
Kita berdua pun masuk ke kantor bersama, saat kita mau masuk ke dalam lif,, ada yang memanggilku.
"Dea,,, tunggu,, "Aku pun menengok dan ternyata Iis yang memanggilku.
"Semalam kamu tidur di mana,, kok ngga pulang ke kos kosan,,? "saat kita sudah di dalam lif, dan saat Aku akan menjawab Iis berkata lagi.
"De,, ini kan pria yang kemaren di kamar kos kosan kamu kan,,? "sambil menujuk ke Mas Hendra, sedang yang di tunjuk hanya diam dengan cueknya. Lalu Aku pun memgangguk.untungnya lif sedang sepi jadi ngga ada orang yang dengar.
"Dia kerja di sini juga,, bagian apa,, kalau pake baju rapi gitu ganteng banget yah,, "sambil berbisik padaku tapi Aku yakin Mas Hendra mendengarnya.
Aku melihat Mas Hendra sedikit tersenyum, sepertinya dia ke GR an di katain ganteng.
"Dia kerja di bagian paling atas di gedung ini,, "jawabku.
"Oh,, berari satu ruangan dengan kamu dan Pak Direktur dong,, apa mungkin dia itu asisten Direktur sini ya De,,? "
Tapi sebelum Aku menjawab lif berhenti di lantai Iis bekerja. Lalu Iis pun keluar dan sebelum keluar dia bilang nanti pulang bareng, Aku pun hanya menganggukan kepalaku.
"Teman kamu belum tau juga siapa Saya,,?"
"Belum,,, "jawabku sambil menggelengkan kepala.
Lalu kita pun hanya diam sampai di lantai atas.
"De langsung siapin berkas yang buat rapat sekarang,,setelah itu kita langsung rapat,, dan nanti kalau Rizki datang suruh ke ruangan Saya,, "
"Iya Pak,, "lalu Pak Direktur pun masuk ke ruanganya sedang Aku langsung duduk dan menyiapkan berkas untuk rapat.
Selesai rapat Pak Direktur bersama Rizki langsung ke dalam ruanganya sedang Aku juga melanjutkan pekerjaanku.
"Selamat siang,, apa Pak Hendranya ada ?,, "
"Ada Ibu,, apa Ibu sudah ada janji,,? "tanyaku, saat Aku sedang fokus ke kerjaanku, tiba tiba ada Ibu Ibu yang mendekat ke mejaku.
__ADS_1
"Belum,,, kamu baru kerja di sini yah,,? "
"Iya Bu,, Saya baru seminggu kerja di sini,, "
"Oh pantas kamu belum mengenal Saya,, Saya ini Ibunya Hendra Direktur kamu,, "
"Maaf ya Bu,, Saya ngga tau,, mari Ibu saya antar ke dalam,, "Aku merasa ngga enak banget, ternyata Ibu Ibu ini adalah Mamahnya Mas Hendra.
Lalu Aku mengetuk pintu ruangan Pak Direktur dan setelah di persilakan masuk Aku pun langsung masuk.
"Ada apa,, kenapa ketuk pintu segala sih,, tinggal masuk aja kaya biasa,, "Aku langsung melotokan mataku.
"Maaf Pak ini ada Ibunya Bapak,, "kataku dengan cepat. Mas Hendra pun seperti kaget.
Sedang Ibunya Mas Hendra langsung masuk dan langsung menjewer telinga Mas Hendra, Aku yang melihatnya langsung kaget.
"Aduh,, mamahh,, sakit,, "kata Mas Hendra.
"Kenapa dua malam ngga pulang, dan kenapa kamu menolak menikah dengan Tamara, kamu itu sudah tua,, harus cari Istri biar kamu nanti ada yang urus,, Mamah itu sudah tua Hendraaa,,, "dengan masih menjewer telinga Hendra.
Setelah itu Aku pun permisi dari ruangan Pak Direktur takutnya mereka mau bicara yang pribadi.
Aku langsung menuju mejaku dan kembali bekerja, tapi bibirku tak berhenti tersenyum saat teringat saat tadi Mas Hendra di jewer telinganya oleh Mamahnya.
Sekitar setengah jam Mamah Mas Hendra ada di dalam, dan saat keluar Aku pun berdiri sambil tersenyum.
"Kamu siapa namanya,,? "
"Saya Dea Bu,, "jawabku.
"Deaa,, "sambil mengangguk anggukan kepalanya Mamah Mas Hendra.
"Dea,, tolong jagain anak Ibu yah,, dia itu orangnya keras kepala ngga mau dengerin omongan Ibu,, "
__ADS_1
"Iya Bu,, Saya akan menjaganya,, "kataku sambil tersenyum, dari pada Aku bingung mau jawab apa,,
Lalu Mamahnya Mas Hendra pun pergi, dan di antar oleh Pak sapam, rupanya tadi Mamahnya Mas Hendra bersama Pak sapam ke atasnya. Aku sampai ngga melihatnya karena tadi sedikit kaget dengan kedatangan Mamahnya Mas Hendra.
Baru mau duduk telfon berbunyi dan ternyata Pak Direktur menyuruhku untuk masuk. Aku pun langsung masuk ke ruangan Pak Direktur.
Saat Aku buka pintu dan baru masuk dua langkah ternyata Mas Hendra sudah ada di belakang pintu dan langsung memeluku.
"Iih,, bikin kaget aja sih Mas,, "kataku sambil mataku menatapnya tajam.
"Hari ini Saya lagi seneng banget,, "sambil menciumi rambutku, kita masih dalam posisi berdiri.
"Seneng kenapa hemm,,,? "
"Mamah katanya sudah menyerah untuk memaksa Saya menikah dengan Tamara, "jawab Mas Hendra sambil melepaskan pelukanya dan membawaku untuk duduk di sofa.
"Masa sih,, pasti Mas janjiin sesuatu yah,, "Aku sedikit ngga percaya Mamahnya Mas Hendra yang sudah menyerah.
"Iya Saya sudah bilang sama Mamah kalau Saya sudah punya calon istri,,dan tidak lama lagi akan menikahinya,, "Aku langsung menatap bingung dengan ucapan Mas Hendra.
"Emang Mas udah punya calon istri dan sebentar lagi akan menikah,, sama siapa,,? "suaraku sudah sedikit bergetar. (apa Mas Hendra tidak mau menungguku lagi, apa Mas Hendra tidak mencintaiku lagi,, dalam hatiku berkata)
"Kok tanya sama siapa,, ya sama kamu lah,, kamu itu adalah calon Istri Saya,, ngga ada yang lainya selain kamu,, "sambil Mas Hendra mengusap kepalaku.
Air mataku pun menetes dengan sendirinya, entah perasaan senang atau apa,, tapi saat Mas Hendra mengatakan kalau Aku lah calon Istrinya membuatku sangat senang dan bahagia.
"Kenapa memgangis hemm,, "sambil mengusap air mataku. dan Aku hanya menggeleng, dan Aku langsung memeluk Mas Hendra.
Saat Aku masih memeluk Mas Hendra, Mas Hendra mengangkat daguku agar Aku menghadapnya, setelah itu Mas Hendra mencium bibirku, Aku pun langsung membalas ciumanya, tiba tiba di hatiku ada rasa yang sulit Aku katakan. sehingga Aku dengan senangnya menerima ciumanya.
Saat Aku dan Mas Hendra sedang menikmati ciuman yang makin menuntut, karena Aku sudah di dorong ke belakang agar bersandar pada sandaran kursi,, tiba tiba pintu pun terbuka.
"Ehh,, Maaf,,, "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya,, trimakasih...