
Vivi berangkat ke klinik dengan menggunakan taxsi,di perjalanan menuju klunik Vivi terus saja memikirkan kata kata Akbar,sampai tidak terasa taxsi sudah berhenti di depan klinik.
"Mba,,sudah sampai,"kata Pak supir taxsi,dan Vivi yang sedang melamun langsung kaget,dan menjawab Iya.
Vivi lalu membayar dan setelah itu keluar dari taxsi dan langsung masuk ke klinik.
Sampai di dalam ruangan kerjanya,Vivi langsung menyibukan diri dengan bekerja,sampai tak terasa perutnya merasa sakit.
"Pantas aja perutku sakit,Aku belum sarapan,ini udah jam 11 lagi,,"Vivi lalu mengambil kotak makan yang tadi di bawanya,dan langsung memakanya.
"Aku kalau ngekos nanggung,bentar lagi Wisuda,dan Aku kan mau pindah ke Bandung setelah wisuda,"sambil memasukan makanan Vivi terus saja bicara sendiri.
"Sebaiknya Aku harus ngindarin Den Akbar deh,kita ngga boleh sering bertemu apa lagi berduaan,Aku takut malah jadi cinta,sebenarnya siapa sih yang ngga seneng di cintai orang kaya Den Akbar,kalau ganteng jangan di tanya,walau galak tapi dia anak baik,apa lagi sama keluarganya,penyayang banget,sudah pasti dia akan sukses oranya aja pintar kok,,aduhh Aku jadi pusing gini sih,,"
Selesai Makan Vivi lanjut kerja lagi,karena dengan sibuk Vivi jadi tidak kepikuran tentang Akbar.
Jam satu siang Dinda datang,"Siang Vi,,"sapanya.
"Siang Bu,,"
"Kamu sudah istirahat belum dan makan siang,?"
"Udah Bu,tadi Saya bekel,,"
"Oh gitu,,"Vivi menjawab Iya sambil tersenyum.
Lalu keduanya lanjut bekerja,sampai sore sekitar jam 5 Dinda dan Vivi pulang bersama.
Di dalam mobil Vivi mengambil hpnya di dalam tas,saat di lihat banyak pesan masuk,Vivi memang dari pagi tidak membuka honya,karena sibuk bekerja,pesan yang masuk ada 3 pesan dari Akbar.
"Lagi ngapain,,sibuk yah,,"
__ADS_1
"Sudah makan siang belum,,?"
"Pesanku dari tadi ngga di balas,kenapa,,?apa segitu sibuknya,apa malas bales pesanku,?"
Vivi hanya membacanya saja tanpa membalas pesan dari Akbar.
Sampai Rumah Dinda langsung ke kamar Akbar untuk melihat keadaanya.
Vivi masuk kamar dan istirahat,Vivi tanpa mandi langsung tidur.
Jam 9 malam Vivi terbangun karena merasa lapar,Vivi lalu mandi pakai air hangat,setelah mandi pakai baju lalu ke dapur langsung untuk makan.
"Kamu mau makan Vi,?"tanya mba iis.
"Iya Bi,,"
"Ya udah makan gih,selesai makan rapiin yah,lampu dapur matiin,Bibi sama Mba Iis mau istirahat,"Vivi menjawab Iya.
Vivi sudah selesai makan,lalu mencuci piring bekasnya makan,dan merapikan bekas lauk dan sayurnya juga.
Setelah itu Vivi keluar dari dapur,dan lalu duduk di teras depan rumah yang Vivi tinggali.
Vivi melihat ke hpnya,Vivi membaca pesan yang masuk satu persatu.tapi tiba tiba hpnya berbunyi randa panggilan,saat di lihat ternyata dari Akbar.
Vivi mengabaikanya,dan tidak mau mengangkatnya,karena takut Akbar menyuruhnya untuk datang ke kamarnya.
Karena tidak di angkat Akbar mengirim pesan"Aku tadi mau ke kamar mandi,dan saat bangun tangan kiriku terbentur meja,tanganku sakit banget ini,Mamah di telfon juga ngga di angkat,tolongin Aku,,"Vivi yang membacanya langsung bingung,antara kesana atau tidak.
"Ya Tuhan,,kenapa Aku bingung gini,kalau ngga di lihat takut kenapa kenapa lagi,"Ahirnya Vivi berjalan masuk ke rumah Dinda,dan berjalan sangat pelan,takut ada orang yang melihatnya.
Sampai di depan kamar Akbar,Vivi mengetuk pelan,lalu membuja pintunya.
__ADS_1
Terlihat Akbar yang sedang memegang tanganya,dan ada warna merah di perbanya.
Vivi lalu mendekatinya,tanpa bicara apa apa Vivi langsung membuka perbanya dan melihat lukanya.Vivi duduk di kursi yang dekat ranjang.
"Kenapa Aku kirim pesan ngga di balas,dan telfonku pun ngga di angkat,?"Vivi tetap diam dan sibuk melepaskan perbanya.
"Apa Aku harus melukai ranganku terus seperti ini agar kamu mau datang,?"Vivi tetap diam dan membersihkan luka Akbar.
"Apa kamu marah dan ngga suka dengan ungkapan perasaanku yang menyukaimu,apa kamu sudah mempunyai kekasih,tolong jawab pertanyaanku,biar Aku tau .kalau kamu menolaku Aku ngga papa asal kamu bilang,dan tenang saja Aku ngga bakalan marah,karena nanti setelah luka di tanganku sembuh,Aku akan langsung pergi,dan kamu tidak akan merasa di ganggu lagi olehku,kamu juga mau pindah ke Bandung kan,jadi kita tidak akan bertemu lagi,"Perkataan Akbar tiba tiba membuat dadaVivi merasa sesak dan sakit,dan gerakan tangan Vivi pun sampai berhenti.
Vivi yang tersadar langsung menyelesaikanya,dan Akbar tidak lagi berkata,hanya saja terus menatap ke Vivi,sedang Vivi terus menunduk.
Setelah selesai Vivi akan bangun dari duduknya,tapi Akbar menahanya.
"Tolong jawab pertanyaanku,Aku akan hargai keputusanmu,,apa kamu mau jadi kekasihku,?"
Vivi dengan pelan menggelengkan kepalanya,"Kenapa,,Apa kamu sudah punya kekasih,?"
"Saya tidak punya kekasih ,"dengan sangat pelan Vivi menjawab.
"Lalu kenapa kamu menolaku,?"
"Karena kita berbeda,Aku hanya orang kampung yang ngga punya apaapa,sedang Aden anak orang kaya dan semua orang pun tau siapa orang tua Aden,pasti Orang tua Aden ingin anaknya mempunyai istri yang sepadan,"
"Apa menurutmu orang tuaku seperti itu,?"Vivi diam.
"Asal kamu tau orang tuaku tidak seperti itu,Orang tuaku tidak terobsesi dengan harta atau gila hormat,kenapa kamu sampai berfikur sejauh itu,ini kita yang menjalani,Orang tuaku tidak mungkin melarang anaknya untuk bahagia,"
"Kamu sudah tinggal di sini cukup lama kan,dan ikut kerja sama Mamahku juga sudah lama ,apa selama kamu tinggal dan kerja bersama orang tuaku,rerlihat orang tuaku yang gila harta dan semuanya,"Vivi diam.
"Sekarang yang ingin Aku tau dari kamu gimana perasaan kamu kalau ada bersamaku dan di sampingku,?"sambil Akbar menggenggam tangan Vivi.
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan votenya,trimakasih....