
Selesai acara di panti, Tian dan Yusuf, Bella Winda menggunakan satu mobil, melaju menuju panti yang lain. Tawa Bella dan Winda terdengar membuka kaca mobil, menghirup udara segar.
Tian merasakan keanehan di ban mobilnya langsung meminggirkan mobilnya, Bella menatap Tian binggung.
"Ada apa kak?"
"Ban mobil kita pecah." Tian langsung melihat sekeliling jalan hutan rimba, Tian meminta Yusuf menghubungi Wildan untuk menemui mereka.
"Yee, kita bisa foto-foto." Winda langsung keluar mobil, berjalan ke depan mobil.
Bella juga melangkah keluar, Yusuf juga keluar membantu Tian untuk mengganti ban mobil.
"Perempuan zaman sekarang, berada di tengah hutan bukannya takut, tapi tertawa bahagia." Tian menggelengkan kepalanya.
"Memangnya takut apa?" Yusuf menatap Tian.
"Orang hutan, bukan monyet, orang yang tinggal di hutan." Tian tersenyum menatap Yusuf.
"Orang pedalaman yang belum mengenal dunia luar, biasanya menggunakan pakaian daun, membawa tombak." Yusuf melihat sekeliling mereka.
"Jangan diperjelas Yusuf!" Tian menatap kesal.
Yusuf tertawa, melihat Bella dan Winda asik berfoto. Mobil dari arah yang berlawanan tiba, Tian langsung berdiri meminta Bella Winda mendekatinya.
"Vira, kak Karin cepat keluar kita berfoto terlebih dahulu." Winda menghadang mobil.
Wildan menekan klakson kuat, Winda langsung berlari memeluk Tian, Bella berdiri di depan mobil menatap Wildan.
Vira keluar tertawa melihat Winda yang kaget, Karin Karan juga menggelengkan kepalanya melihat twins W yang tidak akur.
Wildan keluar menatap tajam Winda, senyum Winda terlihat langsung memeluk kakaknya.
"Kamu tahu tidak bahaya berdiri di depan mobil?"
"Winda tahu itu mobilnya kak Wildan."
"Sejak kapan Wildan punya mobil." Tian melihat mobil di depan mereka.
"Sejak balik ke sini, dia hanya mempunyai satu mobil, jadul, tapi di dalamnya mewah." Karan tersenyum menunjukkan mobil Wildan.
"Bagaimana mobilnya kak?" Wildan melihat mobil Tian yang hampir selesai ganti ban.
Wildan membantu memperbaiki ban, Karan menjadi fotografer untuk keempat wanita yang berpose seperti model profesional.
Winda langsung berdiri di atas mobil Wildan, Vira juga naik sambil duduk, Bella juga naik, hanya Karin yang berdiri di bawah.
"Memang perempuan tidak punya otak!" Wildan menggelengkan kepalanya.
Tian tertawa merangkul Wildan yang menahan marah, Wildan menepuk tangannya. Kaca mobil langsung terbuka, Winda terjatuh, fender depan juga terbuka, Bella Vira terjatuh, mobil langsung berubah menjadi mobil sport.
__ADS_1
"Woww, Vira yang bawa mobil ini. Ayo kita masuk." Vira langsung mengambil ponselnya dari tangan Karan. Bella Winda langsung masuk berebutan ingin duduk di samping Vira.
"Kak Karin ayo masuk." Vira meminta Karin masuk.
Wildan hanya terdiam melihat mobilnya sudah pergi, langsung mengambil mobil Tian yang lain juga masuk. Tian hanya meminta Wildan sabar.
Aksi balapan terjadi antara Vira dan Wildan, Yusuf berpegangan kuat, Karan sampai ingin muntah merasakan goncangan mobil.
"Wildan, tahan emosi kamu, mereka bisa dalam bahaya, kamu mengalah dengan wanita." Tian meminta Wildan berhenti.
"Mereka keterlaluan kak, mobil itu dua tahun Wildan ciptakan. Seenaknya mereka menginjak dan menduduki mobil Wil." Wildan membunyikan klakson.
"Lebih cepat lagi Vira, ini mobil terkeren yang pernah Winda lihat."
"Bener Win, Vira menginginkan mobil ini."
"Kalian bertiga memiliki berapa nyawa?" Karin ketakutan melihat kecepatan Vira.
"Satu." Vira, Bella, Winda menjawab serempak sambil tertawa.
***
Mobil Vira sampai di Mansion, semuanya langsung berlari menghindari Wildan yang sudah pasti mengamuk.
Kasih kebinggungan melihat semuanya lari-larian menuju kamar, hanya Karin yang berjalan santai, memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Ada apa kak Karin?"
Wildan juga langsung berlari memanggil nama Vira, Bella dan Winda. Bima mendekati Wildan yang sedang marah.
"Ada apa Wil?" Bima meminta Wildan tenang, jangan terbawa emosi.
"Kesal melihat mereka Papi, jahilnya kelewatan."
"Sudah, kamu mandi terus sholat dulu. Kita makan malam bersama."
Wildan akhirnya menuruti ucapan Papinya, masuk kamar mandi dan melaksanakan shalat.
Seluruh keluarga sudah berkumpul, besok pagi semuanya akan kembali ke kediaman masing-masing. Erik Billa menunda untuk pulang, karena Erik masih harus menemukan orang yang tepat untuk menjaga Mansion, memberikan kepercayaan sepenuhnya.
Makan malam bersama terasa hangat, penuh canda dan tawa, sikap lucu Vira menjadi tontonan, ditambah lagi Winda yang tidak bisa diam.
"Kak Vi, kenapa anak kita modelnya seperti itu?" Reva gemas melihat putrinya.
"Iya Va, rasanya ingin kak Vi masukan kembali ke dalam perut." Viana menepuk jidat.
Bima menatap cucunya yang hanya diam, biasanya dia yang mengoceh mengalahkan Aunty Winda.
"Wira, kenapa kamu terlihat sedih?" Bima langsung memangku Wira.
__ADS_1
"Besok, Wira langsung pulang ke LN. Rasanya sedih Kakek, Wira berpisah dengan Raka, Rasih dan pacar Wira Bening."
Windy langsung tersedak, Stev menepuk pelan punggung Windy, memberikan minum. Merasa lucu dengan putranya yang sudah berpacaran.
"Stev, kenapa kalian tidak pindah saja ke sini?" Reva menatap Steven.
"Stev akan pikirkan lagi Mami, soalnya jika Stev pindah Mansion kosong."
"Jarak juga dekat Mam, Windy bisa pulang kapanpun kita ingin. Setiap hari bolak-balik juga boleh, walaupun kita jauh Windy akan selalu ada setiap perkumpulan keluarga, jangan merasa Windy sekeluarga merasa kesepian."
"Mami tahu, minta suami kamu membeli Jet pribadi seperti Tian."
"Boleh sayang, aku sudah mengecek beberapa Jet."
"Berani membelinya tidur di luar rumah, atau jual koleksi mobil." Windy menatap tajam.
"Iya, jangan di jual." Steven sangat menyayangi koleksi mobilnya.
"Winda boleh minta satu kak Stev?"
"Tidak."
"Kakak ipar pelit." Winda menatap sinis.
"Aunty kemarin meminjam mobil Daddy langsung masuk bengkel, terus mobil merah belum dipulangkan." Wira menatap Aunty Winda yang cemberut.
"Mobil Daddy Wira sudah seperti jualan mobil."
"Iya juga, nanti Wira akan memberikan kepada Aunty yang terbaru, bagus sekali Aunty, warnanya seperti pelangi."
"Benar ya awas bohong."
"Iya, Wira bisa dipegang ucapannya."
Steven dan Windy menahan tawa, Winda menjadi korban kejahilan Wira, karena mobil yang Wira janjikan, mobil-mobilan yang Wira masukan ke dalam beberapa warna cat dinding.
Wira langsung menyelesaikan makannya, menuju kamar Rasih dan Raka, juga Bening.
"Uncle Tama, pacar Wira menangis lagi?" Wira menatap Tama yang kebingungan.
"Pacar, maksudnya apa sayang?" Tama berjongkok melihat Wira.
"Uncle Tama tidak tahu artinya pacar, pasti Uncle jomblo, tidak tahu pacaran. Kasihan Uncle Tama." Wira menggelengkan kepalanya meninggalkan ruang makan.
Suara tawa Vira, Winda langsung pecah, semua orang langsung tertawa menatap Tama, Steven mengusap dada meminta maaf kepada Tama, tawa Tama juga terdengar mendengar ejekan Wira.
Bocah kecil yang tidak mengerti arti ucapannya, Windy menutup mulutnya menahan tawa ulah putranya.
Tama langsung melangkah ke dapur untuk membuat minum, Bunda meminta Tama makan bersama, tapi menolak dengan sopan, karena di luar masih banyak tamu.
__ADS_1
***