SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KESIALAN RAVI


__ADS_3

Suara langkah kaki menaiki tangga dengan nafas yang ngos-ngosan, Ravi dengan terpaksa menggunakan tangga darurat karena takut bertemu Daddy nya yang datang ke perusahaan. Dengan wajah tenang Ravi sampai di ruangannya, dia duduk dengan santai dan berpura-pura mengerjakan beberapa berkas.


Langkah kaki dan suara ketukan membuat Ravi tersenyum dan mempersilahkan masuk, Ravi berpura-pura terkejut melihat Daddy dan mommy nya datang.


"Mom, Dad!" Ravi melangkah mendekat dan mencium kedua tangan orang tuanya.


"Dari mana saja kamu Ravi?" Rama duduk di sofa yang diikuti oleh Viana.


"Kerja Dad, Ravi ada meeting siang nanti." Ravi ikut duduk di sofa.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Sara? jangan pacaran berlama-lama. Pacaran setelah menikah lebih menyenangkan." Rama menasehati Ravi yang memiliki banyak pacar.


"Kenapa harus Sara Daddy, Ravi pusing melihat dia yang suka ceramah. Seakan-akan Ravi ini tidak tahu agama." Ravi menatap ke luar jendela dengan kesal.


"Putus saja!" Viana bicara santai karena dia juga tidak begitu menyukai Sara.


Ravi hanya tersenyum melihat Mommy yang selalu acuh dengan hubungan asmara Ravi, berbeda dengan Daddy nya yang selalu khawatir dengan wanita pilihan Ravi yang setiap hari gonta-ganti.


"Ravi kamu mempunyai adik perempuan, jika kamu suka mempermainkan wanita bisa jadi adik kamu yang terkena karmanya."


"Siapa yang berani menyentuh Vira? belum dapat menyentuh sudah terlempar. Daddy lupa berapa kali Ravi dibanting Vira." Ravi sangat dendam ke Vira yang kekuatan seperti baja, sampai dewasa Ravi menjadi korban kekerasan adiknya.


Rama hanya bisa menghela nafas, Ravi yang playboy, dingin, cuek tapi jika soal bekerja memang sangat mirip dirinya. Berbeda dengan Vira yang mirip Viana sukanya dengan kekerasan, tapi sangat berisik dan suka mengacu. Kedua anaknya yang mempunyai sifat yang berbeda jauh.


Satunya cuek dan satunya sangat ramah, ada yang lembut satunya kasar, ada yang playboy ada yang sangat menghindari hubungan, laki-laki sukanya tenang dan yang perempuan suka keramaian.


***


Ravi menghidupkan motornya, daripada menggunakan mobil Ravi lebih nyaman dengan motor. Dengan kecepatan tinggi Ravi melewati jalanan yang ramai karena memang sedang waktunya pulang berkerja.


Hari ini jadwal keluarga Ravi berkumpul dengan para keluarga dari sahabat Mommy dan Daddy nya. Ravi sangat malas ikut bergabung, tapi selalu dipaksa agar lebih dekat dengan keluarga.

__ADS_1


Di pertengahan perjalanan, motor Ravi tidak bisa digas, Ravi kebinggungan dan memberhentikan motornya di dekat sebuah restoran. Karena buru-buru Ravi langsung mencari taksi yang sangat pas berada tidak jauh dari motornya. Ravi langsung masuk, supir juga yang baru datang masuk ke dalam, taksi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tangan Ravi bergantung dengan kuat karena ketakutan, belum sempat Ravi menyebutkan alamatnya tapi mobil sudah melaju kencang. Mata Ravi terpejam tidak berani melihat jalanan.


"Pak punya kantong plastik, saya mau muntah." Ravi baru bisa bicara setelah lampu merah.


"Siapa kamu?" seorang wanita menoleh kearah Ravi.


"nanti saja kenalannya, kantong!" Ravi menutup mulutnya karena perutnya bergejolak karena kecepatan mobil yang mengalahkan angin.


Mobil melaju kembali dengan kecepatan tinggi, Ravi ingin menyampaikan alamatnya tapi mobil sudah berhenti di sebuah rumah sakit. Wanita yang membawa mobil langsung keluar tidak memperdulikan Ravi yang sudah pucat.


"Perempuan sialan! pengen lihat Ravi mati muda. Belum juga nikah." Ravi keluar dari mobil memuntahkan isi perutnya.


"tepat di rumah sakit, seperti aku harus dirawat." Ravi berjalan masuk ke dalam dan melihat wanita gila tadi berdebat dengan pihak administrasi.


Ravi melihatnya langsung berlari, dan Ravi mendekati pihak administrasi dan menanyakan yang wanita tadi katakan. Ternyata Ravi baru tahu jika bapak dari wanita gila ternyata harus di operasi tapi kekurangan biaya.


Dengan kepalanya yang masih sempoyongan Ravi membayar biaya operasi dan seluruh kekurangan, dari kejauhan Ravi melihat wanita gila memeluk seorang wanita tua yang sedang menangis dalam pelukannya.


Seorang lelaki tua di bawa keluar dari ruangan untuk masuk ke dalam ruangan operasi, keluarga sangat bahagia dan tersenyum, Ravi juga ikut bahagia. Mata Ravi terbelalak melihat sosok pria tua yang melewatinya, Ravi membantu mendorong agar cepat sampai, sambil memegang tangan tua yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Ravi lupa jika dia harus pulang, ponselnya berada di dalam taksi. Ravi menatap wanita gila dengan tatapan sinis, bapaknya orang baik tapi anaknya wanita gila.


"Maaf kamu yang membayar biaya operasi suami saya."


"iya Bu, saya hanya membayar hutang lama, semoga Allah menggakat penyakit bapak ya Bu."


"Serahkan saja nota! saya akan membayar dengan mencicil."


"woy wanita gila, kamu punya hutang maaf. Kamu punya SIM tidak berani kebut-kebutan di jalanan. Jika menabrak orang bukan hanya kamu yang terluka tapi juga membahayakan nyawa orang lain." Ravi mengungkap kekesalannya.

__ADS_1


"Kasih! kamu kebut-kebutan lagi."


"Siapa Bu namanya? Kasih! seharusnya katrok mencerminkan sifatnya yang amburadul."


Kasih menatap Ravi sinis, ibunya permisi ke toilet. Kasih langsung berdiri dan menendang Kaki Ravi yang dengan kuat membuatnya langsung berteriak.


"Wanita gila! katrok sakit." Ravi melotot tapi yang dipelototi matanya lebih besar dan siap keluar.


"Ingat kakek tua! lihat uban kakek yang sudah mulai memutih, sebentar lagi encok, baru dibawa dengan kecepatan sedang sudah muntah-muntah. Cemen banget!" Kasih menatap sinis.


"Ini bukan uban bego! ini warna rambut yang lagi tren." Ravi mengacak rambutnya.


Ravi melangkah pergi dengan kemarahan, dia langsung melangkah pergi mencari taksi dan menuju ke salon. Ravi mengubah kembali warna rambutnya yang baru 3hari dia warnai.


Kebetulan Windy juga baru ingin keluar dari salon menatap Ravi dengan cengengesan, Windy berdiri di depan kaca memperhatikan wajah Ravi yang sudah ditekuk berlipat-lipat.


"Kak Windy! bukannya hari ini jadwal ketemu keluarga." Ravi melihat Windy di belakangnya melalui kaca.


"iya kakak izin datang telat, kamu kenapa lagi kesal." Windy duduk di samping Ravi.


"Ya aku kena sial, harus mandi bunga tujuh rupa. Motor mogok, ketemu supir taksi gila, handphone hilang, dan rambut hitz yang baru tiga hari diubah dihina rambut ubanan." Ravi bicara dengan nada tinggi.


"Ravi biasanya kamu cuek, tapi hari ini kamu mirip Vira."


Ravi mengacak rambutnya yang sudah berubah warna mengigat adiknya yang selalu membuat masalah, ditambah lagi dengan kesialannya yang datang bertubi-tubi. Ravi melangkah keluar mengikuti Windy dan berjanji akan mandi Bunga tujuh rupa, agar dia tidak bertemu wanita gila tadi.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2