SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BUBUR AYAM


__ADS_3

Perasaan Vira sedikit tidak nyaman menunggu suaminya yang masih mandi, mengkhawatirkan Wildan yang memiliki banyak pekerjaan.


"Ayang, kurangi saja pekerjaan, Vira khawatir." Kepala Vira tertunduk, melihat ke arah bawah.


"Tenang saja sayang aku baik-baik saja." Wildan memeluk Vira yang sedang memeluk Virdan.


"Bagaimana keadaan kamu? ada yang dirasakan tidak? baby nya nakal tidak?" tangan Wildan mengusap perut Vira yang mulai membuncit, tersenyum melihat Virdan yang sedang meminum susu botol sambil berguling-guling.


"Aman pak bos, dia hanya membutuhkan kiss." Kepala Vira melihat ke arah perutnya Wildan, langsung mencium lama membuat Vira kegelian.


"Ayang, ayo ceritakan apa yang terjadi sampai bisa ada kecelakaan?"


Wildan duduk sambil memeluk istrinya, menceritakan kejadian saat dirinya pergi ke kantor.


Di jalanan yang sangat ramai, Wildan jalan santai karena tidak terlalu terburu-buru. Saat mendekati kantornya, seseorang berlari ke arah mobilnya dan menabrakkan diri.


Kecelakaan tidak bisa dihindari, tubuh wanita yang menabrak mobil terpental cukup jauh.


Wildan cukup terkejut, langsung keluar mobil mendekati korban yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan dia Wil?"


"Pingsan, kak Karan tolong urus dia ke rumah sakit. Wildan akan menghubungi kak Erik, dia tidak akan mati." Tatapan Wildan tajam, memperhatikan wajah gadis muda yang baru saja terlibat kecelakaan bersamanya.


Wildan datang terlambat ke rumah sakit, karena dia masih menyelesaikan pekerjaannya. Wanita yang menabraknya tidak akan bisa menutut, karena ada rekaman CCTV.


"Bagaimana keadaan dia kak Tama?"


"Sudah sadar hanya saja dia masih harus dirawat, kakinya terluka cukup parah." Tama mejelaskan detail kasus.


Wanita yang menabrak dirinya ke mobil Wildan sudah mengakui, jika dirinya memang sengaja mengakibatkan kecelakaan karena membutuhkan biaya, ibunya baru saja meninggal sedangkan rumahnya disita oleh bank untuk pelunasan hutang.


Karena tidak mempunyai biaya hidup, juga dia harus membayar biaya sekolah akhirnya memutuskan untuk mencelakai dirinya sendiri.


"Dia ingin bunuh diri?" Wildan kaget mendengarnya.


"Bukan Wil, dia tidak berpikir jika luka akan parah sehingga bisa meminta uang ganti rugi untuk pengobatan."


"Yakin dia jujur, zaman sekarang sulit membedakan yang membutuhkan atau berpura-pura butuh." Ravi melipat tangannya di dada langsung melangkah masuk ke dalam ruangan, hanya melihat sekilas lalu keluar.


"Bagaimana dengan kasusnya? dia anak di bawah umur. Usia dia masuk tujuh belas tahun." Tama meminta kepastian dari Wildan untuk membawa kasus ke meja hijau.


"Jika kita memberikan uang akan menjadi kebiasaan, tapi jika dia dihukum dunia semakin tidak adil untuknya. Wildan akan menyelidiki terlebih dahulu, jangan sampai dia melahirkan diri." Wildan dan Ravi memutuskan untuk pergi, membiarkan dia pulih total.

__ADS_1


Ravi meminta bantuan bawahan untuk mengecek identitas korban, mereka lanjut bekerja melupakan sejenak kasus kecelakaan.


Virdan menyudahi ceritanya, langsung memeluk putranya yang perlahan mulai tertidur.


"Siapa nama gadis itu Ayang?" Vira juga memeluk putranya yang sudah tidur.


"Tidak tahu sayang, lupa bertanya."


Vira menganggukkan kepalanya, berencana untuk menjenguk gadis remaja yang nasibnya kurang beruntung.


Wildan tidak melarang, tapi menunggu kabar dari Ravi terlebih dahulu jika wanita itu tidak berbohong jika dia memang sedang membutuhkan biaya.


"Kak Erik sudah mengkonfirmasi jika ibunya memang meninggal?"


"Tidak tahu sayang, kak Erik bukan penjaga kamar mayat. Dia sibuk memindahkan isi kepala orang." Wildan tertawa melihat Vira yang merasa ucapannya sangat lucu.


"Ayang sekarang sudah berubah seratus sembilan puluh sembilan derajat, ke mana pria kulkas? manusia dingin sekarang lebih hangat." Vira menggigit hidung suaminya.


"Aku seperti ini hanya untuk kamu dan anak-anak kita, menjamin kebahagiaan kalian." Kecupan mendarat di kening Vira.


"Begini hasilnya jika sudah jatuh cinta."


"Aku bukan hanya jatuh cinta Vira, tapi sudah menjadi satu bersama kamu. Istriku satu-satunya wanita yang berhak melihat betapa istimewanya aku, juga kekurangan yang dimiliki." Wildan mengaruk kepalanya, tidak mengerti dengan gombalan yang baru saja dia ucapkan.


Suara canda dan tawa terdengar, Vira dan Wildan saling bercerita rutinitas mereka, semua yang dilakukan sampai akhirnya keduanya tertidur.


***


Pagi-pagi Ravi sudah datang bertamu, sekalian mengecek keadaan Vira yang sedang ngidam. Ravi dipaksa untuk membuatkannya bubur, dengan terpaksa Ravi dari pagi sudah sibuk di dapur bersama istrinya Kasih.


"Kak Ravi sedang apa?" Wildan masih menggendong Virdan yang baru selesai mandi.


"Istri kamu sengaja ingin membuat aku sengsara." Ravi meletakan bubur, menaburkan ayam ke dalamnya.


"Aak, ayamnya di suir kecil bukannya satu paha masuk." Kasih menatap ayam yang sudah tercampur menjadi satu.


"Kenapa tidak mengatakan dari tadi?"


"Kenapa menyalahkan Kasih? Aak tidak bertanya terlebih dahulu, sudah tahu tidak paham, tapi sok tahu. Urus saja sendiri, sudah dibantu, tapi tidak tahu terima kasih." Tatapan Kasih tajam, langsung melangkah pergi.


"Sayang, aku tidak marah. Begini Wil, baru menikah romantis, punya anak saling menyemangati, setelahnya istri kamu lebih mirip nenek-nenek hobinya marah-marah." Ravi mengaruk kepalanya.


"Apa maksudnya Aak? Kasih mirip nenek-nenek."

__ADS_1


"Tidak sayang, aku yang mirip nenek, kamu sangat cantik apalagi jika sedang marah cantik sekali." Ravi membentuk love dengan tangannya.


Wildan menahan tawa, Ravi langsung mendudukkan Asih di kursi untuk sarapan. Mata Asih masih terpejam menunggu makanan datang untuk memberi makan cacing diperutnya.


Vira muncul bersama Raka, langsung duduk melihat bubur ayam buatkan kakaknya. Secara tiba-tiba Vira ingin sekali mencoba masakan kakaknya, meskipun Vira tahu Kakaknya tidak bisa masak.


Keluarga Ravi sarapan bersama di kediaman orangtua mereka, Raka yang memimpin doa makan.


Kasih menuangkan bubur ke piring Vira dan Asih, Wildan dan Raka menolak ingin memakan nasi goreng buatkan Kasih.


"Selamat makan semuanya?" Vira tersenyum langsung mencoba bubur.


"Papi makan dulu ya Virdan." Wildan tersenyum melihat Vira yang terlihat sangat menikmati masakan Ravi.


Mata Asih yang terpejam langsung terbuka, meletakan sendok yang memasukan makanan ke mulutnya.


"Bagaimana enak Vir?" Ravi menunggu penilaian Vira.


"Enak sekali, Vira suka. Besok ingin makan bubur kacang buatan Kak Erik, lalu ingin makan nasi goreng kak Tian, lalu makan salad buah buatan kak Ar." Vira terlihat bahagia, bahkan menambah.


"Pelan-pelan sayang." Wildan menyerahkan susu dan air putih


"Bagaimana rasa bubur ayam buatan Daddy Asih? kamu juga pasti sangat menyukainya." Ravi menatap putrinya yang mirip patung.


Kasih menyendok sedikit bubur yang ada di piring Asih, langsung cepat mengambil tisu mengeluarkan bubur dari mulutnya.


Cepat Kasih bangkit dari duduknya, mengendong putrinya Asih untuk ke kamar mandi. Suara Rasih muntah terdengar, Wildan dan Raka terheran-heran melihatnya.


"Wildan, hentikan Vira memakan bubur sebelum muntah. Rasanya sangat tidak enak." Kasih berteriak.


Wildan dan Ravi langsung mencicipi sedikit, spontan langsung meludah. Hanya Vira yang menikmati.


"Innalilahi makanan apa ini padahal sudah sesuai resep yang Kasih berikan." Ravi langsung meminta maid membuang semua bubur.


"Vira masih mau."


"Tidak boleh sayang, minum air putih sekarang." Wildan sangat khawatir.


Ravi langsung menggendong Putrinya yang masih terkejut.


"Masakan siapa itu? Kenapa rasanya mirip muntah cacing?"


***

__ADS_1


__ADS_2