
Tamparan kuat menghantam wajah Dewi, pukulan kuat membuat hidungnya menggeluarkan darah segar.
"Papa selalu tidak adil." Mata Dewi tajam penuh kebencian, dia sangat ingin membunuh Papanya.
Anak orang lain yang tidak ada hubungan darah selalu didukung, diutamakan dan dijadikan pimpinan hingga berkuasa.
Sedangkan dirinya putri kandung tidak pernah mendapatkan hak apapun, ibunya meninggal bunuh diri sedangkan Ayahnya sibuk bersama para wanita sampah.
"Daddy hanya ingin kamu hidup bebas Wi, ini permintaan terakhir ibu kamu untuk membebaskan kalian dari dunia hitam." Suara serak dan besar terdengar.
"Permintaan kamu bilang, ke mana kamu saat Mommy bunuh diri? surat yang tertinggal bukan tulisan mommy, tapi kak Delon."
Suara teriakan Dewi terdengar mengakui jika dia sudah membunuh lima istri Daddy-nya, para wanita bayaran yang Dewi singkirkan bekali-kali.
"Kamu bahkan membunuh kakak sendiri?"
"Benar, aku membunuhnya karena dia tidak menyayangi aku lagi, sibuk mengurus anak istrinya." Teriak Dewi semakin kuat sambil menangis.
Tatapan sedih juga terlihat menatap putrinya yang mengalami gangguan karena terlalu banyak melihat kekerasan, keputusan Delon untuk keluar dari dunia hitam demi Dewi.
Setelah ibu mereka meninggal, Delon menolak sepeserpun bantuan dari Daddy-nya. Bertahan sendiri untuk menghidupi dirinya juga Dewi.
Sampai akhirnya kesuksesan berhasil Delon gapai, adiknya juga hidup bebas penuh canda dan tawa.
Kebahagiaan Delon juga tiba, dia memilih wanita yang dicintainya menikah dan memiliki seorang anak. Istrinya yang baik hati sangat menyayangi Dewi juga putri angkat mereka.
Tidak ada yang tahu jika Dewi menyimpan rasa benci, darah kejam yang ada tubuhnya kembali mengalir.
Pernah melihat kematian ibunya secara langsung, juga melihat ayahnya membunuh dengan mudah menjadi sikap buas Dewi kembali.
Dewi melenyapkan kakaknya sendirian, dia tidak butuh keluarga karena harta bisa membuatnya berkuasa.
Satu impian Dewi yang belum tercapai bisa menyingkirkan Ayahnya sendirian, dia ingin melihat kematian ayahnya.
"Di mana suami kamu?"
"Lihatlah pemberitaan." Dewi tertawa melihat berita suaminya mati gantung diri, lebih tepatnya Dewi yang mengirim orang untuk membunuhnya.
Suara tawa ayah Dewi terdengar, dia juga mendapatkan kabar soal keadaan Feby yang masih koma, bahkan kakinya diamputasi.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan kamu?"
__ADS_1
"Bunuh Sherlin, dia tidak boleh hidup sendiri. Setelah Lin mati, Feby mati, Daddy mati, kalian semua mati, maka aku satu-satunya yang hidup." Satu tangan Dewi terlepas menembak siapapun yang ada di dekatnya.
Dewi langsung berlari, membawa satu mobil dia tidak memiliki banyak waktu, harus segera menyingkirkan Lin, Feby dan Ayahnya.
Satu granat di lemparkan, bangunan langsung meledak. Dewi berencana ingin meledakan hotel VIRDAN, tapi di sana bisa mengidentifikasi jika ada benda yang bisa meledak.
Kemampuan keluarga Bramasta dalam keamanan Dewi akui, mereka sebenarnya sangat pintar dan jenius.
"Siapa yang selanjutnya harus aku bunuh?"
Senyuman Dewi terlihat, mempercepat laju mobil langsung menuju rumah sakit untuk menyingkirkan Feby.
Tidak ada juga yang mengawasi jadi mudah baginya untuk bisa masuk, Dewi melangkah ke dalam melihat beberapa dokter keluar dari ruangan Feby.
Cukup lama Dewi di dalam toilet, keluar menggunakan baju kedokteran. Belati kecil ada ditangannya untuk menyobek jantung Feby.
Pintu kamar terbuka, Dewi mengusap kepala putrinya yang dia selamatkan dari wanita yang sudah merebut kekasihnya. Hidup Dewi berantakan karena ulah Ayah ibu Feby, dan menikahi lelaki bodoh.
"Kamu tidur yang tenang ya sayang, Mami akan mengirimkan kamu ke surga agar segera bertemu ibu ayah kamu yang sudah lebih dulu mati." Senyuman Dewi terlihat, mencium kening Feby sangat lembut.
Tangan Dewi terangkat tinggi langsung ingin menusuk dada, tapi terhenti saat mendengar suara tawa seseorang.
Senyuman seorang dokter muda terlihat, masih santai tidur di sofa memperhatikan ibu dan anak yang ingin pergi ke surga.
Wajah Nando kebingungan untuk menjelaskan, dia tidak mengerti dan mempersilahkan untuk lanjut.
"Siapa kamu?"
"Aku ... Dokter ... nama aku Ernando, Tante siapa? Dewi, Desi, Dina, Dini atau dinosaurus."
Nando sudah melihat banyak kejahatan, sekolah militer sampai menjadi dokter tentara termuda sejak usia muda membuatnya sudah muak menyelematkan banyak nyawa.
"Kamu masih muda, juga terlihat sangat pintar. Keluar dari sini jika masih ingin hidup." Dewi mendekati Nando yang menganggukkan kepalanya ingin pergi.
"Tante, aku hanya mampu menyelamatkan sekitar dua puluh persen, sisanya gagal. Aku melarikan diri karena muak dengan kekerasan, sesekali ingin melihat kasih sayang." Nando menutup pintu perlahan.
Tatapannya tajam melihat pintu, jika Papanya sampai tahu habis nyawanya. Apalagi kakaknya yang berpangkat sebagai Dokter pasti kecewa sekali jika dirinya menyelematkan diri sendiri.
"Dia perempuan jahat, juga menyakiti keluarga kami. Aku tidak harus menyelamatkannya, anggap saja karma." Nando langsung melangkah pergi.
"Tunggu, aku seorang dokter, dia pasien. Tugas dokter menyelamatkan pasien, berarti aku harus menolongnya." Langkah Nando balik lagi, memegang kenop pintu.
__ADS_1
Perasaan ragu kembali, tapi akhirnya mengambil keputusan untuk menolong. Nando membuka pintu, melihat Dewi menodongkan senjata di kepalanya.
"Silahkan dilanjutkan Tante, Nando hanya ingin memastikan." Pintu tertutup perlahan.
Ada lima dokter mendekat, mereka ingin mengecek atas perintah dokter utama.
"Kalian jangan masuk, nanti menyesal."
"Sebaiknya kamu istirahat Win."
"Win win, memangnya aku sabun Wings. Panggil Nando."
"Jangan kebanyakan gaya Erwin, pergi beristirahat sebelum saya memberitahu dokter Erik jika kamu ada di sini." Dokter yang menangani Feby langsung ingin membuka pintu.
Suara teriakan terdengar sampai berlarian terjatuh, suara tawa juga terdengar melihat enam dokter berlarian ketakutan.
"Sudah aku katakan, akhirnya takut sendiri." Tawa Nando terdengar terpingkal-pingkal.
Dewi menatap Nando mengarahkan senjatanya tepat di kepalanya, wajah Nando masih menahan tawa.
"Kita akhiri sampai di sini." Tendangan kuat menghantam tangan Dewi.
Senjata langsung jatuh terlempar, punggung Dewi mendapatkan suntikan. Tubuh Nando terlempar mendapatkan pukulan.
"Kenapa suntikan tidak berpengaruh? sialan suntikan vitamin." Suara tawa kembali terdengar.
"Erwin, kamu ternyata bagian dari keluarga Bramasta." Senjata diarahkan kepada Erwin yang selalu ceria.
"Bukan, kami punya keluarga sendiri. Aku juga lupa siapa nama keluarga kami, tapi Bramasta bertetangga dengan keluarga kami." Tubuh Erwin berdiri diam, mereka ada di mode serius.
"Kamu kenal Papa Ammar tidak? aku lupa siapa nama belakang papa. Jika ingat jangan lupa ..." Erwin berhasil menghindari tembakan.
Wajah cerianya langsung berubah, Erwin melemparkan ponselnya kuat sampai senjata jatuh, menyerang Dewi dan melayangkan pukulan kuat sampai Dewi jatuh pingsan.
"Sudah aku katakan, Erwin dan Ernando orang yang berbeda."
"Bedanya apa?" Erik menatap tajam adiknya.
***
DONE DUA BAB
__ADS_1
like coment ya