
Kasih mengelus kepala Ravi, memintanya berhenti menangis. Ravi merasakan hampir gila. melihat semuanya.
"Sekarang rencana kamu apa? kamu ingin apakan anak dan istri kamu di luar sana, dia mengandung anak kamu." Kasih memelankan suaranya.
"Kak Tian yang menikahinya, biarkan kak Tian yang mengambil bayinya."
"Kamu tidak sayang."
"Kasihan, Aak hanya kasihan dengan masa depannya, tapi Aak tidak bersalah, dia melakukannya sendirian."
Kasih mencubit kuat Ravi, wajah Ravi meringis melihat kulitnya mengelupas. Kasih meminta hasil tes DNA, Ravi langsung mengeluarkan dari dompetnya memperlihatkan kepada Kasih.
"Kamu berani melakukan tes DNA, tidak takut keguguran."
"Memangnya bisa keguguran?" Ravi menatap Kasih yang mengerutkan keningnya.
"Erik tidak menceritakannya, bahkan kalian melupakan resikonya."
Ravi diam menatap Kasih, Kasih langsung berdiri mendengar suara Mommy Viana yang memangilnya. Ravi langsung berdiri melangkah keluar kamar, bertemu langsung dengan Vi, melihat Ravi cepat Viana memalingkan wajahnya.
"Ayo sayang, keluar dari rumah ini." Viana menarik tangan Kasih lembut.
"Mommy."
"Mommy kamu sudah mati!" Viana berteriak sambil menatap tajam.
"Viana." Rama menghela nafasnya, kasihan melihat Ravi yang menangis.
Viana melangkah keluar, Ravi langsung mengejar memeluk dari belakang erat. Viana meronta meminta dilepaskan, Viana merasakan kotor bersentuhan dengan Ravi.
"Maafkan Ravi Mommy, jangan bicara seperti itu. Masalah ini juga berat untuk Ravi, berapa banyak air mata yang Ravi keluar. Maafkan Ravi Mommy, jangan membuang Ravi seperti ini Mommy." Pelukan Ravi erat.
"Lepaskan, aku tidak memiliki putra."
"Mommy, boleh pukul Ravi, tapi jangan mengusir, membuang Ravi Mommy." Ravi melipatkan tangannya, memohon dihadapan Viana.
"Sudah Ravi, jangan menangis lagi. Kamu bisa tumbang jika terus melemah, Daddy akan terus
disisi kamu sampai masalah selesai." Rama menghapus air mata putra kesayangannya, memeluk Ravi agar tenang.
"Di mana wanita sialan yang beraninya mengganggu keluarga kita, kamu menyimpannya, atau membelinya rumah baru."
"Mommy, sudah cukup berikan Ravi dan Kasih ketenangan, jangan semakin dipojokan."
"Daddy kenapa selalu membela Ravi?" Viana teriak, Tian Erik langsung masuk.
__ADS_1
"Karena Daddy tidak ingin satu wanita bisa menghancurkan satu keluarga, Daddy tidak akan membiarkan Kasih Ravi bercerai."
"Ravi tidak mencintai Kasih."
"Cinta Mommy, sangat cinta, rasa cinta Ravi ...." Ravi terdiam melihat Viana pergi.
Kasih tersenyum mengikuti Viana, berjalan kaki menuju rumahnya. Viana melihat Kasih yang berjalan sambil tersenyum.
"Kamu tidak sakit hati, masih sempat tertawa." Viana menggelengkan kepalanya.
"Sakit banget Mom, tapi Kasih tidak akan membiarkannya dia menang berlarut-larut." Kasih tersenyum memeluk Viana.
"Mommy tidak bisa memaafkan Ravi, bisa-bisanya dia menghamili wanita lain. Ravi bodoh."
"Bukan anak Ravi Mommy, perempuan itu juga bukan pelaku utama. Ada seseorang yang pernah berurusan dengan Mommy di masa lalu."
Viana langsung berhenti berjalan, menatap Kasih tajam. Viana sudah yakin musuhnya semuanya sudah dihancurkan, Vi tidak memiliki musuh lagi. Jika ada pasti sudah tua.
"Siapa?"
"Orang kepercayaan Kasih sedang menyelidikinya, dulunya Ayahnya orang yang berkuasa, namanya Abi. Dia meninggal bunuh diri, memiliki seorang putri yang sekarang menjadi Dokter, dia yang sudah menyusun rencana."
"Abi sialan, meninggalkan keturunan masih saja meninggalkan masalah. Dia pasti bukan wanita sembarang Kasih, bisa memalsukan semua data." Viana menghela nafas.
"Jadi dia pindah target ke Ravi."
"Bukan hanya Ravi, Tian Erik juga sebenarnya sudah masuk jaring, tapi sampai detik ini belum menyadarinya."
"Astaghfirullah Al azim, kamu hati-hati Kasih, ini bocah berdua jika mengamuk kamu bisa menangis." Viana mengelus perut Kasih.
"Tenang saja Mommy, Kasih tidak turun langsung demi twins. Incaran awal Tian, tapi salah target menjadi Ravi, kesalahan mereka memberikan keuntungan, jika tahu Ravi menghamili wanita lain, keluarga akan selisih paham, konsentrasi semuanya buyar."
"Kasih, jangan bilang mereka mengincar perusahaan Tian, sekarang Tian sedang ikutan merasa bersalah."
"Mommy, perusahaan Tian hanya menunggu hari pindah tangan, sedangkan Erik bukan hanya terkecoh soal DNA, tapi sebentar lagi akan dituntut karena lalai terhadap pasien, sekitar 20 orang pasien Erik akan kehilangan nyawa."
"Mommy harus melakukan sesuatu, minta bantuan Wildan sayang."
"Tidak perlu Mommy, Kasih sudah melangkah menangkap mereka semua, kita tunggu saja tanggal mainnya. Saat mereka menghidupkan petasan, Kasih akan menghidupkan bom."
Viana tersenyum mencium pipi Kasih, Vi tidak salah pilih menantu, pasangan Ravi memang harus wanita kuat. Viana memanggil Reva dan Jum untuk makan bersama.
Wajah Jum tidak bersemangat, Reva juga lebih banyak diam. Viana menegur keduanya, menceritakan yang Kasih ucapkan.
Jum sampai melakukan sujud syukur, sangat mengkhawatirkan keadaan Tian. Air mata Jum menetes meluapkan kekesalan hatinya.
__ADS_1
"Maafkan Kasih Bunda."
"Kasih tidak salah sayang." Jum mencium tangan Kasih.
"Kasih hebat." Reva mencium kening Kasih, menghapus air matanya.
Kasih lega melihat senyuman kembali terlihat, canda tawa tri istri terdengar, sambil menghabiskan makanan, Kasih juga makan dengan lahap, hanya menunggu satu-persatu mainan muncul, melihat kehancuran suatu hal yang menyenangkan.
"Sayang bagaimana dengan perusahaan Tian?" Reva menatap serius, Tian memiliki perusahaan yang cukup besar.
"Karin sudah mengurusnya, tapi akan kita buat jatuh dulu mental Tian, baru kita kembalikan. Maafkan Kasih Bunda, terkadang harus merasakan jatuh baru sadar cara bertahan. Ravi sudah jatuh mentalnya, seharian menangis sudah mirip bayi."
"Bunda tidak masalah sayang, selama demi kebaikan."
"Kasih sedang mengajar para playboy untuk bertobat, jadi jika punya istri jaga diri dari banyaknya ulat di luar rumah, jika punya perusahaan jangan hanya melihat dalam, tapi luar juga. Sedangkan pangkat bisa jatuh hanya karena sebuah kelalaian."
"Kasih, kamu wanita berlian, Mami memberikan tepuk tangan sepuluh jari."
"Sayang, Bunda melihat kesedihan di mata Kasih. Maaf jika Bunda salah."
"Iya Bun, Kasih benci Ravi meninggalkan Kasih dari pagi, pulang malam. Dia juga tidak ingin berbagi, melihat Ravi melindungi wanita lain, hancur sekali hati Kasih." Kasih meneteskan air mata.
"Maafkan Ravi Kasih, kamu banyak terluka." Viana juga menangis.
"Bukan hanya Kasih, Mommy juga terluka. Maafkan Kasih Mommy."
Kasih memeluk Viana, ibu mertua terbaik yang tidak ada hentinya membela Kasih, sekalipun Kasih salah, Mommy masih mendukung Kasih. Mertua rasa sahabat.
Ponsel Kasih berbunyi, Butterfly mengirimkan foto seorang Dokter wanita yang sangat cantik. Kasih menatap tajam, wajah yang tidak asing bagi Kasih.
Viana juga menatap tajam, Reva Jum juga melihatnya, jantung Kasih berdegup kencang, menyentuh perutnya. Kasih menggelengkan kepalanya tidak percaya, jika dirinya juga terkecoh.
"Kasih, dia bukannya Dokter yang menangani ...." Viana melihat Kasih mengagukan kepalanya.
"Sayang, kamu harus periksa ke Dokter kandungan, jangan sampai terjadi sesuatu dengan kandungan kamu."
"Dokter sialan, akan aku buat kamu menyesal pernah menyentuhku." Kasih mencengkram kuat ponselnya..
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1