
Sudah 1 jam setengah kakek di dalam ruang oprasi, Aku dan Dian masih setia menunggu di depan ruangan oprasi.
"Saya mau beli minum dulu yah,,, Dian pengin minum apa,? "kataku karena Aku merasa haus.
"Jangan lala lama ya Mas,, Dinda air mineral aja,, "
"Iya,,, "Aku pun melepaskan tangan yang dari tadi tak lepas saling genggam.
Aku berjalan keluar dan mencari penjual asongan, karena kalau ke minimaket
pasti antri, Aku membeli air mineral dua botol,Aku hanya membeli air mineral saja, karena Aku tidak mau meninggalkan Dian kelamaan sendirian.
"Minum dulu,, "kataku saat sudah di dekat Dian.
"Makasih Mas,,,, "sambil meminumnya, karena tutup botolnya sudah Aku bukakan.
Sekitar satu jam ahirnya Pamuji keluar,Aku dan Dian langsung mendekati Pamuji.
"Gimana Ji oprasi Kakek,,? "tanyaku.
"Berkat doa kalian,, Kakek berhasil melewati masa kritis dan oprasinya pun berjalan lancar, "Dian pun kelihatan sangat senang saat mendengar perkataan Pamuji.
"Tapi Ayah tunggu di luar aja, karena kakek belum bisa di lihat, tunggu kakek di pindahkan ke ruang rawat baru bisa di lihat,, "Aku dan Dian pun mengangguk.
"Ya udah ya Yah,Aku mau ke ruanganku dulu,"Aku pun mengangguk.
Lalu Aku dan Dian menunggu kakek di luar ruang oprasi, karena menunggu kakek di pindahkan ke kamar rawat.
"Makasih ya Mas, berkat bantuan Mas Papah Dian bisa di oprasi dengan lancar, "kata Dian yang duduk di sampingku.
__ADS_1
"Bukan karena Mas, tapi karena Tuhan dan doa dari kamu dan Zara yang menyayangi kakek,, "jawabku.
"Tapi Mas lah yang mempermudah kita untuk menuju kota J dan sampai ke rumah sakit ini, mungkin Tuhan menunjuk Mas lah untuk membantu kita ,Mas orang yang sangat baik semoga apa yang Mas inginkan akan di wujudkan oleh Tuhan, "
"Apa Tuhan akan mengabulkan doa Mas, kalau Mas menginginkan Dian untuk menjadi pendamping Mas,,? "Dian pun menatapku mungkin kaget dengan perkataanku,dan kita pun saling tatap.
Aku tiba tiba bicara tanpa fikir dulu, Dian masih menatapku, mungkin Dian berfikir Aku adalah pria yang sok baik tapi meminta imbalan.
Dan suara pintu yang terbuka, membuat Aku dan Dian sama sama melihatnya, rupanya Kakek akan di pindahkan ke kamar rawat. Aku dan Dian berjalan di belakang para suster.
Setelah Kake sudah di kamar rawat dan Suster pun sudah keluar, Aku dan Dian mendekat ke kakek, Kakek belum sadar karena pengaruh obat sehabis oprasi.
"Maaf atas perkataan Saya yang lancang tadi, Saya harap Dian melupakanya dan memaafkan Saya,, "kataku saat kita masih berdiri di dekat kake yang masih tertidur nyenyak karena obat.
"Dian bukanya ngga mau Mas, tapi Dian rasanya takut punya hubungan dengan laki laki, karena adik Dian meninggal karena perlakuan kasar suaminya, itu membuat Dian sedikit takut, Papah sudah pernah bilang pada Dian katanya sedah menceritakan semuanya tentang Dian dan Zara pada Mas kan, dan Dian juga sudah menganggap Zara adalah anak kandung Dian sendiri, jadi Dian takutnya Orang yang akan menikahi Dian tidak menerima Zara,jadi Dian bukan tak ingin menikah tapi Dian menginginkan laki laki yang mau menerima Zara dan juga tidak berprilaku kasar,"jawabnya sambil menunduk.
"Saya ngerti ketakutan Dian, tapi tidak semua laki laki sama kan,, apa Saya boleh mengenal Dian lebih dekat lagi ,biar Dian lebih mengenal Saya, itu kalau Dian mau kalau ngga mau ngga papa, Saya juga sadar diri kalau Saya memang sudah berumur,, Dan mungkin bukan tipe laki laki yang di inginkan Dian,, "
"Makasih telah memberikan kesempatan untuk Saya mengenal Dian, semoga Saya tidak mengecewakan Dian,, "Dian pun mengangguk lalu kita saling senyum.
Setelah itu karena kakek belum juga bangun, Aku melihat jam dan ternyata hampir jam dua siang.
"Saya mau beli makan dulu yah, buat kita makan siang, "Dianpun mengangguk."Dian mau makan apa,? "tanyaku.
"Terserah Mas aja,, "Lalu Aku pun pergi keluar untuk membeli makanan, Lalu Aku menyebrang jalan depan rumah sakit karena Aku melihat restoran padang, Setelah membeli dua bungkus Aku kembali ke rumah sakit, tidak lupa juga Aku beli air mineral.
"Kok cepet Mas,, ?'saat Aku buka pintu.
"Iya, Mas beli depan rumah sakit,, "sambil duduk di sofa dan meletakan kantong makanan di meja.
__ADS_1
"Kakek belum bangun,,? "sambil membuka bungkusan.
"Belum,, Mas beli nasi padang,? "Aku pun mengangguk.
"Dian doyan ngga,? "
"Ngga doyan lagi, tapi suka,, "lalu kita pun makan bersama.
"Itu ada bakwan udang juga Di,, "Dian membuka kantong yang Aku tunjuk.
"Wah,, sepertinya enak Mas bakwanya, udangnya banyak,, "sambil menggigit bawan.
"Iya Mas ini enak, cobain deh Aaaa,, "Dian mendekatkan bawan pada mulutku, tadinya Aku sedikit bengong karena kaget,tapi Dian lebih mendekatkan bawan ke mulutku jadi membuatku sadar.
"Enak kan Mas,, "Aku pun mengangguk.
Saat kita lanjut makan, Dian yang melihatku ada kikil pun meminta. karena Aku kira Dian ngga suka karena kikil kan potonganya besar.
"Ihh,, punya Mas ada kikil yah,, "Aku pun menganghuk.
"Punya Dian kok ngga ada,Dian pengin dong Mas, Aaaa,,, "Aku hanya diam karena bingung.
"Iih ayo Mas,, suapin biar Dian gigit, itu kan susah di potong,, "katanya lagi, dan Aku pun mengerti.
Lalu Aku menyuapinya, dan Dian menggigitnya. karena kikilnya besar membuat mulut Dian kotor. Aku lalu mengusap ujung bibirnya yang kena kikil.Dian pun tersenyum.
Besok lagi,,,
Maaf kalau banyak typo, karena nama Dian dan Dinda suka ketuker.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan votenya kak, makasih..