MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Pulang Ke Kota


__ADS_3

Aku membuka mataku secara berlahan,dan saat mataku terbuka dengan sempurna Aku melihat suamiku yang tersenyum ke arahku.


Dan setelah Itu, Suamiku langsung memanggilku Sayang dan mencium keningku. Setelah itu Suamiku juga meminta maaf padaku atas ketidak kepercayaanya atas kata kataku tentang sodaranya yang gila itu. karena Aku merasa haus Aku pun meminta minum. Dan Suamiku mengambilkan minum untuku.


Setelah minum Aku rasanya masih lemas dan ingin memejamkan mata lagi,karena mungkin pengaruh obat. Tapi badanku rasanya sakit semua, tulang tulang di tubuhku seperti remuk, di tambah di bagian perut, rasanya nyeri. Aku ingin menanyakan kondisiku pun rasanya bibirku tak bisa bicara.


Suamiku yang melihatku ingin memejamkan mata melarangnya, katanya anaku dan Ibu ingin melihatku yang sudah sadar, jadi Suamiku melakukan video call.


Saat video sudah terhubung Aku melihat Ibu dan Akbar yang tersenyum bahagia, Ibu dan Akbar sampai menangis melihatku yang sudah siuman. Aku juga sampai ikut meneteskan air mataku.


Sudah tiga hari ini Aku di rawat, dan keadaanku sudah semakin membaik, Suamiku tak pernah sekalipun meninggalkanku sendiri, dia selalu menemaniku dan menjagaku. Setiap makan dia yang menyuapiku dan selalu mengelap tubuhku kalau pagi.Ibu tiap hari kesini mengantarkan makanan dan menjenguku, sedang Anaku dia tidak boleh ikut kita hanya melakukan video saja, anaku selalu menangis kalau melakukan video dia juga menanyakan kapan Aku pulang, Anaku ingin cepat pulang ke kota dia seperti ketakutan dan troma melihat kejadian yang menimpaku. Anak kecil melihat Mamahnya dalam keadaan kaki dan tangan di ikat, mulut yang di sumpal dan juga wajahku yang berdarah.


Aku ke Suamiku tidak lah marah tapi hanya kecewa, kenapa dia tidak percaya perkataanku dari awal, mungkin kalau dia percaya kejadianya tidak akan seperti ini. Aku pun ke Suamiku saat ini berbicara hanya seperlunya, bukanya mendiamkan, Aku hanya masih kecewa.biarkan Suamiku itu merasakan kekecewaanku padanya.


"Adek,, makan dulu, "kata Suamiku sambil menyidorkan sendok yang berisi nasi. Saat ini Aku sedang makan sore. Aku pun membuka mulutku untuk makan, rasanya makanan rumah sakit itu tidak lah enak tapi demi agar cepat sembuh Aku pun harus memakanya.


Selesai makan Aku akan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tanpa minta tolong ke Suamiku Aku turun dari ranjang yang lumayan tinggi. Suamiku yang melihat ku langsung membantuku untuk turun.


"Adek mau kemana,? "tanyanya sambil menuntunku. tapi Aku melepaskan tangan Suamiku yang sedang menuntunku.


"Ke kamar mandi, "jawabku,dan masuk ke dalam. Aku sudah membaik cuman masih merasa nyeri di perutku. Entah kenapa, kemaren Aku kok banyak mengeluarkan darah dari tempat sensitifku saat kejadian itu. apa sebenarnya yang terjadi pun Aku belum menanyakan pada Suamiku. Karena Aku masih malas bicara padanya.

__ADS_1


Saat Aku buka pintu kamar mandi Suamiku ada di depanya, walau Aku selalu mengabaikanya, Suamiku tidak pernah marah atau pergi meninggalkanku, dia selalu ada.


Aku melewati Suamiku, berjalan menuju ranjang dengan pelan dan sambil mendorong tiang infus.


Saat naik ke ranjang Aku yang ke susahan, Suamiku langsung membantuku dengan mengangkatkan kakiku ke atas ranjang, lalu membantuku menyelimutinya, Aku memiringkan badanku membelakangi Suamiku. dan memejamkan mata. karena habis makan dan minum obat pasti sesudahnya mengantuk.


Aku terbangun karena mendengar suara isakan dan pelukan di badanku. rupanya Suamiku naik ke atas ranjang dan memeluku dari belakang. dia benamkan wajahnya di leherku. Dan sambil menangis. Aku hanya diam pura pura tetap tidur.


Suamiku tidak mengatakan apa apa,tapi dia seperti sangat menyesal,di dengar dari tangisanya Suamiku sepertinya sangat sedih.


Ahirnya Aku pun tertidur lagi karena mataku yang sangat mengantuk.


"Dok,, kapan Saya boleh pulang,? "tanyaku saat Dokter selesai memeriksaku.


"Sayang,,, jangan minta pulang dulu yah, tunggu benar benar sembuh baru pulang, "


"Dinda dah ngga betah di sini, Dinda udah kangen Akbar, Dinda sudah sehat,, "kataku sedikit bernada keras,Aku sebenarnya ngga mau kaya gitu tapi Aku benar benar sudah sehat, Aku ingin bertemu dengan Anaku.


"Keadaanya Ibu sih sudah membaik, tinggal pemulihan saja, kalau memang ingin pulang saya akan izinkan, "jawab si Dokter.


"Tapi Dekk,, "

__ADS_1


"Udah Gung,, ngga papa kalau Istrimu pengin pulang, takutnya di sini dia makin setres karena ngga betah dan kepikiran Anaknya terus, lagian kamu kan Dokter pasti bisa merawatnya, "kata Dokter setelah memotong ucapan Suamiku.


Dokter pun pergi dan dia juga mengatakan Aku hari ini boleh pulang.


"Dinda mau langsung pulang ke kota, Dinda ngga mau ke rumah Ibu, "kataku saat Suamiku sedang merapikan barang.


"Ya ngga bisa gitu dong Dek,, Adek itu belum sehat banget, dan untuk perjalanan jauh takutnya Adek ngga kuat,, "


"Bisa aja,, orang Dinda sudah sehat, boleh tidak boleh Dinda mau langsung balik ke kota, Dinda takut untuk ke rumah Ibu lagi, "jawabku sambil menundukan kepalaku.


"Ya udah Mas ikut kemauan Adek, asal Adek sehat dan kembali seperti semula,"sambil Suamiku memeluku dan mencium rambutku.


Suamiku lalu menelfon Ibu untuk membantu membereskan barang barang kita yang ada di rumah Ibu, Ibu tadinya seperti tidak setuju dengan Aku yang akan langsung balik ke kota, tapi Suamiku memberinya pengertian dan ahirnya Ibu pun mengizinkan nya. Ibu akan mengantarkan Akbar dan koper ke bandara, nanti kita bertemu di sana.


Selesai menelfon Ibu Suamiku mengurus pembayaran, lalu Suster pun melepaskan jarum infus di tanganku.


Aku dan Suamiku masuk ke dalam taxsi yang akan mengantar ke bandara. Setelah Kita duduk,mobil pun berjalan meninggalkan rumah sakit.


Suamiku menggeser duduknya dan langsung memeluku. Aku pun menyandarkan kepalaku di pundanknya.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya Kak,, trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2