
Acara selamatan untuk kelahiran twins sudah diadakan sangat besar-besaran di villa keluarga, tidak pernah lupa menyantuni anak yatim, panti asuhan, juga panti jompo.
Acara juga dibuka secara umum, melibatkan ribuan orang baik dalam dan luar negeri. Penjagaan anak-anak juga sangat ketat.
Satu anak dikawal oleh tiga pengawal, belum lagi pengasuh pribadi. Meksipun dibuka secara umum, tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan twins V dan cucu yang lainnya.
Raka, Elang, Bintang, Virdan dan Arwin tidak terlihat batang hidungnya sedikitpun. Mereka sangat tidak menyukai keramaian dalam bentuk apapun.
Hanya berdiam diri di kamar sambil belajar dan bermain juga tidur, tidak ada alasan mereka untuk keluar kamar.
Berbeda dengan para wanita, jika twins V, Arum dan Bulan masih berada dalam gendongan orangtunya. Asih, Em dan Ning gentayangan berkeliling mencari kesenangan.
Mereka yang paling heboh juga sangat bersemangat, bisa melihat banyak orang luar, hal baru yang jarang sekali terjadi.
Meksipun dalam pengawasan, ketiga bocah bisa makan, main dan tertawa bersama banyak anak-anak lain yang datang bertamu.
Rasih yang paling heboh jika bertemu dengan anak bule, dia menyombongkan dirinya sudah bisa berbahasa luar meskipun banyak salahnya.
"Asih suka ramai seperti ini."
"Em juga, kita waktu lahir tidak seperti ini."
"Kamu tahu dari mana saat lahir ada tidaknya acara?" Ning mengerutkan keningnya.
"Kak Ning bodoh sekali, keluarga kita selalu mengabadikan moments apapun, buktinya tidak ada foto acara seheboh ini." Em menatap tajam.
Ravi langsung menarik tangan putrinya untuk segera kembali, Erik juga menggendong Em, sedangkan Ning sudah memeluk Pipinya.
Semuanya di minta untuk kembali, anak-anak membutuhkan istirahat dan dilarang berkeliaran takutnya berbahaya.
"Daddy, Asih masih ingin pesta."
"Tidak boleh sayang, pengunjung semakin ramai." Ravi membuka pintu memasukan anak-anak ke dalam satu ruangan untuk beristirahat.
"Wira, jaga adik-adik kamu, jangan lupa hubungi Daddy dan yang lainnya jika butuh sesuatu." Ravi menutup pintu untuk kembali ke acara pesta.
Seluruh keluarga berdiri menyambut tamu-tamu penting, Lin juga ada di antara keluarga yang lainnya.
Sejujurnya Lin merasa tidak nyaman, dia hanyalah putri angkat tapi dijadikan sangat spesial dan seperti putri kandung.
"Hai Sherlin." Sebuah uluran tangan menyapa Lin yang hanya menundukkan kepalanya tersenyum.
"Senyuman kamu mirip kak Stevie, bisa menenangkan hati."
"Maaf Om, jaga cara bicara anda. Aku Lin bukan Stevie." Wajah Lin langsung panik, melangkah pergi memeluk lengan Daddy-nya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Windy mengusap kepala Lin, wajahnya terlihat cemberut.
"Daddy, ada om-om mengatakan senyuman Lin mirip Stevie, apa dia berpikir Lin mirip istrinya? bukannya itu tidak sopan daddy?" tatapan Lin tajam melihat seseorang tertawa mendekati Steven.
"Hai Stev, siapa gadis cantik di samping kamu? kenapa tatapannya mirip kak Stevie? senyum cantik, kamu semakin cantik jika tersenyum."
"Jangan kurang ajar ya om, Lin bukan Stevie. Daddy lihat om tua ini, dia gangguin Lin."
"Berhentilah menggangu putriku Stevero, di mana istri dan anak-anak kamu?" Windy memukul Vero yang tertawa melihat Lin yang sudah tersebar kabarnya.
Steven mengenalkan Vero adik satu-satunya, juga memperkenalkan istrinya, juga putra putrinya Mouza, Mei dan Mar.
Lin langsung meminta maaf, dia tidak mengenal keluarga dari pihak Steven. Vero mengusap kepala Lin, menyukai Lin saat pandangan pertama.
"Uncle." Wira langsung memeluk Vero.
"Lama tidak pulang Wir, Maung sudah rindu kepada kamu?"
"Siapa Maung?" Lin menatap Wira yang tersenyum.
"Buaya, di rumah Uncle banyak binatang dan ada buaya yang sangat besar. Nanti saat kita pulang lihat Maung."
"Tidak mau, nanti Lin di makan Maung."
Senyuman Lin terlihat, langkah kakinya berkeliling melihat seluruh keluarga dari beberapa negara berdatangan.
"Kak Lin." Raka menggandeng tangannya.
"Kenapa Aka di sini? bukannya kalian dikurung demi keamanan."
"Kita semua diwajibkan keluar, ini pertama kalinya seluruh keluarga besar berkumpul." Aka tersenyum melihat Lin yang tidak mengenal keluarga.
Aka menunjuk ke arah keluarga kerajaan, raja adik dari Windy Bramasta. Bahkan sahabat Steven juga berdatangan bersama adiknya Vero dan keluarga besar.
Dari pihak Armand juga kedatangan keluarganya dari Paris, juga kehadirannya keluarga Arsen.
Anak cucu Arsen juga sudah berlarian, keluarga Reva, Septi, Jum juga berkumpul bersama saling menyapa dan tertawa.
Lin duduk melihat seluruh keluarga yang sangat ramai, air matanya menetes. Kesuksesan keluarga bukan hanya karena mereka hebat, tapi juga karena mereka menjaga silaturahmi.
Senyuman Lin terlihat, Asih sudah berlarian bersama cucu keluarga Arsen. Vira juga terlihat kesal dengan sepupunya dari keluarga Arsen yang masih mengagumi Wildan.
Tatapan Lin melihat seseorang di kursi roda, langsung berdiri dan mengikutinya. Langkah Lin terhenti di depan gerbang.
"Kak Feby, kakak baik-baik saja." Lin meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Lin? semoga kamu bahagia dalam keluarga baru kamu." Feby mengulurkan tangannya.
Senyuman dan air mata menjadi satu, Feby akan pergi bersama Derbi putra dari Delton. Mereka akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.
Ibunya sudah pergi lebih dulu bersama kakeknya, mungkin ibunya akan dikurung dan diasingkan.
"Lin, kak Feby datang meksipun terlambat setidaknya aku ingin meminta maaf setulus hatiku. Aku wanita jahat, masih memohon pengampunan dari kamu." Feby menangis histeris.
"Tidak kak, memohon ampun kepada Allah dan bertobatlah. Lin sudah memaafkan kakak, Lin maafkan kalian semua yang memisahkan Lin dari kedua orang tua Lin." Air mata Lin juga menetes menyentuh dadanya.
Feby mengusap perutnya, ini akan menjadi hukuman untuk dirinya. Lumpuh seumur hidup, dan mengandung tanpa suami.
"Kak, lahirkan dia cintailah dia. Jangan biarkan dia bernasib seperti Lin. Tolong jadikan dia anak yang paling beruntung lahir ke dunia ini."
Kepala Feby mengangguk, langsung meminta Derbi untuk membawanya pergi. Perlahan Feby dan Derbi hilang dalam kegelapan.
Lin langsung menangis histeris, berlutut meluapkan kesedihannya. Dirinya kehilangan seluruh keluarganya, ayah ibu, kakak, saudara semuanya akhirnya pergi dan meninggalkan dirinya sendirian.
Sebuah tangan menutup mata Lin, memintanya segera kembali ke dalam sebelum ada pemberitahuan jika putri utama menghilang.
"Ayo kita masuk, semuanya pasti mencari kamu."
"Kak Win, akhirnya Lin sama seperti anak-anak dulu." Lin menyentuh tangan Erwin.
"Kamu berbeda, Daddy kamu seorang pengacara hebat, mommy kamu seorang desainer hebat, adik kamu seorang miliader muda, dan kamu putri utama yang seperti emas akan selalu dijaga dari segala arah." Erwin tersenyum, meminta Lin menghapus air matanya.
Jika melihat Lin menangis, Erwin bisa terkena masalah.
***
DONE TIGA BAB
Kisah Lin sudah cukup singkat, semua pemain author keluarkan.
Jangan lupa juga baca ....
Mengejar cinta Om duren tamat
Bianka dan mafia kejam tamat
istri muda pak polisi
kawan atau lawan.
***
__ADS_1