SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MENGUBAH STATUS


__ADS_3

Semuanya terdiam, Wildan yang paling stres karena dituduh dengan sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan. Jangankan menyentuh wanita, menatap mata saja tidak pernah Wildan lakukan.


"Makanya Vir, makan itu dikontrol biar tidak hamil, lihat Billa perutnya rata karena makanannya sehat." Sasha menyerahkan baju ukuran Vira yang tertukar dengan Winda.


"Namanya juga lapar, jadinya aku harus makan."


"Memangnya kalau banyak makan bisa membuat hamil ya?" Billa yang kebinggungan akhirnya mengeluarkan suara.


"Tentu bisa, lihat perut Vira, isinya ayam, ikan, udang, cumi, daging, sayur, telur, buah, soda, dan banyak makanan lainnya." Winda tertawa ngakak.


"Lahirnya nanti ikan, cumi, udang, ayam, seram sekali." Billa sampai merinding.


Melihat para bocah tertawa, Viana langsung menjambak rambut Vira, Rama mengelus dadanya. Vira sudah menagis lagi, masuk ke dalam pelukan Daddy nya.


"Daddy Mommy jahat."


"Kamu yang jahil, kita semua takut Vir, kamu harta yang paling kami jaga, Kaka kamu gagal melindungi kamu, Daddy gagal menjaga Vira, gagal mendidik Vira, gagal menanamkan agama yang baik untuk Vira."


"Daddy, Vira ini Putrinya Rama Prasetya, tidak ada sembarang lelaki yang bisa menyentuh Vira kecuali dia." Vira memeluk Rama, yang sudah paham maksud dia yang Vira katakan.


Selesai membuat masalah, Vira memeluk Ravi dan menciumnya meminta maaf, mendekati Mami dan Bunda yang masih menjadi patung, mencium tangan Bima dan Bisma sambil meminta maaf.


"Kak Tian maafkan Vira."


"Candaan kamu tidak lucu."


"Kak Erik, maaf ya."


"Sebentar lagi wajah kak Erik bentol-bentol karena di sembur Wildan dengan air kumur-kumur."


Vira langsing ngakak tertawa, sedangkan Wildan menatap tajam penuh amarah. Vira tersenyum melihat Wildan yang sudah sangat menakutkan.


Tanpa menemui Wildan Vira langsung berlari, mencoba kembali bajunya. Semuanya menghela nafas, tidak ada Ravi Vira yang berulah.


"Wildan maaf ya sayang, kita semua memojokkan kamu." Rama menatap Wildan yang hanya tersenyum tipis, duduk di sofa kembali sambil berbaring.


"Susah biasa Daddy, Wildan selalu menjadi kambing hitam."


"Salah kamu sendiri tidak mengakui, langsung mau saja menerima Vira. Jangan-jangan kamu sudah pengen menikah?" Ravi menggoda Wildan yang sudah menggunakan earphone.


Kasih masih terdiam, dia takut melihat Ravi yang tadinya marah. Viana mengelus lengan Kasih memintanya untuk mengikuti Mommy mencoba baju.


"Reva, maafkan Vira ya, Wildan selalu menjadi korban."

__ADS_1


"Biarkan saja kak Vi, Vira calon menantu Bramasta, aku tidak mempermasalahkan karena Vira sudah menjadi putriku."


"Mommy, Ravi tadi marah menakutkan." Kasih duduk di kuris dengan wajahnya yang masih mengalir air mata.


"Maaf ya Kasih beginilah kelurga kami, hidup tidak tenang jika tidak ada keributan, kekacauan dan masalah. Kasarnya Ravi karena baginya, Vira, Winda, Bella dan Billa tanggung jawabnya, keempat wanita ini berlian untuk Ravi." Reva mengelus kepala Kasih yang akhirnya kembali tersenyum.


"Kamu gadis yang beruntung Kasih, Bunda yakin kamu akan hidup bahagia."


"Amin Bunda."


"Uncle Bima juga seorang playboy, tapi setelah dia jatuh cinta, keluarga prioritas utamanya. Ravi lebih lagi, sifat playboy dia hanya sebagai hiburan mencari jati diri, kamu harus percaya bisa membuat Ravi bahagia, dan merasa beruntung memiliki kamu."


"Bunda banyak pengalaman menghadapi playboy."


"Pastinya sayang, Tian juga seorang playboy sampai berkali-kali rumah kak Jum didatangi oleh perempuan mencari Tian."


"Terus apa yang Bunda lakukan?" Kasih langsung tertawa, membayangkan Bunda Jum yang polos harus menghadapi banyak jenis wanita.


"Bunda bilang saja, Tian sudah menikah."


"Siapa istrinya?"


"Bunda,"


"Sayang bagaimana dengan gaun pengganti kamu?"


"Sudah siap semua Mommy."


"Hati-hati sayang, nanti seperti Mami dulu baju pengantin sobek semua."


"Seriusan Mam, ya Allah syukurnya pernikahan Mami berlangsung dengan baik ya Mami."


"Di hari H banyak ujiannya sayang, bahkan saat ingin malam pertama langsung batal gara-gara Vira minta lahir." Reva tertawa bersama Viana dan Jum.


"Kasih ingin sekali memiliki persahabatan sampai hari tua seperti Mommy, Mami dan Bunda."


"Iya sayang kami juga tidak menyangka padahal dulu saat pertama bertemu Reva, kita main Cakar-cakaran, ketemu sama Jum polosnya masa Allah hanya Allah yang tahu batinnya bicara dengan Jum." Viana mengigat kembali kenangan lama.


"Tapi Mommy menyayangi Mami dan Bunda," Kasih tersenyum memeluk ibu mertuanya yang sangat baik hati.


"Tentu sayang, Bunda Jum orang yang selalu mendukung Mommy bahkan menjaga cinta Mommy, meninggalkan kehidupannya demi bertahan dan menunggu Mommy. Sedangkan Mami Reva bertahan menjaga perusahaan, menyingkirkan orang yang mendekati Daddy bahkan menunda mengejar cinta Om Duren." Viana meneteskan air matanya.


"Mommy jangan sedih, sekarang Mommy sudah bahagia. Perjuangkan Mommy, Mami dan Bunda sudah berbuah manis. Allah menguji kita dan Allah juga menyatukan kita."

__ADS_1


"Kasih, kamu wanita di dalam doa kami untuk putra kami Ravi. Kalian harus bahagia, saling percaya, apapun masalah cobalah bicarakan berdua." Reva memeluk Kasih, Jum juga memeluk semuanya.


"Jika nanti Mommy pergi, Mommy sudah bahagia karena memiliki kalian."


"Mommy harus sehat terus, lihat Kasih dan Ravi memiliki anak, kami memiliki cucu, pokoknya Mommy harus sehat."


"Amin ya Allah,"


Ravi mendengar semuanya percakapan di dalam kamar, air mata Ravi menetes. Mungkin kisah cintanya, rumah tangganya akan segera dimulai, Ravi masih harus menghitung jam sampai akhirnya berubah status menjadi seorang suami.


"Rav, aku yakin kamu bisa membina rumah tangga bahagia, kak Tian akan selalu mensupport kamu, sudah sangat saatnya kamu menemukan pelabuhan hati."


"Iya kak, Ravi yakin dalam hitungan jam Ravi akan mengubah status juga mengubah hidup Ravi. Bukan hanya tentang keluarga kita tapi tentang rumah tangga Ravi, bukan hanya menjaga Mommy dan Vira tapi menjaga pernikahan Ravi. Tanggung jawab yang lebih besar, sudah habis waktu untuk Ravi bermain-main dan mencari kepuasan, sudah saatnya Ravi berjalan beriringan, mengurangi ego."


"Sekarang kamu sudah dewasa, sedih juga kita tanpa kamu, tidak ada lagi yang mengajak kami mencuri dan membuat masalah." Tian mengusap matanya yang hampir meneteskan air mata.


"Kak Tian juga harus mempersiapkan diri, jangan sampai keduluan Wildan dan Erik. Ravi menunggu kalian mengukir rumah tangga."


"Pasti, tapi proses Kaka harus meminta restu keluarga sendiri, rasanya seperti berjalan di bara api."


"Jangan menyerah sebelum berjuang, ingat kita satu tidak pernah meninggalkan tapi saling mendukung."


Tian mengacak rambut Ravi, merangkul untuk menjauhi kamar menemui Erik yang sudah bertengkar dengan Salsa, bahkan Billa sudah menangis.


"Menurut kamu Erik pilih Billa atau Salsa?"


"Mau taruhan kak, kalau Ravi menang serahkan villa pribadi, tapi kalau Kaka yang menang Ravi menyerahkan kapal pesiar."


"Dosa."


"Sekali-kali."


"Ya sudah aku pilih Billa,"


"Berarti aku Salsa." Ravi tersenyum, dia dan Tian memang selalu taruhan dalam segala hal.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2