MENCINTAI PAPAH TIRIKU

MENCINTAI PAPAH TIRIKU
Kemarahan Ibu


__ADS_3

POV agung Pamuji


"Aku,,,, "


Saat aku ingin bicara, Dia datang membawa minum untuk dan aku pun berhenti bicara. setelah dia selesai menaro minum untuku dia pun duduk di samping ibunya lalu aku pun mulai bicara kembali.


"Maksud ke datanganku menemui mu adalah ingin meminta izin dan juga restu, "ku lihat wajah Farida yang sudah menujukan kebingungan.


"Meminta izin dan restu untuk apa mas,? "


"Untuk menikahi anakmu Dinda,, "


Aku lihat Farida yang sangat terkejut, Farida menatap dia dan aku saling bergantian.


"Kamu bercanda kan mas, ngga serius kan, "sambil bangun dari duduknya Farida bicara.


"Aku serius Da, "kataku lagi.


"Dindaa,,, bilang ibu sayang ini ngga bener, ini salah, "sambil mengguncangkan badannya dia Farida berkata.


"Jawab sayang ini tidak benar, "masih tetap mengguncangkan pundaknya dia.


Aku melihat dia menangis dan memegang tangan ibunya.


"Maaf bu, ini benar..,"


Plakkkk..

__ADS_1


Tiba2 Farida menampar dia, dia yang di tampar sampai pipinya memerah, aku langsung bangun dan mencegah Farida yang ingin menamparnya lagi.


"Jangan Da, ini salahku jangan pukul Dinda lagi, "sambil ku pegang tanganya.


"Kamu memang brengsek mas, apa kamu tidak melihat Dinda itu siapa hah, kamu harusnya menjaganya bukan malah menjalin hubungan yang tak wajar, "dengan mendorong tubuhku Farida bicara.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, aku jijik liat mukamu, jangan pernah bertemu anaku lagi, kamu adalah laki2 brengsek yang menjijikan,pergiii,,,,,,, "sambil menujuk pintu ke arahku Farida menyuruhku pergi.


Aku melihat dia yang masih menangis sambil memegangi pipinya, dia menganggukan kepalanya agar aku pergi.


"Da,, aku mencintai anakmu dengan tulus,aku tidak main main dengan perasaan ku ini, dan kami saling mencintai, aku mohon restui kami, "kataku "Aku akan pergi tapi aku tetap akan memperjuangkan cintaku ini, "aku melangkah bergi tapi sebelumnya aku melihat dia yang masih menangis dan menundukan wajahnya.


Aku pergi dengan perasaan yang sangat tak tenang, melihat dia yang terluka.


.


.


.


Setelah papah pergi ibu langsung mendekatiku dan dia juga minta maaf telah menamparku, di lihatnya pipiku.


"Kompres lah pipimu dengan air hangat agar tak bengkak, "aku hanya menganggukan kepala.


"Mana hp kamu, ibu akan sita hp kamu, "aku hanya diam saat ibu mengambil hpku di kantong bajuku.


"Besok ibu akan mengurus surat kepindahanmu, ibu tidak mau kamu bertemu dengan dia apalagi berhubungan, itu tidak akan merestuinya, "sambil ibu naik ke atas juga membawa hpku.

__ADS_1


Aku menangis dalam diam, hanya air mata yang terus mengalir, sepertinya sangat sulit untuk mendapat restu dari ayah dan ibu.


setelah hampir satu jam menangis aku merasa sangat lelah, aku pun menuju kamarku dengan menahan rasa lemas di sekujur badanku seperti tidak ada tulang di badanku ini.ku jatuhkan badanku di kasur aku pun langsung tertidur.


.


.


.


POV Ibu


Setelah aku mengirim pesan ke mas Agung untuk datang ke sumah,aku masih kepikiran ada apa tumben mas Agung ingin bertemu denganku. memang semenjak memutuskan berpisah kita tidak pernah bertemu, atau sekedar kirim pesan. kita sepertinya memang sibuk dengan urusan masing2,makanya saat mas Agung mengajak bertemu aku merasa aneh.


2 Jam kemudian mas Agung datang, tapi saat ku lihat dari dalam rumah Dinda juga keluar dari mobil Mas Agung, sepertinya Dinda ikut sekalian pulang.


Setelah aku juga mas Agung bertemu kita pun mengobrol sekedar tanya kabar, dan setelah basa basinya aku langsung menanyakan ada apa ingin bertemu denganku dan sepertinya sangat serius.


Mas Agung pun mulai berbicara, saat aku mendengarkan ucapan mas Agung aku sedikit kaget dan ngga percaya a


tentang yang dia katakan, saat aku menatap Dinda dia hanya diam, dan aku pun menanyakan kebenaranya ke pada Dinda, Dinda pun mengiya kan kalau mereka ada hubungan, aku yang sangat marah tiba2 tanganku menampar pipi Dinda dengan sangat keras, aku sangat marah hingga tidak sadar dengan yang ku perbuat.


Aku mengusir mas Agung untuk segera pergi dari rumahku, dan mengatakan jangan dekati Dinda lagi, aku merasa jijik denganya, karena aku merasa,Dinda dan aku seperti piala bergilir, setelah puas denganku kenapa sekarang bersama anaku. dasar brengsek segala ucapan lasar aku ucapkan padanya.


Memang kita menikah karena sama2 tidak saling cinta hanya kita saling menguntungkan, tapi karena kuta sah dalam agama serta negara aku pun melayaninya sebagai mana seorang istri, walau kita berdua tidak pernah tampil bersama atou juga mengumumkan pernikahan kita, tapi tetap saja aku tidak akan merestui hubungan ini.


Setelah mas Agung pergi, aku melihat Dinda yang masih menangis, aku mendekat padanya dan aku juga meminta maaf ku lihat pipinya yang sudah membengkak, aku menyuruhnya untuk di kompres. aku juga menyita hpnya agar masAgung dengan Dinda tidak lagi berkomunikasi, aku juga akan memindahkan dinda kuliah dari kampus tempat mas Agung bekerja, kalau Dinda masih kuliah di sana pasti mereka akan masih bisa bertemu.

__ADS_1


Kaka kaka semua jangan lupa like dan komenya yah, dan juga vote nya agar aku semakin semangat nulis cerita nya. makasih😘😘😘


__ADS_2