur.


Jangan Lupa like ,komen dan votenya,trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2