
"Maafkan Saya yang sudah egois,, Saya hanya ingin kita cepat menikah agar kita selalu bersama, Saya akan mengenalkan kamu pada Mamah, agar Mamah tau kalau kamu adalah calon istri Saya,, "sambil memeluku. Aku pun masih makin terisak.
"Sudah jangan menangis lagi,, maafkan Saya, "sambil mengusap air mata di pipiku.
Lalu Aku pun memeluknya lagi,, dan Aku juga sebenarnya takut kalau sampai Mas Hendra ninggalin Aku.
"Kita turun yuk,, dan usap air matanya, jangan sampai kelihatan habis menangis,, nanti di kira Mamah Saya ngapa ngapain kamu,, "Aku yang ngga ngerti dengan omongan Mas Hendra langsung melihat keluar jendela mobil.
"Ini di mana Mas, dan ini rumah siapa,,? "tanyaku, karena sekarang mobil Mas Hendra berhenti di depan rumah yang sangat bagus dan sangat besar.
"Rumah Mamah Saya,, udah yuk kita keluar, kita minta restu sama Mamah Saya,, "kata Mas Henda, Aku pun langsung kaget.
"Tapi Mas,,, Dea belum siap,, Dea takut,, "kataku sambil menunduk.
"Ngga usah takut kan ada Saya,, udah Ayo turun,, "lalu Mas Hendra turun dari mobil, sedang Aku langsung mengambil cermin untuk melihat wajahku takutnya bedaku belepotan.
Mas Hendra membukakan pintu mobil untuku, setelah Aku lihat di cermin wajahku tidak belepotan Aku pun turun dari mobil.
Mas Hendra menggandeng tanganku dan Aku menggenggamnya dengan kencang.
"Ngga usah tegang gitu,santai saja, "Aku hanya diam saja, iya Mas Hendra sanatai karena Mamahnya lah kalau Aku.
Saat sudah sampai di delan pintu Aku melepaskan tangan Mas Hendra dari tanganku.
"Loh kok pulang,, ada yang ketinggalan,,? "Tanya Mamah Mas Hendra.
"Eh,, ada Dea juga, ayo sinih duduk, "saat melihatku dan langsung mendekatiku lalu menggajaku untuk duduk di sofa, sedang Mas Hendra dengan tenangnya hanya diam dan kelihatan santai.
"Mamah ngga pergi,tumben,,? "tanya Mas Hendra.
"Ini tadinya mau siap siap pergi, tapi ada kalian,, pertanyaan Mamah belum di jawab tadi. ada yang ketinggalan, apa ada apa,,?"Mas Hendra menatapku dan Aku langsung menunduk.
"Mamah ingin kenal calon Istri Hendra kan,, "Mamah Mas Hendra pun mengangguk.
"Ini calon istri Hendra, namanya Dea Adisti dan dia adalah sekertaris Hendra di kantor,, "Mamah Mas Hendra langsung menatapku.
__ADS_1
sedang Aku tersenyum kaku.
"Apa yang Hendra katakan benar kamu calon Istrinya,, "Aku menganggku.
"Kamu ngga lagi di ancam sama Hendra kan,, "Aku pun menggeleng.
"Tapi Mamah ngga percaya kalau kalian ada hubungan, karena Dea aja seperti tertekan gitu, "sambil menatap ke arah ku dan Mas Hendra.
"De,, ngga usah tegang gitu, tuh kan jadi Mamah ngga percaya sama hubungan kita,, "Aku hanya tersenyum sekilas.
"Me,, mang benar Bu kalau Dea sama Mas Hendra menjalin hubungan, dan kedatangan kita ke sini ingin meminta restu sama Ibu,, "Aku sambil menunduk.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan,,? bukan kah kamu baru kerja jadi sekertaris Hendra minggu minggu ini, kok kalian bisa jadi sepasang kekasih,, ?"
"Kita sudah kenal itu lama Bu,, Dea ini adik dari suaminya Dian Mamah Zara,jadi setiap Hendra jengukin Zara pasti ketemu Dea, Hendra sudah suka sama Dea lama tapi Hendra tidak berani mengatakanya, dan sampai ahirnya Dea kerja jadi sekertaris Hendra, baru deh Hendra berani menyatakan cinta pada Dea,, "Mas Hendra yang menjelaskan.
"Benar itu yang di katakan Hendra De,,? "
"Ii,,ya Bu, benar yang di katakan Mas Hendra,, "
"Apa kamu ngga takut kalau Hendra akan seperti dulu,,? "
"Semua orang pasti punya masalalu Bu,, begitu juga dengan Dea,apa lagi masalalu Dea lebih menyakitkan,, "
"Serius,,, "Aku pun mengangguk.
"Masalahnya apa,, kalau Ibu boleh tau,,? "
"Dea di ceraikan oleh suami Dea,karena Dea tak kunjung hamil, dan suami Dea juga sudah menikah lagi saat masih menjadi suami Dea,,"
sambil memaksakan tersenyum.
"Ya Tuhan nasib kamu menyedihkan sekali,, sudah berapa tahun pernikahan kamu itu,,? "
"Sudah 10 tahun Bu,, "jawabku.
__ADS_1
"Mungkin karena memang dia bukan jodohmu, makanya Tuhan belum memberikan keturunan pada kamu,, yang sabar yah De,, "
"Iya Bu,, makasih,, "
"Jadi kapan kamu akan menikah dengan Hendra,,?"Aku langsung melihat ke arah Mamah Mas Hendra, apa ini artinya hubunganku di restui, batinku.
"Hemmm,,, apa Ibu merestui hubungan Dea dengan Mas Hendra,,? "tanyaku memastikan.
"Iya Ibu merestuinya, kalian sama sama pernah mendapatkan cobaan dalam pernikahan kalian sebelumnya, itu bisa buat pembelajaran di hubungan kalian nanti,, "
"Apa Ibu tidak masalah mempunyai menantu seorang janda dan mungkin Dea ini mandul,, "kataku sedikit takut.
"Ibu tidak memasalahkan setatus kamu, soal keturunan itu bisa kan kalian nanti berobat atau melakukan bayi tabung, yang penting bagi Ibu kalian saling mencintai dan menerima kekurangan dari masing masing, Ibu Ingin Hendra menikah biar ada yang menjaga dan mengurusnya, jadi Ibu harap kalian jangan terlalu lama menunda pernikahan, kalau bisa yang cepat saja,, "sambil menggenggam tanganku.
"Terimakasih Bu atas restu yang Ibu berikan,, "sambil Aku mengusap air mata yang tiba tiba menetes. lalu Aku mencium tangan Ibu.
"Ya sudah Ibu mau siap siap pergi, soalnya ibu mau pergi arisan,,kalau kalian butuh bantuan Ibu untuk mempersiapkan pernikahan kalian, Ibu siap bantu,, "sambil bangun dari duduknya dan Aku pun mengangguk sambil menjawab iya.
Setelah Ibu pergi Mas Hendra menatapku sambil tersenyum, dan berapa detik kemudian Mas Hendra langsung berjalan dan duduk di sampingku.
"Gimana sudah tenang dan lega kan sekarang,? "Aku pun mengangguk.
"Jadi apa jawaban untuk lamaran Saya,,? "Aku pun menganggkukan kepala gi.
"Saya ngga butuh anggukan kepala, Saya butuh jawaban,, "
"Iya,, Dea mau menjadi istri dari Mas Hendra,"tiba tiba Mas Hendra memeluku dan menciumi wajahku. Aku berusaha berontak tapi Mas Hendra tetap saja memeluku dengan kencang.
"Eeehhhh,,, Hendra kamu belum halal jangan peluk peluk gitu,, "rupanya Ibu melihat kelakuan Mas Hendra karena Ibu akan pergi.
"Heheee,,, iya Mah,, soalnya Hendra seneng banget hari ini,, "dengan masih memeluku, Aku berusaha melepaskan pelukan Mas Hendra tapi susah karena sangat kencang memeluknya.
"Tapi ngga boleh peluk peluk gitu,, lepasin,,, "sambil Ibu menarik Mas Hendra agar menjauh dariku.
Aku pun bernafas lega, ahirnya pelukan Mas Hendra lepas juga, setelah itu Ibu pun pamit untuk pergi.
__ADS_1
Jangan lupa luke, komen dan votenya terimakasih...