
Acara ijab Kabul sudah dimulai, tangisan haru terlihat saat Tama menyelesaikan ijab kabul menghalalkan Binar.
Jum sangat bahagia, memeluk erat Bening yang selalu tersenyum, melihat Bunda dan Ayahnya pertama kalinya cium kening. Bening juga melihat Bundanya mencium tangan Ayahnya, kedua orangtuanya sudah seperti orang tua lain yang selalu bersama.
"Bening bahagia?" Jum mencium pipi cucunya.
"Iya Nek Ju, Ning bahagia sekali."
Tian yang menjadi wali nikah meneteskan air matanya, melangkah menjauh melihat adiknya tersenyum bahagia, Bella menepuk pundak Tian, memberikan tisu.
"Kak Tian bahagia?" Bella berdiri di sisi Tian.
"Iya Bel, sekarang sudah selesai tugas kak Tian, Tama akan menjaganya, Billa juga sudah bahagia. Kak Tian hanya masih memiliki tugas menjaga kamu, sampai menemukan cinta sejati kamu." Tian menyentuh kepala Bella, mengelus rambutnya.
"Saat kak Tian sudah menikah, mungkin tidak masih menjaga Bella?"
"Bel, kamu adik yang paling aku sayangi, sayangnya kak Tian kepada kamu tidak pernah berkurang, kak Tian akan terus menjaga kamu."
"Terima kasih kak, jangan terlalu mengkhawatirkan Bella, kak Tian juga cepatlah menikah, mulailah bahagia, memiliki keluarga." Bella memeluk Tian, tangan Tian memeluk erat melepaskan Bella yang melangkah pergi.
Cinta tersenyum mendekati Tian menawarkan makanan, menggenggam tangan Tian untuk menemaninya makan, Bella tersenyum melihat Tian pergi merangkul Cinta.
"Semoga kalian bahagia kak, Bella juga bahagia." Bella langsung melangkah pergi sambil tersenyum.
Setetes air mata Winda menetes, dia berada di lantai atas melihat Bella dan Tian, menyentuh dadanya, ada rasa sakit, tapi mengapa Bella dan Tian baik-baik saja.
"Kenapa kamu menangis?" Yusuf mendekati Winda yang memegang dadanya.
"Sakit, perpisahan menyakitkan." Winda mengusap air matanya.
Yusuf tersenyum, mengerti ucapan Winda, tapi manusia hanya bisa berencana yang terbaik, tapi rencana Allah jauh lebih baik.
"Win, perpisahan memang menyakitkan, tapi jika takdir bersama, pergi sejauh manapun, dia akan tetap kembali."
"Jika sudah pergi, jangan pernah kembali. Jangan menerima dipermainkan oleh takdir." Winda langsung melangkah pergi.
Yusuf memejamkan mataku, mengingat uminya yang memilih meninggalkan cintanya, pergi bersama orang lain, bahkan mengabaikannya.
Takdir menyatukan, tapi dengan mudahnya mengubah rasa, memilih meninggalkan. Winda benar jika sudah berpisah sebaiknya jangan pernah kembali.
__ADS_1
***
Tama mengambil Bening dari gendongan Bisma, mereka akan ziarah ke desa tempat pemakaman kedua orang tua Tama.
Kepergian Bening bersama Ayah Bundanya dikawal puluhan pengawal atas perintah Bisma, karena besok masih ada pesta pernikahan.
"Ayah Bunda kami pergi dulu." Tama pamitan, Bening melambaikan tangannya.
Binar berjalan di belakang Tama dan Bening, tangan digenggam Tama. Langkah kaki Binar terhenti langsung berlari memeluk Jum erat, tangisan pecah. Binar bersujud mencium kaki Jum
"Bunda, maafkan Binar jika ada salah, ampuni Binar Bunda. Terima kasih Bunda sangat tulus kepada Binar, Binar tidak tahu cara membalas kebaikan Bunda, hanya kata terima kasih yang bisa Binar ucapkan, bertapa beruntung Binar dan Bening bertemu Bunda yang berhati malaikat." Binar memeluk erat Jum, air mata Jum juga menetes.
"Binar sayang, bukan hanya sebuah kata, Bunda sayang kamu dari hati Bunda, kamu sama seperti anak kandung Bunda, kamu jangan pernah ragu, Bunda tidak minta balasan kalian anak-anak Bunda, cukup kalian bahagia, hidup harmonis, sudah menjadi kebahagiaan Bunda." Jum mencium kening Binar.
"Ayah boleh peluk." Binar menatap Bisma, tangan Bisma meminta Binar mendekat.
Binar merasakan pelukan hangat seorang Ayah, Bisma mengusap kepala Binar.
"Sayang, ingat rumah ini juga tempat tinggal kamu, jangan pernah kamu tinggalkan. Jika Tama meneriaki kamu, membentak kamu, katakan kepada Ayah, Ayah siap mengambil kamu kembali."
Jum langsung memikul Bisma, Binar tertawa melihat Bunda dan Ayahnya yang sangat suka berdebat, tapi saling mencintai.
Binar memeluk Tian, mengucapkan terima kasih, sudah menggenggam tangannya, membelanya, menyayanginya.
Billa mengusap punggung Binar, memintanya untuk bahagia, jangan pernah merasakan sendiri, karena mereka semua keluarga Binar dan Bening.
"Mommy Viana terima kasih, Mami Reva terima kasih banyak, Ravi kasih terima kasih, Vira Winda terima kasih sudah menyelamatkan Bening, semuanya terima kasih. Papi Bima, Daddy Rama, Binar ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Binar bahagia sangat bahagia." Binar menundukkan kepalanya, meneteskan air matanya.
Tama mendekati Binar, merangkulnya menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih juga untuk semuanya.
Bening minta turun, menundukkan kepalanya mengikuti Bunda dan Ayahnya.
"Nek Ju, Vi, Va terima kasih. Semuanya terima kasih." Bening berjalan mencium tangan setiap orang, Jum menatap Bisma melihat Bening menciumi tangan mengatakan dia bahagia.
Semua orang menangis haru, juga sangat bahagia melihat kebahagiaan Bening.
"Ada apa? ini ada apa?kenapa?" Rasih muncul bersama Raka.
"Ada apa? lagi ada pesta menangis." Wira binggung.
__ADS_1
Bening memegangi tangan Wira menciumnya mengucapkan terima kasih, Raka menyembunyikan tangannya, Rasih juga menyembunyikan tangannya.
"Ning lebih tua berapa bulan, tidak boleh mencium tangan kita berdua. Iyakan kak aka?"
"Iya, tidak boleh."
"Ning hanya ingin meminta maaf dan mengatakan terima kasih."
"Ning tidak punya salah."
"Aka, meminta maaf bukan hanya untuk orang yang salah, kita tidak pernah tahu kapan kita pernah menyinggung perasaan. Meminta maaf tidak diwajibkan hanya untuk yang muda, tapi orang tua boleh minta maaf kepada yang muda jika ada salah. Kakek Wira selalu mengatakan maafkan aku Va, terima kasih sayang, maafkan kakek Wira, Mommy Daddy juga, selalu saling meminta maaf, bahkan Mommy meminta maaf kepada maid jika menegur rasa makanan."
"Seperti apa Mommy menegur Wira." Bima menatap cucu pertamanya.
"Mbak, maaf ya, sini sebentar. Coba dicicip, ini asin sekali, tuan tidak suka masakan asin, tolong diperbaiki lagi, terima kasih. Mbak, sini, maaf ya kebersihan tolong dijaga ini ada rambut. Tolong lebih hati-hati."
Reva tersenyum melihat Wira, Windy berhasil memberikan contoh yang baik, dia berhasil membesarkan Windy.
Wira menarik tangan Bening menyusun sesuai usia, Rasih berjalan meminta maaf, membuat semuanya tertawa.
"Ning pergi dulu, menyapa Kakek nenek Ning yang sudah kembali ke sisi Allah."
"Hati-hati Ning, cepat pulang, besok kita main." Asih melambaikan tangannya.
"tunggu, Ning belum peluk kakek. Ning juga belum cium adik Ning."
"Cepatlah pergi Bening, cepat pergi cepat pulang." Bella menatap tajam.
"Iya enti, cium enti Bel dulu." Bening mencium Bella, tubuh Bening digendong, Bella bahagia melihat Bening, sekarang sudah berat, tidak seperti saat pertama bertemu.
Bella memberikan Bening kepada Tama, Bella mencium kedua pipi Bening, kedua tangannya.
"Hati-hati kak Tama, kak Binar, kalian semua kawal dengan baik, sedikit saja penerus Bramasta terluka, habis kalian semua." Bella menatap tajam.
Billa mendekat, menciumi Bening, Tian merangkul Bella dan Billa mencium Bening.
Asih langsung memaksa Wildan untuk menggendongnya, Vira dan Winda mencium pipi Asih, Raka juga minta digendong, Wildan menggendong twins R.
Bibir Wira monyong, langsung memanjat punggung Wildan, memeluknya sambil tertawa.
__ADS_1
Ravi tersenyum merangkul Kasih, bahagia melihat semuanya bahagia.
***