MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Rizki Melihatku Dipangku


__ADS_3

Saat Mas Hendra mendaratkan bibirnya di ujung daging kecilku yang ada di gunung kembarku,tiba tiba tanpa di sadari,Aku mengeluarkan suara dari bibirku.


"Aaahhh,,, "rasanya jiwaku menolak tapi bahasa tubuhku meminta, rasanya sungguh malu.


Saat Mas Hendra makin tidak terkontrol memainkan gunung kembarku, suara pintu di ketuk pun terdengar.


Tokkkk,, Tokkk,,


"De,,, kamu sudah pulang kan,, De, buka pintunya dong,, "


Aku langsung mendorong badan Mas Hendra, dan Mas Hendra pun terdorong ke belakang.


"Mas,, ada Iis,, "sambil Aku merapikan bajuku yang berantakan, sedang Mas Hendra kelihatan yang frustasi sambil menjambak rambutnya berjalan menuju kamar mandi.


"Iya,, tunggu bentar,, "kataku sambil membuka pintu.


"Ada apa Iis,,? "tanyaku. Tapi iis bukanya menjawab malah masuk ke kamarku dan duduk ke kasur.


"Kok kasur kamu berantakan banget ,, abis ngapain sih,,? "


"Lagi tiduran lah,, ada apa kamu tumben ke sini malam malam,, "


"Aku mau minta tolong sama kamu,, ibu ku di kampung sakit dan Aku belum gajian,pinjem duit 300 rb kamu ada ngga, buat berobat ibuku soalnya,, "


"Aku juga ngga ada uang, ada juga di ATM,, gimana dong,, "kataku.


"Ada ATM di bawah kan samping kos kosan, kita kesana aja yuk,, "Aku pun karen kasihan menyetujuinya,


"Tunggu Aku ambil jaket dulu,, "kataku.


Saat Aku memakai jaket Mas Hendra keluar dari kamar mandi.


"Mau ke mana malam malam,, "suaranya mengagetkanku dan Iis.


"Dea mau ke ATM di bawah Mas,, Iis ibunya sakit karena belum gajian mau pinjem sama Dea, tapi Dea ngga ada uang ces,, jadi mau ambil di ATM,, "kataku. Sedamg Iis melihat Mas Hendra yang baru keluar dari kamar mandi matanya melotot tak berkedip dan mulutnya terbuka seperti huruf O.


"Ngga usah ke ATM malem malem gini, butuh berapa uangnya sih,, "sambil mengambil dompet di kantong jas yang ada di bangku.


"Cuman 300 rb kok Mas,, "jawabku.


Lalu Mas Hendra memberikan uang warna merah 5 lembar padaku dan menyuruhku memberikan pada iis.


"Kasiin semuanya,, kamu tuh lihat lihat dulu kalau mau keluar,jangan sampai kamu pakai baju kaya gini, Saya ngga suka milik Saya di lihat sama orang,, "Aku hanya mengangguk. lalu Aku memberikan uanya pada Iis.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngga ngomong sih kalau ada pacar kamu, Aku kan jadi ngga enak,, "kata Iis.


"Udah santai saja, lagian dia juga mau pulang kok,, "jawabku karena melihat Mas Hendra memakai jasnya.


"Saya pulang dulu,, ngga usah ikut turun ke bawah, dan jangan begadang langsung tidur aja,ngerti,,,, "sambil mengusap kepalaku lalu mencium keningku sebelum pergi.


"Gila,, itu cowo kamu keren banget sih De,, Aku cariin kek yang kaya gitu,, "saat Mas Hendra sudah keluar dari kamarku,Iis langsung berkata sedikit berteriak.


"Jangan berisik Iis,, ini dah malam,, udah sanah balik kamar kamu,, itu kan uangnya dah dapat,, Aku mau tidur,, "sambil ku dorong iis menuju pintu.


"Ya udah Aku pulang, besok bilangin makasih sama pacarmu itu,, "Aku hanya mengangguk.


Setelah Iis pergi Aku mengunci pintu lalu naik ke kasur untuk tidur. saat mau memejamkan mataku Aku teringat kejadian tadi saat Mas Hendra dengan buasnya menyerangku, dan dengan anehnya jiwaku menolak tapi kenapa tubuhku bereaksi berbeda, Sebenarnya Aku juga rindu dengan cumbuan dan belaiyan tapi kalau belum halal Aku pun takut, karena jadi zinah.


Aku bersiap untuk berangkat kerja, dan iis pun sudah menungguku di depan kamar. Aku dan iis lalu berangkat bersama menuju kantor.


Sampai di mejaku Aku langsung mulai melihat kerjaan yang sudah menumpuk di atas mejaku.


"Kemaren ke mana Mba sama Bos,, Aku di sini sendirian dan ngga ada yang bantuin sampai pusing sendiri tau ngga sih,, "tiba tiba Rizki sudah duduk aja di bangku depan mejaku.


"Kemaren Saya temani Pak Direktur pergi ketemu sama seseorang dan sampai siang. lalu setelah itu Saya sama Pak Direktur memeriksa pekerjaan yang kamu kirim ke apartemenya,, "


"Jadi Mba berduaan di apartemen Pak Direktur dong,, "


"Siapa yang tau kan Mba,, "


"Gehhmmm,,,Rizki keruangan Saya sekarang,, "Pak Direktur tiba tiba datang dan matanya menatapku sekilas dengan tajamnya.


"Iya Pak,, "jawab Riski.


Aku hanya mengangguk sambil berdiri tanda hormat, setelah Pak Direktur dan Rizki masuk, Aku pun lanjut kerja.


Sekitar 15 menit telfon berbunyi, dan Pak Direktur menyuruhku untuk masuk, Aku pun langsung masuk ke ruanganya.untungnya Rizki sudah keluar tadi jadi Aku sedikit lega.


"Ada yang perlu Saya kerjakan Pak,,? "saat Aku sudah berdiri di depan mejanya.


"Sinih,,,, "sambil menyuruhku mendekat.


"Kamu sudah telfon kaka kamu belum kalau kita mau nikah,, "Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Kenapa belum ngomong,,? "


"Lupa,,, "kataku sedikit tersenyum.

__ADS_1


Lalu Pak Direktur menarik tanganku, dan Aku pun jadi jatuh di pangkuanya.


"Telfon kaka kamu sekarang,, Mamah tadi bilang kalau 2 minggu lagi kita akan menikah, jadi sekarang bilang kaka kamu,, "katanya sambil memeluk pinggangku.


"Iya Pak,, tapi lepaskan Dea dulu,, ini susah,, "kataku sambil bergerak mau berdiri.


"Sudah diam duduk aja, ngga usah bergerak. Ini sudah ada yang bangun kalau kamu gerak terus,, "Aku pun langsung diam dan malu,, ini orang suka banget maksa sih fikirku.


Lalu Aku mengambil hpku di kantong baju ku, dan langsung menelfon kaka, saat Aku mengobrol dengan Kaka, Mas Hendra dengan terus menatapku membuatku jadi grogi.


"Iya Kak,, kata Mamah Mas Hendra dua minggu lagi,, gimana apa kaka setuju,, "


"Kaka sih setuju setuju aja, asal kamunya udah siap apa belum,,? "tanya kak Doni.


"Iya sudah sih Kak,, "


"Sukur deh kalau kamu sudah siap,, trus kamu mau menikahnya di mana,, di kampung apa di kota,,? "


"Dea belum tau kak masalah itu,, nanti Dea tanya sama Mas Hendra dulu yah kak, ,"


"Iya kalian rundingkan aja dulu, nanti setelah punya keputusan kabarin kaka lagi, biar kaka bisa siap siap,, "


"Iya Kak,, ya udah dulu ya Kak, Dea mau lanjut kerja dulu,, "kataku dan telfon pun mati.


"Gimana Kakakamu setuju kan,, "Aku pun mengangguk.


"Kaka tanya,, kita mau nikah di mana,, "kataku sambil menghadap Mas Hendra.


"Saya ingutin kamu saja, di manapun kita nikah ngga jadi masalah buat Saya,, "sambil tangan Mas Hendra mengusap pipiku.


"Dea pikirkan dulu ya Mas,, "


"Tapi jangan lama lama, biar nanti Saya bisa mengatur pekerjaan,biar yang penting penting Saya akan kerjakan lebih dulu, jadi nanti kita bisa punya waktu untuk bulan madu,, "Aku pun hanya mengangguk sambil menunduk, rasanya sungguh malu saat Mas Hendra mengatakan bulan madu.


Lalu ada yang mengetuk pintu ruangan Mas Hendra,Itu suara Rizki yang akan masuk. saat Aku akan bangun dari pangkuan Mas Hendra, Mas Hendra menahan inggangku.


"Mas,,, lepas Dea mau bangun ada Rizki,, "kataku. Mas Hendra tidak mendengarkanku masih tetap menyuruhku duduk.


Dan Rizkipun melihatku yang sedang di pangkuan Mas Hendra dengan menatapku yang sulit Aku artikan.


"Ini Pak hasil dari rapat kemaren,, "kata Rizki sambil melirik ke arah Aku.


Aku hanya menunduk malu, dan hanya diam.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya ya kak,, trimakasih...


__ADS_2