
Sampai di depan toko ,
Dian langsung turun tanpa berkata apa apa, tapi Aku merasa ada masalah jadi Aku harus ikut turun untuk menyelesaikanya.
Sampai di dalam toko Dian masuk ke dalam ruanganya, Aku pun mengikutinya. Sampai di dalam ruangan Aku langsung mendekati Dian yang sedang menaro tasnya di meja, tapi saat melihat Aku yang akan mendekatinya Dian langsung menghindar dan langsung menuju pintu, lalu Dian pun keluar, Aku mengusap wajahku dengan kasar.
Ahirnya Aku duduk di sofa dan akan menunggu Dian sampai selesai dengan pekerjaanya dulu, mungkin saat ini Dian masih marah padaku, ya walau pun Aku ngga tau salahku apa.
Sudah satu jam, dan sampai dua jam Dian tidak masuk ke ruanganya, sampai ahirnya Aku tertidur di sofa dengan perutku yang kelaparan.
Aku merasakan ada yang menyelimuti badanku, ahirnya Aku terbangun dan melihat Dian yang sedang menyelimutiku.
"Sapai kapan kamu diamkan Mas,, kita akan segera menikah dan jangan sampai ada masalah yang akan membuat pernikahan kita menjadi gagal, kalau kamu tak terbuka dan menyimpan masalah sendiri untuk apa kita menikah,?"sambil bangun lalu Aku berdiri di depan Dian.
"Kalau kamu memang tidak mau bicara dan tidak mau mengatakan ada masalah apa, baik lebih baik kita gagalkan saja pernikahan kita, percuma kalau kita teruskan karena kamunya aja egois begitu, Mas yang akan pergi,,, "Aku pun melangkah menuju pintu.
"Maaf,, bukanya Dian ngga mau bicara, tapi Dian takut kalau nanti salah bicara sama Mas dan membuat Mas marah,, "sambil suaranya bergetar karena menangis.
Aku langsung berjalan untuk mendekat pada Dian, dan setelah dekat Aku memeluknya.
"Katakan saja,, Mas justru akan marah kalau Dian ngga mau ngomong ada apa,, "sambil ku usap air matanya. setelah Itu Aku ajak Dian duduk di sofa.
"Cincinya kita balikin aja ya Mas,, kita beli yang biasa aja, dengan kemampuan uang kita,, "
"Maksudnya,,, "kataku yang masih bingung dengan omongan Dian.
__ADS_1
"Cincin itu sangat mahal, dan Dian ingin menikah juga yang sederhana aja, cukup ijab ngga papa, dari pada kita beli cincin mahal dan pesta pernikahan dengan mewah tapi dengan uang milik Mba Farida, Dian ngga mau, "sambil menunduk.
"Siapa yang bilang Mas beli cincin itu pakai uang Farida, kenapa Farida di bawa bawa, Mas masih ngga ngerti dengan ini, "sedikit naik nada bicaraku.
"Hemmm,,, kata temen Mas yang tadi di cafe Mas itu ngga punya uang dan kata dia juga beli cincinya pasti pakai uang Mba Farida,dan mobil Mas juga pasti katanya punyanya Mba Farida juga, karena Mba Farida orang kaya pasti hartanya buat Mas semuanya,,, "brengsek bener tuh Wahyu, mulut lemesnya ngga berubah,dalam hatiku sambil tanganku mengepal.
"Kamu kira Mas selama ini hanya pengangguran apa,,? yang bisanya foya foya dan ngabisin duit istri,, apa tampang Mas seperti itu,,"kataku sambil mengusap wajahku kasar.
"Farida memang kaya, tapi Mas tidak sedikitpun pernah meminta atau mengambil uang Farida,, karena Mas masih bisa bekerja dan uang Mas juga masih sangat cukup untuk kita bisa menikah dengan sangat mewah, apa kamu pikir Mas hanya seorang guru yang gajinya kecil, jadi ngga punya uang,, "Dian menggeleng sambil menunduk.
"Dan mobil mewah itu memang punya Farida, Mas juga ngga mau tadinya mobil itu,tapi Dinda memaksa karena di rumah Dian sudah ada banyak mobil dan takutnya tak ke urus mobil Ibunya makanya Dinda nyuruh Mas hanya untuk merawatnya, "sambil Aku menekan kata kata hanya merawatnya, agar Dian tau kalau Aku tidak berniat memilikinya.
"Mas sudah jelaskan semuanya, apa ada lagi yang ingin di tanyakan, silakan tanya saja agar tidak ada kesalah pahaman lagi sebelum kita menikah,, itu kalau kamu mau menikah dengan pria kere kaya Mas,, "Dian langsung mendongakan wajahnya dengan air mata yang mengalir, dan hidungnya yang merah kaya tomat.
Lalu Dian mendekat padaku dan memeluku.
"Mas lapar,, "sambil mendongakan wajahnya Dian bertanya, sedang Aku hanya mengangguk.
"Kita makan di luar aja ya Mas,, Dian aja laper dari siang belum makan,, "sambil melepas pelukanya.
"Iya,, ayo,,"sambil kita berjalan keluar.
Sampai di restoran kita memesan makanan, Aku memesan ayam bakar, sedang Dian memesan lele goreng.
"Di,, besok malam Mas akan ke rumah untuk melamar Dian, jadi besok habis Dian jemput Zara ngga usah ke toko lagi, di rumah aja masak yang enak buat nyambut Mas,,, "kataku.dan Dian menjawab Iya.
__ADS_1
"Dan Nati sampai rumah Dian juga bilang sama Papah kalau Mas besok malam akan ke rumah untuk melamar, dan Dian juga harus bilang kalau Mas melamar tidak membawa orang banyak, hanya bersama adik Mas saja, karena itu kemauan Dian kan untuk lamaranya ngga usah banyak orang, yang penting niatnya Mas,,,, "
"Iya,,, siapp,,, nanti pulang dari sini Dian akan langsung bilang sama Papah,, "Aku menggangguk.
Makanan pesanan kita pun datang, kita langsung memakanya karena memang kita berdua dari siang belum makan. selesai makan Aku mengantar Dian ke rumahnya.
"Tidurnya jangan malam malam,, biar besok ngga ngantuk,, "Kataku saat Dian melepas sabuk pengaman.
"Iya,,, Mas juga yah harus tidur cepat, ngga boleh begadang,,, "Aku pun mengangguk.
Saat mau keluar dari mobil Aku menahan tanganya Dian.
"Ini dulu,, biar bs tidur nyenyak,, "sambil Aku menujuk pipi.
Dian sambil tersenyum pun mendekat.
Cup,, untuk pipi kiri.
Cup,, untuk pipi kanan.
Lalu Aku menujuk ke bibir.
Saat Dian menempelkan bibirnya di bibirku,tanganku langsung menahan tengkuk belakangnta, dan Aku lum*t bibir bawahnya sedikit lama sampai Dian ahirnya menggigit bibirku karena Dian sudah kehabisan nafas.
"Aaaww,, "kataku sambil memegang bibirku.
__ADS_1
"Sukurin,, lagian nyiumnya lama,, "sambil keluar dari mobil. Aku hanya menggeleng dan tersenyum.