MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Ayah Sudah Bisa jalan


__ADS_3

"eemmm,,,,, "papah yang tau nafasku sudah menipis langsung melepaskan ciumanya, lalu ciuman papah turun ke leher,dan aku sangat menikmati ciuman yang papah lakukan, ku usap kepala papah sambil sesekali meremas rambutnya.


Tangan papah yang satunya lagi ikut masuk juga ke dalam bajuku, tapi bukan ke depan melainkan ke punggung. Rupanya papah mau melepas pengait pembungkus daging kenyalku.Saat tangan papah dua duanya sudah di punggungku akan melepasnya aku pun menahanya, lalu papah mendongakan kepalanya dan menatapku, aku pun menggelengkan kepalaku.


Sambil tersenyum puas, aku bangun dari pangkuan papah, sedang papah menjambak rambutnya dengan rasa frustasi.


"Mamas Istirahat gih,, "kataku sambil aku tarik tanganya agar masuk ke kamarku.


Setelah papah masuk kamar, aku langsung keluar,takutnya papah akan melanjutkan yang tadi makanya aku buru buru keluar setelah papah masuk kamar.


Setelah keluar dari kamaku, aku langsung masuk ke kamar ayah, aku melihat ayah yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak, karena saat aku naik ke kasur ayah sama sekali tidak terusik.


Aku juga sebenarnya merasa sangat lelah, karena selama ayah di rawat di rumah sakit, aku pun kurang tidur dan merasa tidak nyaman kalau tidur di sofa, aku dan papah selalu bergantian tidur,setelah papah bangun aku yang bergantian tidur di sofa, dan begitu seterusnya, makanya kita berdua sangat merasa lelah.


Aku langsung memejamkan mataku untuk tidur di samping ayah.


Aku terbangun dari tidurku, saat ku buka mataku sepertinya sudah malam, karena aku lihat di jendela yang sudah gelap. Lalu aku langsung bangun dan akan keluar dari kamar ayah, karena ayah sudah tidak ada di kamarnya.


Aku langsung menuju dapur untuk mengambil minum, saat di dapur aku melihat ayah dan papah yang sedang duduk di meja makan. Sepertinya mereka habis makan malam karena ada piring kotor di depanya.


"Malam ayah, mamam Mamas, "kataku.


"Malam,, "jawab ayah dan papah.

__ADS_1


"Dinda makan malam dulu gih, !"kata ayah.


"Iya,,, apa ayah sama Mamas dah selesai makanya, ?"tanyaku, setelah aku duduk di bangku.


"Sudah,,, "jawab ayah.


Aku menikmati makan malam ku sambil mendengarkan ayah dan papah mengobrol, dan aku sekali kali ikut bicara.


Selesai aku makan, aku langsung membereskan piring kotor untuk aku cuci, sedang ayah dan papah mereka menuju ruang depan, katanya mereka ingin mengobrol sambil main catur.


Selesai membereskan piring, aku membutkan minuman buat ayah dan papah, juga aku bawakan cemilan.


Aku ikut duduk di sofa, setelah aku meletakan kopi juga cemilan di meja, kunyalakan tv untuk aku tonton, karena aku tidak mengeti dengan permainan catur.


Setelah ayah berbaring di kasur aku juga menyelimutinya, lalu aku ke luar kamar setelah ayah sudah merasa nyaman untuk tidur.


"Mamas belum mengantuk, besok Mamas akan menyetir mobil cukup lama loh, tidurnya jangan malam malam, "kataku setelah aku duduk di sofa sebelah papah.


"Mamas belum mengantuk, tadi bangun setengah 6,jadi sekarang belum merasa kantuk, "jawab ayah.


"Besok kalau adek mau balik ke kota Mamas jemput yah, "


"Ngga usah lah,,, nanti ngerepotin Mamas, "jawabku.

__ADS_1


"Ngga lahh,, malah seneng kalau adek membutuhkan bantuan Mamas, jadi Mamas merasa jadi orang yang berguna buat adek, "sambil menarik tanganku lalu di ciumnya.


"Nanti kalau kita nikah,adek mau pesta yang bagai mana,? "aku langsung menggelengkan kepalaku.


"Dinda ngga mau ada pesta, cukup sederhana aja, yang penting sah secara agama dan sah secara negara, asal kita sudah dapat restu dari orang tua itu sudah cukup membuat Dinda bahagia, "


"Kenapa ngga mau pesta, apa adek malu menikah dengan orang yang sudah tua, "


Aku langsung tersenyum dan ku usap pipi papah, "Dinda kalau malu punya pasangan seperti Mamas,udah dari dulu Dinda tinggalin, Dinda sama sekali ngga malu justru dinda senang punya pasangan seperti Mamas, dewasa dan mapan, hhhmmmm "kataku sambil aku naik turunkan alisku.


Di tariknya badanku agar mendekat ke papah, lalu papah memeluku dan mencium keningku, "Trimakasih telah menerima pria tua sepertiku, "sambil menatapku dan aku pun mendongakan wajaku sambil tersenyum.


Kita pun duduk di sofa sambil nonton tv,aku sandarkan kepalaku di pundak papah, sedang tangan papah memeluku dari samping.


.


.


.


Tidak terasa waktu cepat berjalan, sudah satu minggu aku menemani ayah, dan ibu pun sering menelfonku dan menanyakan kabar ayah, sedang papah jangan di tanya setiap hari pasti menelfon dan mengirim pesan padaku.


Ayah sekarang sudah bisa berjalan tanpa bantuanku, tapi belum bisa berjalan dengan cepat,itu sudah membuatku bersukur dan senang.

__ADS_1


__ADS_2